Jalur Maut di Jalan Raya Serang-Cilegon

Kendaraan berukuran besar melintas di ruas jalan raya Serang-Cilegon tepatnya di Desa Toyomerto, Kecamatan Kramatwatu, Jumat (14/12/2018).*

Jalur maut, begitu kira-kira masyarakat menyebut ruas jalan raya Serang-Cilegon, tepatnya dari trafficlight Pondok Cilegon Indah (PCI) sampai Kramatwatu. Sebutan itu bukan tanpa sebab. Dalam sepekan, warga sekitar bisa menyaksikan 3 kejadian kecelakaan.

Kondisi jalan yang lurus dan mendatar, nyatanya tidak menjamin keselamatan pengendara. Sebaliknya, pengendara menjadi terlena dan membuat mereka lengah, tanpa sadar maut mengancam. Selain itu, kendaraan besar sering melintas di jalan nasional tersebut.

“Sering di sini mah, kebanyakan sepeda motor. Tapi ada juga mobil. Jarang ada yang selamat kalau di sini mah,” ujar seorang warga yang tinggal di perumahan BMW, Ajun kepada Kabar Banten, Jumat (14/12/2018).

Ajun yang sudah 10 tahun tinggal di kawasan BMW, sudah tidak aneh lagi dengan kecelakaan yang sering terjadi. Seakan tidak kenal waktu, entah siang atau malam kecelakaan itu sering terjadi. “Saya sering dengar itu suara tabrakannya. Malah sering juga ikut nolongin,” ucapnya.

Intensitas tersebut kian meningkat ketika memasuki malam Minggu atau akhir pekan. Sebab, biasanya banyak wanita-wanita malam yang keluar dari tempat hiburan di daerah lingkar Selatan dan menyetir sambil mabuk.

“Malah waktu itu, ada yang sampai ban mobilnya kelempar jauh dan kena sepeda motor yang lewat juga. Itu kejadiannya malam,” tuturnya.

Menurut dia, penyebab seringnya terjadi kecelakaan bukan karena jalan yang jelek atau licin. Akan tetapi, karena kondisi ruas jalan yang lurus dan datar. Sehingga, terkadang pengendara tidak sadar jika bahaya mengancam nyawa mereka. Untuk penerangan jalan, sebenarnya memadai dan tidak gelap.

“Biasanya kalau ada yang selamat, kan kami tanya. Katanya enggak sadar, kirain lurus saja, tahu-tahu nabrak. Jadi karena lurus, jalannya enak. Di sini memang terkenal rawan, itu mulai dari lampu merah PCI sampai ke lampu merah Kramatwatu,” ucapnya.

Di sepanjang jalur tersebut, kata dia, juga tidak pernah ada petugas. Jika terjadi kecelakaan, warga harus menelepon Polsek terdekat dan baru kemudian datang ke lokasi. Selain tak adanya petugas, rambu-rambu di sekitar pun masih minim. “Harusnya ada petugas, Polsek Kramat juga Dishub enggak ada. Perlu ada petugas dan dikasih rambu di sini,” tuturnya.

Warga Toyomerto, Burhanudin mengatakan, belum lama ini kecelakaan terjadi di sekitar jembatan atau tidak jauh dari warung makannya. Bahkan, kepala korban sampai pecah dan tak terselamatkan. “Kemarin di lampu merah (PCI). Sampai berceceran isi kepalanya,” ujarnya.

Ia menuturkan, kebanyakan korban masih berusia belia atau baru menginjak bangku sekolah menengah atas. Salah satu penyebab kecelakaan, menurut dia, karena biasanya di daerah tersebut banyak mobil berukuran besar yang parkir di pinggir jalan.

Akibatnya, pengendara yang melintas dengan kecepatan tinggi tidak melihat dan terjadilah kecelakaan. “Malah ada yang motornya masuk ke dalam mobil, terus ada juga bapak-bapak yang jualan tahu itu ketabrak,” tuturnya.

Tidak rata

Sementara, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Serang sekaligus anggota dewan dari Dapil Kramatwatu Mansur Barmawi mengatakan, pertama kondisi jalan raya Serang-Cilegon tersebut banyak terdapat benjolan alias tidak rata. Padahal, jalur tersebut jalan nasional.

Kedua, mobil berukuran besar banyak yang sering lewat jalan nasional tersebut. Padahal, seharusnya mobil itu lewat tol. “Nah ini juga mungkin perlu ada semacam larangan, tapi enggak benar juga sih. Ini jalan kan sempit. Artinya, walaupun jalan nasional, enggak layak dilewati mobil besar,” ujarnya.

Ketiga, kata dia, di ruas jalan tersebut juga banyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan. Kondisi itu, kata dia, jelas mengganggu arus lalu lintas. “Nah ini kami harapkan ada semacam aturan dari dishub dan kepolisian, agar lebih tertib,” katanya.

Disinggung soal kemungkinan adanya aturan agar mobil besar diberlakukan jam melintas, Mansur mengatakan kesulitan karena jalan nasional. “Ini masalahnya jalan nasional, jadi kita enggak bisa mengatur. Kecuali itu jalan kabupaten,” ucapnya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here