Jalur Kereta Api Merak-Tanah Abang: 118 Titik Perlintasan tak Resmi

LEBAK, (KB).- Peristiwa kecelakaan antara kendaraan umum dengan kereta api yang terjadi disepanjang jalur KA Merak-Tanah Abang antara lain diakibatkan adanya titik-titik perlintasan tidak resmi pada rute perjalanan KA. Seperti halnya kecelakaan yang terjadi di titik perlintasan Desa Nyomplong, Kecamatan Cibadak beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), setidaknya tercatat sebanyak 118 titik perlintasan kereta api tidak resmi pada perjalanan KA jurusan Merak-Tanah Abang- Merak. ”Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kereta dengan kendaraan umum, kami menginginkan perlintasan tidak resmi itu segera ditutup,” kata Humas PT KAI DAOP I Jakarta, Edi Kuswoyo awal pekan ini.

Menurut Edi, perlintasan tidak resmi itu dahulunya merupakan jalan setapak yang kemudian dibangun menjadi jalan untuk kendaraan bermotor. Artinya, perlintasan itu ada setelah terbangunnya jalur KA. ”Pintu perlintasan yang resmi pada rute perjalanan Merak-Tanah Abang hanya berjumlah atau terdapat pada 48 titik yang kami jamin keselamatannya. Seandainya perlintasan tak resmi itu sangat diperlukan dan harus tetap ada, sebaiknya dibangunkan flyover atau ada alternatif lain agar tidak terjadi lagi peristiwa kereta api menghantam mobil,” ujarnya.

Edi mengimbau para pengendara umum baik roda dua maupun roda empat untuk berhati-hati ketika melintasi perlintasan kereta api, terutama perlintasan tanpa palang pintu. ”Tengok kanan-kiri pada saat akan melintas, jangan menerobos,” tuturnya.

Sementara itu, sejumlah warga di Rangkasbitung berharap, pintu perlintasan kereta api yang tidak resmi itu dapat diperhatikan pihak PT KAI dengan membangunkan tanda peringatan di sekitar pintu perlintasan, sehingga pada saat pengendara umum hendak melintasi perlintasan kereta itu mengetahui pasti kapan waktunya kereta melintas.

“Kami berharap pihak pengelola PT KAI di wilayah DAOP I khususnya yang menangani perjalanan KA jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung hingga Merak dapat membangun tanda peringatan di sekitar pintu perlintasan kereta api. Hal itu untuk memberi dan menjaga rasa keamanan kepada pengendara yang melintas di pintu perlintasan kereta api,” kata Boim (49) warga Rangkasbitung.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan (Dishub) Lebak, berharap ada pembahasan bersama dengan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait palang pintu, karena status pintu perlintasan KA di kampung tersebut tidak resmi alias liar. Kepala Bidang Keselamatan Lalu lintas pada Dishub Lebak, Aziz Ali Rosyid mengatakan, ada enam titik pintu perlintasan kereta api di Kabupaten Lebak yang statusnya resmi. Sedangkan untuk di Kampung Nyomplong itu masuk kategori liar.

“Jika dilakukan pemasangan palang pintu di perlintasan kereta di kampung tersebut, artinya kita melegalkan. Hal itu tidak mungkin kami lakukan,” kata Aziz kepada Kabar Banten saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Menurut Aziz, karena ini statusnya masih belum resmi, maka perlu dirundingkan bersama antara Pemerintah kabupaten (Pemkab) Lebak dengan PT KAI soal permasalahan palang pintu kereta.

”Dishub tidak ada kewenangan dalam palang pintu di perlintasan kereta api, khususnya di Kampung Nyomplong. Pintu perlintasan yang liar ada dua titik, yaitu di Kampung Nyomplong dan Cilibiru, Kelurahan Cijoro Lebak, Kecamatan Rangkasbitung,” ujarnya.(ND)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here