Minggu, 18 Februari 2018

Karyawan PT Gentong Gotri tidak Dapat Upah Selama 3 Tahun

SERANG, (KB).- Selama 3 tahun, karyawan PT Gentong Gotri yang memproduksi rokok Gentong tersebut tidak mendapatkan upah sesuai haknya masing-masing. Pabrik yang berada di wilayah Kota Serang dan memiliki 35 karyawan tersebut, sampai saat ini masih belum menyelesaikan masalah upah.

“Kasus ini sedang dilakukan pengawasan dan mediasi oleh kami. Sudah sejak 2015 semua karyawan yang aktif dan sudah pensiun tidak mendapatkan haknya sebagai tenaga kerja,” kata Mediator Industrial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Serang, Hendra Fatoni, saat ditemui Kabar Banten di Kantor Disnakertrans Kota Serang, Selasa (21/11/2017).

Para karyawan langsung mendatangi Disnakertrans Kota Serang untuk meminta menyelesaikan permasalahan tersebut. “Dengan jumlah karyawan 35 orang dan yang belum digaji terakhir sampai Juni 2017. Pegawai aktif sebanyak 15 pegawai dan nonaktif atau pensiun 18 orang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sistem pembayaran gaji yang dilakukan pada 2015 lalu juga tidak sesuai dengan sistem penerimaan upah tenaga kerja. Untuk gaji manajer di Oktober 2015 dibayarkan DP sebesar Rp 1 juta pada April 2016, DP kedua sebesar Rp 900.000 pada Mei 2016, dan dilunasi oleh perusahaan Rp 5 juta pada Juni 2016.

“Pembayaran upah atau gaji dilakukan hal yang sama terhadap karyawan-karyawannya. Terlebih lagi DP dibayarkan tidak berupa uang, tetapi berupa produk rokok yang harus dijual kembali oleh karyawan yang hasilnya sebagai gaji mereka. Kalau di Serang dan Cilegon kan bentuknya gudang distributor,” ucapnya.

Menurut dia, proses mediasi masih berjalan dan akan menunggu keputusan dari perusahaan hingga akhir 2017. Jika belum memberikan keputusan, maka mediator meminta perusahaan untuk segera memberikan PHK kepada pegawai.

“Sebelumnya, kasus ini memang sempat menjadi sorotan di pusat, Kemenaker langsung memonitoring dan mendapat tanggapan dari pihak perusahaan. Perusahaan berjanji akan membayarkan hak para pegawai aktif dan nonaktif dengan menjual aset yang dimiliki perusahaannya,” tuturnya.

Dari hasil penjelasan perusahaan, lanjut dia, bahwa penurunan omzet penjualan secara terus-menerus dari 2005 atau omzet penjualan tidak kurang dari 550 juta batang sampai dengan 2015 omzet penjualan kurang dari 100 juta batang, maka perusahaan mengalami kesulitan cash flow atau keuangan yang sangat besar.

Selain itu, masalah keterlambatan pembayaran gaji karyawan terhitung sejak Juli 2015 dengan berbagai kesulitan, perusahaan berupaya untuk memperkecil jumlah keterlambatan, namun dengan kondisi keuangan yang ada. “Rata-rata pegawainya berusia 40 tahun ke atas. Kami belum bisa membawa kasus ini ke pengadilan, karena masih menunggu pernyataan direksi,” katanya. (TM)***


Sekilas Info

Relokasi Pasar Baros Belum Ada Solusi

Pemerintah Kabupaten Serang masih belum memiliki solusi untuk menangani permasalahan relokasi pedagang di Pasar Baros. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *