Rabu, 20 Februari 2019
Breaking News

Kakek Misja, Penyapu Makam Yang Hidup Sebatang Kara

Potret kemiskinan memang menjadi persoalan yang sulit untuk dientaskan. Terbatasnya pekerjaan dan usia yang semakin lanjut, membuat peluang untuk menang dalam persaingan ekonomi semakin kecil. Alhasil, berbagai cara dilakukan untuk bisa bertahan hidup, yang penting pekerjaan itu tak merugikan orang lain. Hidup sederhana bahkan jauh dari sederhana tetap diemban, asalkan semua itu berkah dari yang maha kuasa. Misja (64) Bin Salman, lelaki paruh baya asal Kampung Pabuaran, Desa Sentul, Kecamatan Kragilan ini sudah bertahun-tahun hidup sendiri di rumahnya yang amat sederhana. Rumah berdinding bilik ditambal terpal, beratap welit dan beralaskan tanah tersebut menjadi saksi bisu kehidupannya selama ini.

Saat memasuki rumahnya melalui pintu samping yang cukup sempit, tampak tak ada barang mewah di dalamnya. Hanya kumpulan pakaian bekas, tempat tidur dan juga peralatan memasak yang ada di sana. Rumahnya pun tampak gelap, padahal saat dikunjungi jarum jam masih menunjukan pukul 11.00 siang. Hal itu dikarenakan, kondisi rumahnya yang tak memiliki jendela atau pun ventilasi udara. Bahkan atap welitnya pun tampak sudah mengalami kebocoran di beberapa bagian. Saat hujan datang, dirinya harus sibuk dengan baskom atau pun ember untuk menampung butiran hujan tersebut.

Dirinya mengaku sudah puluhan tahun tinggal di rumah tersebut. Sejak pertama kali dibangun, rumahnya itu memang belum pernah direhab sama sekali. Menurut dia, rumah beserta tanahnya itu merupakan warisan dari orang tuanya. “Maklum orang enggak punya, orang enggak punya mah ya enggak punya,” ujarnya kepada Kabar Banten saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/10/2017). Dahulu, kenangnya, ia sempat memiliki seorang istri. Namun karena kondisi perekonomiannya yang demikian, membuat sang istri pun memilih kembali ke orang tuanya. Dari hasil pernikahannya itu dirinya pun tak memiliki buah hati. Sehingga saat masa tua, tak ada buah hati yang menemaninya. “Anak enggak punya, istri pulang ke rumah orang tuanya,” katanya.

Sehari-hari, pria yang akrab disapa mbah Misja itu, menghabiskan waktunya untuk membersihkan areal pemakaman yang tidak jauh dari tempatnya tinggal. Tak ada bayaran  rutin untuk sekedar memberi nilai materi pada pekerjaannya yang amat mulia itu. Namun pekerjaan itu tetap saja dilakukannya dengan ikhlas. Menurutnya, apa yang dilakukan itu yang terpenting memiliki berkah. “Sehari-hari nyapu kuburan, gak ada yang ngegaji. Paling kalau pas ada yang lewat suka ngasih uang, gula, kopi dari orang BTN (komplek perumahan),” tuturnya.

Tubuhnya yang sudah renta, dan kerap merasa sakit-sakitan membuatnya tak mampu lagi bekerja berat. Walau demikian, dirinya tak mau membiarkan tubuhnya hanya tertidur dan menunggu pemberian orang lain. Selain membersihkan makam, dirinya pun menjual kacang sangrai di rumahnya. Walau tak banyak yang membeli, namun hal itu tetap disyukurinya. Bahkan saat berkunjung ke rumahnya pun, kacang sangai itu menjadi sajian yang disuguhkannya dengan ramah. “Enggak banyak juga yang beli, kadang satu bulan enggak ada yang laku. Tapi kadang ada saja sebulan sekali mah yang ngasih dari warga,” katanya.

Di dekat areal pemakaman itu, terdapat tanah wakaf yang tidak terlalu luas ukurannya. Biasanya ia mencangkul di tanah tersebut dan dijadikannya lahan untuk sekedar bercocok tanam. Tanaman kacang-kacangan lah yang biasanya ditanam olehnya. Hasil dari bercocok tanamnya itu, tidak lantas di jualnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun terkadang dibagikan kepada warga sekitar. “Nanam kacang panjang, kalau panen dikasih ke orang lagi,” ucapnya. Walau demikian, dalam hati kecilnya dia berharap suatu saat rumahnya tersebut bisa mendapatkan perbaikan. Untuk saat ini, ia memang belum mampu melakukannya, bahkan untuk sekedar bermimpi pun dirinya masih merasa takut. “Sudah sering ada yang foto-foto juga, dari Jakarta juga ada,” katanya. (Dindin Hasanudin/KB)***


Sekilas Info

Wahidin Halim Usulkan Tiga Calon Sekda Banten

SERANG, (KB).- Gubernur Banten Wahidin Halim memastikan seleksi terbuka Jabatan Tinggi Pratama (JPT) Madya Sekda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *