Jalin Sinergitas dan Salurkan Bantuan Korban Bencana, Kepala BKKBN Kunjungi Pemkab Lebak

LEBAK, (KB).- Untuk menjalin sinergitas dan silaturahmi dengan pemerintah daerah Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Hasto Wardoyo melakukan kunjungan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Kamis (23/1/2020). Selain itu, kunjungan Kepala BKKBN tersebut sekaligus untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana banjir di Kabupaten Lebak.

Didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten Drs. Aan Jumhana beserta jajaran pejabat BKKBN Banten, Hasto disambut Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Wakil Bupati Lebak Ade Sumardi didampingi Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bapeda dan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( DP2KBP3A) Kabupaten Lebak, di Pendopo Bupati Lebak.

“Saya datang ke Kabupaten Lebak pertama atas nama teman-teman dokter dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Kedokteran untuk menyampaikan rasa empati dan ikut prihatin adanya musibah banjir di Kabupaten Lebak dan menyalurkan bantuan dari teman-teman dokter. Kedua, atas nama BKKBN kami bersilaturahmi dengan Pemkab Lebak menyampaikan program-program BKKBN dan berdiskusi tentang layanan, terutama untuk pelayanan di masyarakat,” ujar Hasto.

Selain itu, pihaknya akan bersinergi menyiapkan bersama pelayanan-pelayanan kepada masyarakat termasuk menyediakan alat-alat kontrasepsi dan apa-apa yang kurang di lapangan. “Penting sekali untuk mendengar aspirasi dari bawah,” ujar Hasto.

Hasto mengatakan, tahun ini pihaknya akan memberikan pelayan maksimal kepada masyarakat. Kemudian, pihaknya juga sudah membeli alat kontrasepsi senilai Rp 16 miliar untuk implant yang akan diberikan kepada masyarakat.

“Saya dengar di Kabupaten Lebak peminat implant sangat banyak. Seperti yang disampaikan ibu bupati Lebak kepada kami. Makanya, kalau memang yang paling banyak itu, kami akan melayani secukupnya yang dibutuhkan. BKKBN akan bersinergi dengan TNI, Polri dan pemerintah daerah untuk sama-sama melayani masyarakat dengan gratis,” ujar Hasto.

Sementara, terkait dengan rebranding BKKBN, Hasto menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan soft launching logo baru.

“Logonya kami ganti karena selera anak muda sekarang tidak dua anak di gandeng namun selera anak muda sekarang yang agak gaul-gaul sedikit. Sekarang logonya ada simbol cinta, kemudian simbol continuing antara suami istri, saling mencintai. Itu yang kita tonjolkan di logo,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, untuk tagline, anak-anak muda sekarang tidak mau di doktrinasi Dua Anak Cukup. Namun, pihaknya tetap berjuang supaya kelahiran dibatasi jaraknya terutama supaya stunting tidak bertambah banyak. Selain itu, pihaknya juga mengikuti apa yang menjadi irama anak muda sekarang atau milenial. “Sehingga nanti taglinenya ‘berencana itu keren’, logonya juga gaul kemudian ada jingle yang dibuat oleh Adi MS,” pungkas Hasto.

Sementara itu, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya menyampaikan bahwa pihaknya bersama BKKBN berdiskusi tentang program BKKBN kedepan, bagaimana pengendalian penduduk, kemudian bagaimana membangun sinergitas dan program yang komprehensif, dan penanganan stunting karena yang menjadi fokus pemerintah Kabupaten Lebak terutama kematian ibu dan anak, gizi buruk dan sebagainya.

“Karena pak Hasto pernah menjabat sebagai bupati,  jadi tahu betul kendala-kendala dan permasalahan-permasalahan di daerah. Kita sama-sama berdiskusi sehingga hasil dari diskusi tersebut bisa dibawa ke tingkat Kementerian untuk dibahas bagaimana kondisi di wilayah dan daerah sehingga program-program tersebut bermanfaat dan dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Iti menyampaikan, pasca bencana, pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Lebak tetap berjalan, proses belajar mengajar masih berjalan tidak ada yang terkendala walaupun fasilitas banyak yang rusak. “Fasilitas-fasilitas tersebut akan segera diperbaiki,” ujarnya.

Ia mengatakan, Jumat (24/1/2020), pihaknya bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengelar rapat terkait dengan hunian masyarakat, bagaimana membangun SDMnya, dan yang paling utama jiwanya dulu yang harus terselamatkan. “Itu kan harus diberikan ruang atau rumah tempat untuk mereka (korban bencana banjir) supaya bisa nyaman,” ujar Iti.

Ia menambahkan, walaupun mereka berada di tempat pengungsian, proses belajar mengajar tidak terputus meskipun belajar di tenda darurat atau dititipkan di sekitar pengungsian. “Itu tidak ada masalah,” pungkas Iti. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here