Jumlah Penduduk dan ODP Covid-19 Melonjak, Perantau Bergerak Pulang

Warga mencuci tangan di tempat cuci tangan umum di Alun-alun Kota Serang, Kamis (2/4/2020). Pemerintah setempat menyediakan sejumlah tempat cuci tangan umum di beberapa titik ruang publik agar dapat digunakan masyarakat untuk mencuci tangan guna meminimalisasi penyebaran Covid-19.*

SERANG, (KB).- Warga Banten yang merantau mulai bergerak pulang. Selain menimbulkan lonjakan penduduk yang mengancam stok pangan, arus mudik di tengah pandemi corona virus atau Covid-19 tersebut juga memicu orang dalam pengawasan (ODP) Covid-19 meningkat.

Di Kabupaten Serang misalnya, lonjakan penduduk terjadi di 22 kecamatan. Selama wabah virus corona, sebanyak 11 ribu orang pulang kampung. Hal itu diketahui dari pendataan kebutuhan dan stok pangan yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang.

Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo mengatakan, pihaknya menyikapi surat kementerian dalam negeri terkait permintaan data mengenai kejadian luar biasa di Kabupaten Serang yakni Covid 19. Dari pendataan itu, terjadi beberapa lonjakan yang di antaranya jumlah penduduk dari normalnya sekitar 1,5 juta orang.

“Kini di 22 kecamatan terjadi lonjakan sekitar 11 ribu orang yang datang. Nah itu kan perlu kita persiapkan ketersediaan pangannya,” ujarnya kepada Kabar Banten saat ditemui di lingkungan Pemkab Serang usai rapat koordinasi ketahanan pangan di ruang rapat Brigjen Syamun, Kamis (2/4/2020).

Untuk mengantisipasi kejadian wabah ini dalam waktu yang panjang, perlu diprediksi berapa kebutuhan dan stok pangan yang tersedia. Jika stok lebih besar dari kebutuhan, maka masyarakat masih aman.

“Yang dikhawatirkan stok kurang, kebutuhan banyak. Kita antisipasi persiapan apa, apakah kita ada operasi pasar, datangkan dari luar, makanya data itu kita kumpulkan perkiraan stok ke depan seperti apa,” ucapnya.

Ia berharap kejadian wabah ini bisa segera berakhir. Namun demikian, dirinya memastikan stok pangan untuk satu bulan ini masih aman baik pangan pokok berupa beras juga sayur mayur dan ikan. Kemudian untuk cadangan beras pemerintah pun saat ini masih cukup banyak.

“Cadangan beras pemerintah kan kita ada dua, satu di Bulog ada 100 ton, dari di Pemda 210 ton gabah kalau berasnya sekitar 126 ton,” katanya.

Cadangan pangan tersebut, kata dia, dipersiapkan untuk jangka waktu satu tahun ke depan. Namun cadangan itu kemungkinan akan bisa dikeluarkan dalam waktu dekat dengan adanya kejadian luar biasa Covid-19 yang sudah dinyatakan Pemerintah pusat juga Pemda.

“Untuk itu bisa dikeluarkan, yang terdepan cadangan beras pemerintah yang ada di Bulog dulu. Sudah habis baru cadangan beras Pemda,” tuturnya.

Cukup 5 bulan

Kepala Bulog Sub Divre Serang Eko Yudi Miranto mengatakan, untuk stok beras di Bulog saat ini ada sekitar 5 ribu ton. Jumlah itu diyakini cukup untuk lima bulan ke depan. Untuk pendistribusiannya, kata Eko, di lapangan pihaknya tetap bisa melakukan Operasi Pasar (OP) dengan cara dikirim langsung ke mitra atau kios.

Sedangkan untuk Operasi Pasar on the spot ada pembatasan dari satgas pangan yang melarang adanya kerumunan. Disinggung soal harga, Eko mengatakan, saat ini semua masih stabil dan berada di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi).

“Kalau penugasan ke Bulog baru beras sementara masih stabil. Kalau lain-lain belum ada penugasan khusus untuk Bulog. Beras malah cenderung menurun karena beberapa daerah mulai panen,” tuturnya.

ODP dan PDP meningkat

Pergerakan warga yang mudik membuat orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di Kabupaten Pandeglang meningkat. Namun sampai saat ini belum ada warga yang positif corona.

Berdasarkan data yang dihimpun dari peta identifikasi pematauan penanganan Covid-19 per tanggal 2 April 2020, terdapat 685 orang dalam kategori ODP dengan rincian 601 dilakukan pemantauan dan 84 sembuh. Sementara 11 orang dalam kategori PDP, dengan rincian 6 orang dipantau (di rumah) 2 orang dirawat dan 3 orang meninggal.

Juru bicara penanganan Covid-19 Kabupaten Pandeglang, Ahmad Sulaeman mengatakan, untuk perkembangan saat ini terdapat peningkatan, karena ada beberapa warga yang bekerja di luar kota melaksanakan mudik dini.

”Kalau untuk PDP mungkin belum ada peningkatan. Kalau untuk data ODP itu mengalami peningkatan, ada 30 orang yang termasuk dalam ODP baru. Kalau untuk PDP yang dirawat cuma satu, yang lainnya sudah diperbolehkan pulang dan melakukan karantina mandiri, tapi akan dilakukan pemantauan ulang untuk rapid test,” ucapnya saat dihubungi melalui telepon selularnya, Kamis (2/4/2020).

Untuk upaya saat ini, kata dia, dilakukan dengan memeriksa beberapa pendatang dari luar kota di tiga titik, seperti di Terminal Kadu Banen, Terminal Carita dan di Perbatasan Gayam.

”Untuk saat ini kami memang melakukan pemeriksaan di beberapa titik, kemarin saya dapat informasi ada bus yang membawa santri dari luar daerah masuk ke Pandeglang, tapi saya belum berani ekspose karena ada warga Kabupaten Lebaknya, kalau saya kasih data nanti bahaya,” katanya.

Mendekati bulan suci Ramadan, dia memprediksi akan banyak pekerja dari luar daerah yang mudik. Namun pihaknya menyarankan untuk tidak mudik, apabila tidak sedang dalam darurat.

”Kalau pendatang dari luar daerah, atau mungkin yang sedang bekerja di luar Kabupaten Pandeglang apabila pulang diharapkan memeriksa kesehatan,” ujarnya.

Pemprov kesulitan

Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, warga yang mudik dari dalam dan luar negeri memicu peningkatan jumlah orang dalam pemantauan (ODP) terkait virus corona. Hingga Kamis (2/4/2020) jumlah ODP di Provinsi Banten sudah mencapai 2.912 orang.

“Kami kesulitan dalam rangka karantina, meski sudah menyiapkan hingga 250 tempat tidur di RSUD Banten yang telah disiapkan menjadi rumah sakit khusus pasien Covid-19, namun dalam perkembangannya masih belum tercukupi,” katanya usai saat teleconference rapat terbatas antisipasi mudik yang dipimpin langsung Presiden RI Joko Widodo melalui siaran pers yang diterima wartawan, Kamis (2/4/2020).

Saat ini, pihaknya terus meningkatkan fasilitas dan pelayanan RSUD Banten untuk antisipasi melonjaknya pasien. Ia menyarankan agar dalam situasi saat ini semua pihaknya tak menyebarkan informasi yang bisa membuat masyarakat semakin panik.

“Dalam kondisi seperti ini jangan saling cari kelemahan, tidak hanya di Banten semua daerah juga gagap dan panik, jangan jadikan suasana menjadi tidak kondusif, kurangi komentar- komentar yang tidak perlu. Dan harus selektif dalam menginformasikan sesuatu,” ujarnya.

Terkait mudik, kata dia, Banten relatif tak memiliki masalah terkait dengan warga mudik. Sebab, banyak warga Banten yang setiap hari pulang pergi DKI Jakarta-Banten.

“Banten relatif tidak memiliki masalah. Dikarenakan masyarakat Banten melakukan aktivitas hilir mudik Jakarta – Banten dalam kesehariannya,” ucapnya.

Untuk antisipasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), ia mengatakan, cadangan pangan di Banten masih aman dalam waktu tiga bulan ke depan. Hal itu seiring telah dimulainya masa musim panen di Banten.

“Karena itu, untuk tiga bulan ke depan persediaan beras di Banten sudah mencukupi. Dan harga kebutuhan pokok lainnya stabil dan masih terkendali,” tuturnya.

Data Dinas Pertanian Provinsi Banten, pada bulan Maret 2020 produksi gabah di Banten mencapai 255.342 ton dan jagung pipilan mencapai 206 ton. Pada bulan April 2020, diperkirakan akan terjadi puncak musim panen dengan luasan lahan panen padi mencapai 74.332 hektare dengan produksi gabah mencapai 384.444 ton.

Sementara untuk luasan lahan panen jagung mencapai 4.189 hektare dengan produksi mencapai 17.146 ton jagung pipilan kering. Musim Panen ini akan berlanjut hingga bulan Mei 2020.

Provinsi Banten memiliki empat wilayah utama pengembangan budidaya tanaman padi atau lumbung padi Banten. Tersebar Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here