Minggu, 18 November 2018

Karnaval Kerbau Jadi Daya Tarik Festival Seni Multatuli

LEBAK, (KB).- Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya bersama Wakil Bupati Ade Sumardi bersama ratusan warga ikut menyaksikan kemeriahan acara karnaval kerbau di Alun-alun Rangkasbitung, Ahad (9/9/2018). Karnaval hewan ternak kerbau yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lebak serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI itu merupakan rangkaian kegiatan Festival Seni Multatuli (FSM) yang dimulai sejak tanggal 6 September 2018 lalu.

Bahkan acara yang sangat langka serta baru pertama kali dilakukan di Lebak ini, mengakibatkan arus lalu lintas yang menuju ke Alun-alun Rangkasbitung diarahkan ke jalan-jalan alternatif. Wahyu, salah seorang warga Rangkasbitung mengatakan, karnaval kerbau di Rangkasbitung adalah acara yang baru pertama kali dilakukan. Selain itu, yang membuat ribuan masyarakat untuk menyaksikannya, karena karnaval kerbau tersebut terbilang unik.

“Meski hanya kerbau yang hampir setiap hari kami lihat, tetapi kalau jumlahnya banyak apalagi kerbau-kerbau itu mengenakan aksesoris yang dipasangi para pemiliknya, tentu sangat menghibur,” kata Wahyu.

Lucky, warga Rangkasbitung lainnya menambahkan, andai saja karnaval kerbau ini menjadi agenda tahunan, bukan tidak mungkin bisa menarik para wisatawan lokal maupun domestik untuk menyaksikannya. “Karena terbilang langka dan unik, saya sebagai masyarakat berharap agar setiap tahunnya diselenggarakan,” ucapnya.

Kepala Disdikbud Lebak, Wawan Ruswandi yang ditemui di panggung utama karnaval kerbau mengatakan, pihaknya tidak percaya jika acara karnaval kerbau bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi ribuan masyarakat untuk menyaksikannya. “Karena banyak permintaan untuk rutin dilakukan, maka saya akan berusaha agar acara karnaval dan seluruh acara di FSM ini akan rutin kami lakukan lagi,” kata Wawan Ruswandi.

Kadisdikbud Wawan menjelaskan, karnaval kerbau yang menjadi salah satu agenda kegiatan FSM untuk memberikan gambaran tentang kehidupan pilu masyaakat Lebak masa lalu yang harus merelakan nyawanya untuk mempertahankan kerbau miliknya.

”Pada kisah pilu drama Saijah dan Adinda pada bab 6 buku Max Havelaar of de Koffieveillingen der Nederlandsche Handelmaatschappij atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda karangan Multatuli, kerbau adalah harta paling berharga keluarga Saijah, yang di tangan bangsanya sendiri Saijah meregang nyawa ketika kerbau itu berpindah tangan secara paksa,” ujar Wawan. (Lugay)*


Sekilas Info

Truk Pengangkut Pasir Basah Kembali Berulah

LEBAK, (KB).- Sejumlah warga yang berada di ruas jalan Rangkasbitung-Cimarga, mengeluhkan dimulainya kembali aktivitas kendaraan truk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *