Senin, 25 Juni 2018

Jepang Tertarik dengan PMI Kota Cilegon

PALANG Merah Indonesia (PMI) Kota Cilegon, memiliki daya tarik bagi Japanese Red Cross Society (JRCS) atau Palang Merah Jepang. Buktinya, sampai dua kali perwakilan JRCS berkunjung ke markas PMI Kota Cilegon. Kali ini, PMI Cilegon menerima kunjungan dari Mr. Jibiki Yasuhito, Ph.D, Asisten Profesor dari Tohoku University Jepang – IRIDeS (International Research Institute of Disaster Science), didampingi dua mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), Kamis (8/2/2018).

Sebelumnya tiga orang perwakilan Palang Merah Jepang, Mr. Yasuyuki Yosikawa, Mrs. Ayaka Shigemori dan Mr. Yasuo Harada, berkunjung ke Markas PMI Kota Cilegon dan tempat pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat (PSTBM) Kelurahan Samangraya, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kedatangan rombongan JRCS, diterima Wakil Ketua PMI Kota Cilegon, Erwin Harahap, serta sejumlah pengurus lainnya. Kepada sejumlah awak media, Erwin mengatakan, maksud kunjungan asisten profesor tersebut adalah untuk menjalin kerja sama dengan PMI Kota Cilegon dalam kegiatan Survei Persepsi dan Pengetahuan Masyarakat Mengenai Disaster Complex. “Ini sebuah kehormatan bagi kami dimana dalam waktu seminggu ini mendapat kunjungan dari negara Jepang yang ingin mengetahui tentang PSTBM dan Disaster Complex,” katanya.

Ia menuturkan, sampai saat ini kemampuan PMI Cilegon untuk melakukan penanganan atau penanggulangan terhadap suatu bencana sudah ideal. Sumber daya manusia PMI Kota Cilegon dalam mengenali, memahami, dan menyikapi bahaya fenomena yang berisiko itulah yang mengakibatkan besaran risiko yang mengena pada korban bencana berbeda. Semakin kami mengenali dan memahami fenomena bahaya itu dengan baik, maka kami semakin dapat menyikapinya dengan lebih baik.

Sikap dan tanggap yang didasarkan atas pengenalan dan pemahaman yang baik akan dapat memperkecil risiko bencana yang mengena pada suatu wilayah. Bencana atau disaster merupakan suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu komunitas sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan komunitas tersebut untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka.

Penanganan manajemen bencana adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengendalikan bencana dan keadaan daruat, sekaligus memberikan kerangka kerja untuk menolong masyarakat dalam keadaan berisiko tinggi agar dapat menghindari ataupun pulih dari dampak bencana.

“Tujuannya adalah mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi maupun jiwa yang dialami oleh perorangan, masyarakat atau negara. Bisa juga mengurangi penderitaan korban bencana, bahkan selain itu juga para petugas penanganan bencana diharapkan dapat mempercepat pemulihan,” tuturnya. Kegiatan itu akan dimulai pekan depan dengan fokus wilayah Kelurahan Lebakgede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Dipilihnya daerah tersebut, kata dia, merupakan yang dekat dengan pantai, sehingga semua penanganan dapat diantisipasi. (Himawan Sutanto)***


Sekilas Info

Demi Landmark, Perkim Cilegon Rogoh Rp 96 Juta

DINAS Pertamanan dan Permukiman (Perkim) Cilegon terpaksa harus mengeluarkan anggaran Rp 96 juta untuk perbaikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *