Rabu, 22 Agustus 2018

Kapolres: Kami Masih Mencari Bukti, Penyidik Dalami Kasus Pungli

SERANG, (KB).- Penyidik Satreskrim Polres Serang Kota mendalami kasus pungutan liar (pungli) dua oknum aparatur sipil negara (ASN) di UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Serang yang terkena operasi tangkap tangan (OTT), belum lama ini. “Kami masih cari bukti, karena bukti kemarin masih kecil. Kalau hasilnya cuma segitu, paling nanti ke Inspektorat (diserahkan). Karena, cuma Rp 1,9 juta (barang bukti),” kata Kapolres Serang Kota, AKBP Komarudin, Rabu (1/11/2017).

Ia mengatakan, pihaknya sedang mendalami kasus pungli tersebut. Apabila oknum guru SD, AS (58) dan Bendahara Kantor UPT Disdik Kecamatan Taktakan, EP telah melakukan pungli beberapa kali dan berlangsung lama, penyidik akan melanjutkan kasus tersebut ke proses pemidanaan. “Bergantung hasil yang kami dalami. Kalau perbuatannya sudah lama dan kami hitung cukup besar (uang pungli), walaupun itu bukan kerugian negara, efek jera harus dilakukan (proses pemidanaan),” ujarnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan penindakan terhadap oknum ASN diserahkan dari pihak kepolisian ke pemerintah daerah dalam hal tersebut, Inspektorat Kota Serang. Penyerahan tersebut, dapat dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan Pasal 16 Ayat 3.  Pasal tersebut menyatakan, bahwa selama tidak ada kerugian negara dalam sebuah perkara dapat dilakukan kesepakatan dalam penyelesaian sengketa kewenangan.

Sementara, di Pasal 20 Ayat 1 menyatakan, bahwa pengawasan terhadap penyalahgunaan wewenang dapat dilakukan aparat pengawasan intern pemerintah dalam hal tersebut, Inspektorat wilayah (Itwil). “Intinya kami masih terus mendalami. Kami masih cari bukti dan melengkapi keterangan saksi, karena kemarin ada yang belum diperiksa,” ucapnya.

Sebelumnya, Adang dan Edy ditangkap petugas Tim Saber Pungli Satreskrim Polres Serang Kota sekitar pukul 15.00 WIB hingga 16.00 di Kantor UPT Disdik Taktakan. Keduanya ditangkap petugas terkait pungli rekomendasi kredit Bank BJB.  Dalam kasus tersebut, Adang berperan sebagai mengumpulkan uang dari ASN yang mengajukan pinjaman, sedangkan Edy pemberi rekomendasi melalui tanda tangan persetujuannya dalam formulir bank. Terungkapnya kasus tersebut setelah petugas mendapat informasi dari masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti ke lapangan. (FI)***


Sekilas Info

LAZ Harfa Banten Gelar Sholat Ghaib dan Doa Bersama Untuk Korban Gempa Lombok

SERANG, (KB).- Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ Harfa) Banten menggelar sholat ghaib dan doa bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *