Jemaah Haji Gelombang II Mulai Dipulangkan ke Tanah Air

Petugas dengan ketua rombongan dan regu Kloter JKG 27 saat mengecek berat koper jemaah haji. Dijadwalkan Kloter 27 dipulangkan pada Sabtu (31/8/2019), yang merupakan kloter kedua pada gelombang II setelah Kloter JKG 25.*

Fase pemulangan jemaah haji Indonesia asal Provinsi Banten dari Bandara King Abdulaziz, Jeddah berakhir pada 29 Agustus 2019. Selanjutnya mulai Jumat (30/8/2019), awal dimulainya pemulangan gelombang II dari Bandara Amir Muhammed bin Abdul Azis Madinah.

Kepala Kanwil Kemenag Banten HA Bazari Syam mengatakan sesuai jadwal yang telah disusun pihak penerbangan untuk pemulangan gelombang II yakni berasal dari Kloter JKG 25 Kota Serang. “Kloter 25 take off dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis Madinah Jumat (30/8/2019) pukul 05.30 Waktu Arab Saudi (WAS) dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 19.40 Waktu Indonesia Barat (WIB),” katanya.

Ia mengatakan sebanyak 9 kloter pada gelombang I sudah dipulangkan ke Tanah Air yakni Kloter 02 Kota Tangerang, Kloter 04 Kabupaten Tangerang, Kloter 06 Kota Tangerang, Kloter 11 Kabupaten Tangerang, Kloter 12 Kabupaten Serang, Kloter 15 Kota Tangsel, Kloter 16 Kabupaten Serang, Kloter 18 Kota Tangsel dan Kloter 24 Kota Tangerang. “Total jemaah yang sudah dipulangkan 4.300 orang lebih,” kata Bazari.

Seorang jemaah Kloter 25 Kota Serang Uesul Qurni meminta doa masyarakat Banten agar kepulangan jemaah haji Banten berjalan lancar dan aman hingga sampai ke tempat tinggal. “Mohon doanya perjalanannya lancar,” kata Uesul.

Sementara itu, selang seharinya giliran KloterJKG 27 yang akan diberangkatkan ke Tanah Air. Ketua Kloter 27 Asep Sihabul Milah mengatakan seluruh dokumen seperti paspor sudah siap, termasuk penimbangan koper jemaah haji. “Untuk koper besar maksimal beratnya 32 kg dan dilarang memasukkan air zamzam ke koper besar,” katanya.

Ia menuturkan di Kloter ada tiga orang yang ditanazulkan karena sakit. “Yang dua orang sudah dipulangkan dulu dengan Kloter 18 Tangsel,” katanya.

Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Arsyad Hidayat mengatakan pemulangan jemaah haji dari Bandara Prince Mohammed bin Abdulaziz dimulai pada 30 Agustus. Jemaah ini masuk dalam gelombang kedua yang tiba di Arab Saudi. Usai dari Mekkah, jemaah haji gelombang kedua didorong ke Madinah untuk melaksanakan rangkaian ibadah Arbain. Hingga kemudian dipulangkan ke Tanah Air.

Adapun jemaah haji yang sudah diberangkatkan dari Bandara Jeddah tercatat mencapai 76.129 orang hingga hari ini. Mereka berasal dari 187 kelompok terbang (kloter) dari seluruh embarkasi di Indonesia. Demikian mengutip data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama (Kemenag). Dari jumlah tersebut, 72.487 yang berasal dari 178 kloter telah tiba di Indonesia. Sementara jumlah jemaah yang wafat sebanyak 360 orang.

Fasilitas Eyab

Sementara itu diinformasikan sebanyak 32 kloter jemaah haji Indonesia gelombang II akan menikmati fasilitas Eyab ketika hendak pulang ke tanah air melalui Bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah.

Kepala Daerah Kerja Madinah Akhmad Jauhari menuturkan Eyab di Madinah terasa lebih spesial karena hanya diberikan pada 32 kloter jemaah haji Indonesia, tidak seperti Eyab di Jeddah yang juga diberikan pada jemaah haji asal Malaysia dan India.

Jauhari merinci ke 32 kloter itu terdiri atas 19 kloter asal embarkasi Jawa Barat (JKS) & 13 kloter asal embarkasi Surabaya (SUB) dengan jumlah total 13.533 jemaah, dan akan diberangkatkan dalam rentang waktu tanggal 4-14 September 2019 dengan rata-rata pemberangkatan antara 2 hingga 4 kloter per hari nya.

Untuk teknis pelaksanaan Eyab, dia mengatakan nantinya bagasi jemaah yang sudah ditempeli QR Card dikirim ke bandara 24 jam sebelum keberangkatan. Jemaah diupayakan sudah tiba di bandara 3 – 4 jam sebelum keberangkatan.

Setelah tiba di bandara, jemaah masuk ke Paviliun 5 dan langsung didorong ke Gate Haji untuk melakukan pemeriksaan haji dan masuk ke lounge Eyab yang terletak di ruang tunggu internasional untuk menunggu waktu panggilan masuk ke pesawat.

“Sebenarnya yang membedakan antara jemaah yang menikmati fasilitas Eyab dan yang tidak, adalah proses menunggu jemaah dibuat senyaman mungkin saat menunggu proses imigrasi,” ucapnya seperti dikutip laman resmi Kemenag.

Jauhari mengatakan perbedaan waktu yang dirasakan oleh jemaah yang menikmati fasilitas Eyab dan non Eyab, sebenarnya tidak terlalu signifikan. Perbedaannya hanya terdapat pada fasilitas seperti ruang tunggu yang nyaman dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. (Maksuni Husen)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here