Minggu, 18 November 2018

Jurus Jitu Atasi Stres, Depresi dan Kecemasan Hidup

Pada 2030 mendatang diperkirakan penyakit nomor satu di dunia, adalah penyakit mental, depresi, mengalahi penyakit jantung atau kanker. Karena, memang orang yang memiliki gangguan pada kesehatan mentalnya akan sulit, bahkan tidak bisa mengerjakan aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Abdurrahman Usman mengatakan, konteks kemiskinan sungguh luar biasa, disertai kebutuhan yang juga meningkat pada era ini.

“Apabila kita tidak peduli dengan orang-orang miskin, maka kita sendiri yang akan terkena dampaknya. Demografi pertumbuhan di masyarakat berkembang dan siapa tahu lingkungan buruk itu akan hadir menyentuh lingkungan kami juga,” katanya dalam sambutan pada acara Kelas Rumah Konseling di Auditorium Surosowan Rumah Dunia, Ahad (21/10/2018).

Rumah Konseling Dompet Dhuafa hadir dengan harapan dapat menjadi sebuah gerakan untuk bagaimana mengatasi permasalahan sosial yang dialami masyarakat yang memerlukan. “Setelah mendapat ilmu mengenai konseling, maka yang perlu dilakukan, adalah mengaplikasikannya untuk diri kita dan tentu orang lain,” tuturnya.

Ilmuwan Psikologi yang juga Co-Founder Pijarpsikologi.org, Regisda Machdy Fuadhy menuturkan, stigma orang yang depresi di negara berkembang, adalah kurangnya kedekatan dengan Tuhan dan hal tersebut yang membuat orang yang mengalami depresi menjadi sakit hati. Mungkin niatnya ingin menolongnya, namun yang terjadi kami membuatnya menjauh.

“Orang yang tidak sehat mentalnya dibilang gila. Kasus pasung, adalah kegiatan menghakimi yang cukup ekstrem. Di Indonesia kasus ini ada sekitar 26.000 orang dari usia 16-20 tahun. Padahal, sakit mental bisa dikategorikan ke dalam berbagai jenis, seperti depresi, bipolar, kecemasan, adiksi, alzheimer, demensia, dan lain sebagainya yang perlu mendapat penanganan khusus layaknya orang yang sakit fisik,” ujarnya.

Dampak kesepian ternyata lebih buruk dari merokok 15 batang per hari, ucap dia, karena semua penyakit berakar dari pikiran. Bahkan, kata dia, 69 persen orang yang datang terus-menerus ke Puskemas bukanlah sakit fisik, melainkan sakit psikologis, stres yang ditumpuk di dalam pikirannya.

“Semua orang memiliki potensi untuk stres, bahkan komedian, orang yang paham agama, bukan berarti mereka sehat mentalnya. Stres adalah hal sederhana, namun yang bahaya bila stres ada di pikiran setiap hari,” ujarnya.

Untuk mengatasi stres, depresi, dan kegelisahan dalam hidup yang perlu dilakukan mulailah untuk memaafkan diri sendiri, tutur dia, percaya, bahwa diri kita mampu menggapai impian, menjaga tutur kata kepada orang lain, nikmati hidup saat ini, bukan masa depan yang kita tidak tahu bagaimana kondisinya.

Lalu,untuk menjaga hati orang lain, berhentilah menghakiminya, karena yang masih men-judge orang lain pertanda agamanya masih tentang hukum dan neraka saja, orang yang beragama dengan baik, justru dia tidak memiliki ruang sedikit pun untuk membenci dan menghakimi orang lain. (Besta/MH)*


Sekilas Info

Kegiatan Reses Dewan Diawasi

SERANG, (KB).- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Banten menerjunkan petugas untuk mengawasi kegiatan reses, kegiatan tersebut rawan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *