Jejak Multatuli

Multatuli merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker, lelaki kelahiran Amsterdam yang pernah ditunjuk sebagai asisten residen di Lebak pada Januari hingga April 1856 oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Duymaer van Twist. Pengalaman di Lebak kemudian menginspirasinya membuat sebuah novel tentang penderitaan rakyat waktu itu.

“Jadi, sebernarnya Eduard Douwes Dekker punya tiga nama, pertama Multatuli yang digunakan sebagai nama penanya, kedua Eduard Douwes Dekker nama aslinya, dan ketiga Max Havelaar, yaitu nama tokoh dalam novel yang sebetulnya tentang cerita dia,” kata Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana kepada wartawan, Jumat (2/6/2017).

Judul asli novel tersebut ‘Max Havelaar, of De Koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij’ atau dalam bahasa Indonesianya ‘Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda’.
Sebelum dipindahkan ke Rangkasabitung, ia pernah ditugaskan di Sumatera, perpindahannya ke wilayah ke Rangkasbitung membuatnya merasa terheran-heran melihat kondisi rakyat, seperti praktik tanam paksa pada pertengahan abad ke-19 di Lebak. “Ia melihat rakyat ini (di Rangkasbitung) begitu banyak kok mereka dipekerjakan tanpa upah lagi,” ujarnya.

Melalui novel yang diterbitkan di Belanda tersebut, Mulatuli telah mampu membongkar kebobrokan Hindia-Belanda dan berjuang tanpa memandang ras. Sampai pada akhirnya, ia mampu mengubah pandangan Belanda terhadap warga pribumi. “Novel ini mampu menggerakkan hati orang Belanda, para jejegud berpikir kok orang yang berada di wilayah timur Hinda-Belanda katakanlah Indonesia kok kerjaannya seperti ini,” ucapnya.

Pada akhirnya, setelah novel tersebut beredar luas dan banyak dibaca, keluarlah tiga kebijakan Belanda untuk wilayah jajahannya di Hindia-Belanda, dikenal dengan kebijakan balas budi. Dalam kebijakan tersebut terdapat tiga poin penting yang sedikitnya berdampak positif terhadap pribumi, yaitu kebijakan imigrasi, irigasi, dan edukasi.

“Dalam bidang irigasi salah satu contohnya, adalah Bendungan Pamarayan di Kabupaten Serang, dalam bidang pendidikan banyak sekolah untuk pribumi, salah satunya Osvia yang dulunya menempati Polres Serang,” tuturnya. Perjalanan singkatnya di Lebak menjadi inspirasi penting bagi sebuah karya fenomenal. Kini namanya terus diabadikan di Kabupaten Lebak, melalui nama jalan atau nama museum. (Sutisna/Job)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here