Jemaah Haji Indonesia ”Surga” bagi Pedagang Arab

Pusat oleh-oleh dan pasar di Kota Mekkah selalu dipadati jemaah haji Indonesia. Jemaah haji Indonesia dikenal sebagai jemaah haji yang suka berbelanja oleh-oleh untuk dibawa saat pulang ke tanah air.*

Keberadaan jemaah haji Indonesia pada setiap musim haji merupakan yang terbesar di dunia. Musim haji tahun 2019 atau 1440 Hijriyah, jumlah jemaah haji Indonesia mencapai 231.000 orang.

Dengan jumlah yang hampir mencapai seperempat juta orang tersebut sangat menguntungkan bagi pedagang di Arab Saudi baik di Kota Mekkah maupun Kota Madinah.

“Mari lihat-lihat dulu… murah-murah,” demikian ucapan pedagang Arab jika melihat jemaah Indonesia melintas depan tokonya. Saking seringnya, hampir semua pedagang Arab sudah bisa sedikit berbahasa Indonesia seperti kata murah, lihat, masuk, sepuluh riyal, dan kata lain yang sudah familiar saat tawar menawar dengan jemaah Indonesia.

Pusat-pusat perbelanjaan di Kota Mekkah yakni di Zamzam Tower depan Masjidil Haram. Sedangkan pusat perbelanjaan pasar pakaian yakni di Ja’fariyah. Pasar Ja’fariyah dianggap sebagai Pasar Tanah Abang di Kota Mekkah. Selain itu, ada juga di Pasar Kakiyah.

Dua pasar ini diburu jemaah haji bagi yang ingin membeli oleh-oleh haji dalam jumlah yang banyak. Seperti peci haji merek Turki hanya dijual 1 riyal dan peci haji merek Bugis dijual 15 riyal dan sajadah Turki 10 riyal. Untuk baju gamis rata-rata dijual 15-20 riyal, jam tangan Arab rata-rata 10-15 riyal dan emas Arab 24 karat 150 riyal per gram. Bagi yang butuh obat kuat, juga dijajakan batu hajar jahanam, maupun kadal mesir.

Bagi jemaah haji yang tidak ingin repot, tidak usah pusing karena di samping pemondokan, ada toko yang menjual sajadah, sorban, tasbih, baju muslimah dan sebagainya. Demikian pula di Terminal Syib Amir berjajar puluhan pedagang. Belum lagi setiap pagi dan sore banyak pedagang menjajakkan dagangannya di depan pemondokan.

“Bagi saya sih lebih enak belanja di Ja’fariyah banyak pilihannya. Asal pintar nawar saja. Buktinya saya dapat bonus cincin perak karena membawa teman membeli di tokonya,” kata Nani Nurhani yang berprofesi sebagai perawat tersebut.

Lain halnya dilakukan H. Masduki. Ia memilih membeli oleh-oleh haji di toko samping pemondokan. “Saya sih beli dekat pemondokan saja. Atau beli di pasar musiman, pagi atau sore,” ucapnya.

Namun dia memberi tips kepada jemaah haji jika berbelanja di Pasar Ja’fariyah. “Ada satu trik menawar yakni bilang sebagai muallim atau guru ngaji, pasti dikasih murah dan dikasih bonus,” ucapnya mengenang pengalaman haji tahun 2009 lalu. Menurut dia, jemaah haji Indonesia dikenal sebagai pangsa pasar menjanjikan pedagang Arab.

Jemaah haji Indonesia asal Banten H. Dadang Iskandar mengatakan, jemaah haji Indonesia merupakan “surga” bagi pedagang Arab. “Jemaah haji Indonesia dikenal doyan belanja. Maka pedagang Arab sangat familiar dengan jemaah hajj Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan, dengan jumlah 231.000 orang sekitar 200.000 orang membelanjakan 1.000 riyal maka uang yang dibelanjakan bisa mencapai 1 milar riyal atau setara Rp 4 triliun. “Itu dari sisi oleh-oleh saja belum belanja makanan dan lainnya serta pembelian hewan untuk bayar dam maupun kurban,” kata Dadang.

Diketahui, Pemerintah Indonesia memberikan uang living cost sebesar 1.500 riyal untuk setiap jemaah haji, baik untuk membeli kambing atau bayar dam dan keperluan sehari-hari di pemondokan.

Gemar sedekah

Selain dikenal doyan belanja, jemaah haji Indonesia dikenal sebagai jemaah yang gemar bersedekah terutama untuk tenaga kebersihan, pengemis, maupun pekerja di masjid. Setiap ada jemaah haji Indonesia muka mereka berseri-seri dan menyapa dengan ramah.

Jika diperhatikan, saat bertemu dengan jemaah haji Indonesia, mereka banyak yang memberi uang antara 1 sampai 5 riyal per orang. “Kami juga bangga, jemaah haji Indonesia bukan dikenal karena doyan belanja saja, tetapi gemar sedekah,” tuturnya. (Maksuni Husen)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here