Kabupaten Serang Dibidik Jadi Tempat Budidaya Tanaman Porang

Tanaman Porang.*

Wilayah Kabupaten Serang diproyeksikan untuk mulai menanam tanaman porang oleh Kementerian Pertanian. Oleh karena itu, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang sedang melakukan pendataan terkait keberadaan tanaman umbi tersebut.

Kepala bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengatakan, sebelumnya pihaknya sudah mendampingi kunjungan Deputi Produksi dan Pemasaran Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Victoria Simanungkalit, Asdep Pertanian dan Perkebunan dari Kementerian Koperasi dan UMKM Dewi Syarlen, Kadistan Provinsi Banten dan Kadis Koperasi dan UMKM Provinsi Banten untuk meninjau tanaman porang di Desa Sukalaba Kecamatan Gunung Sari, Jumat (21/2/2020).

Tindak lanjut dari kunjungan tersebut, Pemkab Serang diminta untuk mendata potensi porang di wilayahnya. “Kemenkop dan UMKM juga akan mempertemukan buyer exportir dengan petani Kabupaten Serang dan bantuan alat pengolahan tepung porang,” ujarnya kepada Kabar Banten, Selasa (25/2/2020).

Zaldi menjelaskan, budidaya tanaman porang ini akan menjadi program baru Kementerian Pertanian untuk diterapkan di Kabupaten Serang. Saat ini pihaknya sedang gencar melakukan sosialisasi ke tiap kecamatan terkait program yang ada di Distan.

“Potensi kita sudah didata, saat ini tanaman porang ada di Gunung Sari dan Mancak,” ucapnya.

Ia mengatakan, hasil identifikasi ke pembudidaya tanaman porang yakni Tb. Bachrudin di Gunung Sari, selama tiga tahun kebelakang hasil tanaman umbi tersebut cukup menjanjikan. Selain itu, harga pasarnya pun selalu meningkat.

Pada 2017 pasaran harga Rp 1.500 per kilogram, kemudian pada 2018 meningkat Rp 2.500-3.000 per kilogram. Bahkan 2019 mencapai Rp 4.000 per kilogram.

“Dengan produksi 20 ton per bulan dan luasan rata-rata 70 hektare (Ha). Kalau Mancak 86 hektare, pemasaran melalui pengepul dan untuk dijual ke sekitar Jawa,” katanya.

Untuk 2020 ini, kata dia, porang ditargetkan dikembangkan di delapan kecamatan. Yakni Kecamatan Mancak 15 ha, Cinangka 20 ha, Gunung Sari 25 ha, Kragilan 15 ha, Padarincang 15 ha, Jawilan 5 ha, Baros 10 ha, Anyer 10 ha.

“Itu hasil identifikasi sementara untuk program tahun 2020. Lahan pengembangan tersebut ada yang hanya penggarap tapi dipinjam untuk jangka waktu lama karena porang bisa dipanen umur tujuh bulan,” tuturnya.

Zaldi menuturkan, dalam rangka mewujudkan program tersebut, Kementerian Pertanian akan mendukung dengan memberikan bantuan berupa pupuk bokhasi sebesar Rp 1,1 juta per hektare. Sedangkan untuk bibit saat ini sudah banyak dikembangkan oleh para petani.

“Satu petani punya bibit 10.000-15.000. Insya Allah bulan April ini kita sudah bisa mulai tanam. Diharapkan bisa panen awal 2021,” tuturnya.

Untuk diketahui, tanaman porang atau dikenal dengan nama iles-iles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphohallus Muelleri. Manfaat dari tanaman porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air.

Selain itu juga untuk pembuatan lem dan jelly yang beberapa tahun terakhir sering diekspor ke Jepang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari portal Pertanian.go.id, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan karena punya peluang cukup besar untuk ekspor.

Dari catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang tahun 2018 mencapai 254 ton dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar.

Ekspor dilakukan ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam dan Australia. Tanaman ini masih banyak tumbuh di hutan dan belum banyak dibudidayakan. (Dindin Hasanudin)*

1 KOMENTAR

  1. kalo bisa minta bantuan bibit y pak. saya dari desa penamping ada lahan 2 H saya tertarik seekali dengan budidaya ini. lahan itu tida di manpaatkan. saya akan manpaatkan dengan porang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here