JB Dorong Nabil di Pilkada Pandeglang 2020, Demokrat Belum Pasti Usung Irna

PANDEGLANG, (KB).- Partai Demokrat akan melakukan survei dan fit and proper test untuk menentukan dukungan dalam Pilkada Kabupaten Pandeglang 2020, sehingga belum pasti mendukung petahana Irna Narulita yang tercatat sebagai kader partai berlambang mercy tersebut.

Sementara itu, persaingan dua dinasti antara keluarga Ahmad Dimyati Natakusumah dengan Mulyadi Jayabaya (JB) semakin menyita perhatian, setelah mantan Bupati Lebak dua periode tersebut mendorong anaknya yakni Mochammad Nabil Jayabaya untuk menantang petahana.

Meski kedua dinasti tersebut memiliki anggota keluarga yang menjadi bagian dari Partai Demokrat atau kader internal, namun partai berlambang mercy itu akan melakukan survei dan fit and proper test untuk menentukan dukungan dalam Pilkada Kabupaten Pandeglang 2020. Partai besutan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, memastikan sangat optimistis akan menjadi pemenang Pilkada Pandeglang tahun depan.

Untuk diketahui, sejumlah anggota keluarga Dimyati adalah kader Partai Demokrat yaitu Irna Narulita yang kini masih menjabat Bupati Pandeglang dan juga Rizki Aulia Rahman Natakusumah yang merupakan caleg DPR RI dapil Banten I yang lolos ke Senayan.

Sedangkan dari keluarga besar JB, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya merupakan Ketua DPD Partai Demokrat Banten. Selain Iti, ada Vivi Sumantri Jayabaya yaitu mantan anggota DPR RI, yang di Pileg 2019 kalah suara dari bersaing dengan putra Dimyati yakni Rizky Aulia Rahman Natakusumah.

Sekretaris DPD Demokrat Banten Eko Susilo mengatakan, Demokrat Banten memiliki tahapan tersendiri untuk menentukan calon yang diusung pada pilkada. Mulai dari survei, awal dan akhir, termasuk fit and proper test. Tahapan itu dilaksanakan mulai dari DPC sebagai OC, DPD sebagai SC, dan DPP yang mengeluarkan rekomendasi.

“Siapapun bakal calon yang akan kami dukung, nantinya adalah mereka yang berpotensi menjadi pemenang, baik kader partai maupun nonkader. Yang paling penting siap berkomitmen dan loyal pada Demokrat. Kita bekerja sesuai dengan juklak dan PO (Peraturan Organisasi),” katanya, Selasa (18/9/2019).

Mantan Aktivisi HMI ini melihat, kedua kubu antara dinasti Mulyadi Jayabaya dan dinasti Achmad Dimyati Natakusumah memiliki potensi dalam Pilkada Pandeglang. Keduanya memiliki nama besar dan pengaruh di masyarakat. “Dan Demokrat punya metode dan cara untuk menentukan yang akan kita usung,” ujarnya.

Terkait penjaringan, ia menargetkan sudah berjalan Oktober 2019. Saat ini telah dilakukan pembentukan pokja tingkat DPD, disusul rapat koordinasi dengan seluruh DPC yang menghadapi pilkada. “Untuk segera membentuk pokja dan segera menyelenggarakan kegiatan penjaringan calon-calon di pilkada,” ucapnya.

Ia optimistis partai berlambang mercy ini akan menjadi pemenang dalam Pilkada Pandeglang. Mesin partai mulai dari DPD sampai dengan ranting, akan dimaksimalkan untuk menarik suara pada calon yang diusung.

Ketua Bapilu DPD Demokrat Banten Azwar Anas membenarkan, proses penentuan calon yang diusung Demokrat dalam pilkada harus melewati survei dan fit and proper test. Seluruh tahapan dilakukan untuk mencari calon yang potensial menang dalam pilkada. “Yang memutuskan (calon diusung) DPP,” tuturnya.

Survei biasanya dilakukan dengan cara menggandeng lembaga survei. Ini untuk mengukur sejauh mana popularitas dan elektabilitas kandidat calon. “Ya biasanya menggandeng lembaga survei,” kata pria Alumni Fakultas Teknik Untirta ini.

Disinggung apakah sudah ada partai yang komunikasi terkait koalisi, ia mengatakan, sampai kemarin belum ada yang melakukannya. “Kalau itu belum ada ke saya ya. Kalau ke ketua dan sekretaris kurang tau. Cuma kan kita juga masih menunggu instruksi DPP. Biasanya DPP mengeluarkan juklak dan juknis untuk pilkada,” katanya.

Prinsipnya Demokrat terbuka berkoalisi dengan partai manapun. Pemenataannya sendiri akan melihat kondisi politik yang berkembang di kabupaten/kota masing-masing. “Liat kondisi politik yang berkembang dan pemetaan,” ujarnya.

Merestui

Sementara itu, JB akhirnya merestui putranya, Mochammad Nabil Jayabaya dalam kompetisi Pilkada Pandeglang 2020. Nabil diantar kalangan pengusaha dari Gapensi, dewan pertimbangan MUI dan kader PDI Perjuangan Lebak serta anggota Fraksi PDIP DPRD Lebak, saat mendatangi Sekretariat DPC PDIP Pandeglang, di Jalan Ciekek, Pandeglang, Rabu (18/9/2019).

Keseriusan maju Pilkada ditandai dengan pengembalian berkas penjaringan calon bupati ke PDIP, disaksikan juru bicara keluarga JB, Agus R Wisas. Seusai menyerahkan berkas formulir, Muhammad Nabil Jayabaya mengatakan alasan mencalonkan diri menjadi calon Bupati Pandeglang, karena merasa prihatin dengan kondisi infrastruktur di Pandeglang yang rusak dan kurang mendapat perhatian dari bupati.

“Kenapa saya mencalonkan bupati, karena ini adalah aspirasi masyarakat Pandeglang yang diwakili tokoh-tokoh Pandeglang. Sekarang ini adalah zaman milenial. Jadi kalau Pandeglang ingin maju, harus dipimpin oleh pemimpin yang muda, yang kuat,” kata Nabil.

Ia tidak gentar untuk melawan petahana, karena ini soal kebenaran membela aspirasi masyarakat Pandeglang yang ingin maju dan sejahtera. “Ya masih bisa, karena kita masih berkomunikasi dengan partai politik lain. Selain PDIP masih ada Partai Nasdem dan partai lainnya. Untuk wakil nanti kita komunikasi politik, bagaimanapun Pandeglang harus maju dengan potensi yang besar dan Pandeglang harus lepas dari predikat kabupaten tertinggal,” ujarnya.

Secara terpisah, Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Pandeglang Thoni Fathoni juga menyerahkan formulir penjaringan calon bupati ke PDIP. Dia punya itikad membangun Pandeglang. Sebab, masih banyak masyarakat yang tidak mendapatkan haknya.

“Saya peduli, karena ada sebagian masyarakat tidak mendapat hak yang merupakan kewajiban pemerintah selama lima tahun, ” ujar Thoni seusai mengembalikan formulir pendaftaran calon bupati Pandeglang.

Ia menjelaskan, hak masyarakat adalah infrastruktur, pendidikan yang layak, kesehatan yang memadai. “Iya, selain infrastruktur banyak hal lain termasuk pengelolaan perumahan permukiman, kawasan kumuh, dan saya tidak bangga Pandeglang itu entas dari kemiskinan karena itu akan menghambat program yang masuk dari pusat,” ujarnya.

Ia menilai Pandeglang masih tertinggal dan kumuh. Sebab, ketertinggalan tersebut merupakan barang jualan kepada pemerintah pusat. “Faktanya masih miskin, masih kumuh, karena hal-hal seperti itu tidak dijadikan untuk basis dalam rangka mengambil program pemerintah pusat,” ucapnya.

Thoni mengaku, dirinya sudah mendapatkan restu secara lisan dari pengurus PKB pusat, namun dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada PDIP. “Saya kira peluang politik seribu detik kemungkinan bisa terjadi, karena politik itu dinamis. Tapi saya belum bangga melihat pembangunan di Kabupaten Pandeglang yang dipimpin Irna dan Tanto,” tuturnya. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here