Jumlah Akseptor KB di Kota Cilegon Mencapai Target

CILEGON, (KB).- Jumlah akseptor Keluarga Berencana (KB) di Kota Cilegon meningkat. Berdasarkan data yang dirilis 8 kecamatan, hasil pelayanan alat kontrasepsi gratis mencapai 110 akseptor.

“Dari target yang dicanangkan, yakni 100 akseptor, syukur alhamdullilah kami mencapai target dengan jumlah 11o akseptor. Artinya, di sini masyarakat sudah sadar akan pentingnya melakukan pemasangan alat kontrasepsi sebagai salah satu pengendali atau pembatas untuk jarak kelahiran anak,” kata Kepala DP3AKB Kota Cilegon Heni Anita Susila seusai mengunjungi Puskesmas Citangkil, Jumat (13/9/2019).

Capaian target tersebut, menurut dia, merupakan kerja keras semua tim dalam menyukseskan program dari pemerintah tentang pentingnya memasang alat kontrasepsi, sehingga masyarakat juga bisa hidup nyaman dan tenang.

“Banyak sekali manfaatnya untuk menjadi akseptor KB, salah satunya, adalah menjaga jarak kelahiran anak dan juga bermanfaat mengurangi risiko penyakit hingga gangguan mental,” ujarnya.

Ia menuturkan, dalam rangka Hari Kontrasepsi Sedunia, DP3AKB Kota Cilegon melakukan roadshow di 8 kecamatan untuk menggelar pelayanan kontrasepsi secara gratis.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada DP3AKB Kota Cilegon, Bakhri menuturkan, program KB adalah bagian yang terpadu dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual,dan sosial budaya penduduk Indonesia, agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional.

“Karena keluarga berencana adalah suatu program pemerintah yang dirancang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk, maka dari itu program KB ini diharapkan menerima norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) yang berorientasi pada pertumbuhan yang seimbang,” ucapnya.

Di Kota Cilegon, tutur dia, Gerakan Keluarga Berencana Nasional telah dianggap masyarakat sebagai program yang berhasil menurunkan angka kelahiran yang bermakna. Perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan, yaitu dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi.

“Kegiatan pemasangan alat kontrasepsi ini, adalah meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka mewujudkan NKKBS (normal keluarga kecil bahagiasejahtera) yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan penduduk,” katanya. (HS)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here