Jajaki Investasi di Banten, Tiongkok Siap Garap Bisnis Kilang Minyak Hingga Pelabuhan

SERANG, (KB).- Asosiasi Pengusaha Kota Nanchang, Tiongkok yang terdiri atas 140 perusahaan berencana membuka perusahaan baru di Provinsi Banten. Perusahaan yang ingin dibuka bergerak di bidang minyak bumi, teknologi tinggi hingga pelabuhan dengan kebutuhan lahan mencapai 4.000 hektare.

Rencana tersebut diketahui setelah delegasi mereka mengunjungi Gubernur Banten Wahidin Halim beserta jajaran di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Selasa (17/12/2019).

Pantauan wartawan, terdapat empat delegasi dari Tiongkok serta penerjemah. Mereka juga didampingi mantan Menteri Luar Negeri era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yakni Hassan Wirajuda.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Suharso mengatakan, pengusaha yang ingin mendirikan perusahaan tergabung dalam asosiasi perusahaan di Kota Nanchang, Tiongkok dan sudah mendirikan usaha kurang lebih 40 tahun. Mereka ingin mengembangkan usahanya di Banten dengan terlebih dahulu memotret lokasi yang dianggap strategis dan sesuai dengan kebutuhan.

“Asosiasi industri di sana (Tiongkok), industri teknologi tinggi, elektronik. Dia juga mau buka pengolahan minyak atau oil refinery (kilang minyak). Nah tadi nanya-nanya lokasi yang cocok untuk industri teknologi tinggi dan pengolahan minyak bumi,” ujarnya.

Selain di Banten ada beberapa lokasi di Thailand, Vietnam, dan Malaysia menjadi pertimbangan. Akan tetapi, mereka lebih memilih Banten karena di Banten telah banyak investasi asing asal Tiongkok dan menduduki posisi paling dominan.

“Alasan harus Banten ya salah satunya memang tertinggi investasi asing di Banten adalah dari Tiongkok. Kedua Singapura, ketiga itu Korea, Jepang dan dari Hongkong. Ini alasan mereka memilih Banten,” ucapnya.

Sementara ini mereka akan melihat terlebih dahulu melihat lahan di Banten. Adapun kebutuhan lahannya seluas 4.000 hektare dan terletak di pinggir pantai.

“Kita kasih lokasi alternatif, Cilegon, Serang karena dia butuh pinggir pantai dan luasannya kurang lebih minta 4.000 hektare. Tapi itu bergantung ketersediaan,” tuturnya.

Menurut dia, jika terealisasi kilang minyak akan menjadi yang pertama Indonesia.

“Karena dari oil refinery (kilang minyak) turunannya bisa menjadi bahan baku industri kimia, petrokimia. Jadi ada bahan baku namanya nafta, itu turunan dari hasil pengolahan dari hasil pengolahan oil refinery. Sementara di kita banyak industri kimia, jadi cocok. Jadi kita tidak tergantung impor. Kedua, pastinya hemat subsidi BBM, kita bisa menghasilkan BBM murni,” ujarnya.

Selain itu, secara infrastuktur Banten dianggap menunjang pendirian usaha yang diinginkan oleh para pengusaha tersebut.

“Jadi pertimbangannya lebih kepada infrastruktur pendukung terutama listrik. Kami jelaskan bahwa banyak PLTU dan akses tol kemudian rel, pelabuhan mungkin laut bisa. Jadi dengan keberadaan infrastruktur pendukung saya kira sudah memadai,” tuturnya.

Terkait nilai investasi yang akan digelontorkan, kata Babar, sampai kemarin belum ada perhitungan. Para pengusaha baru menengok ketersediaan lahan.

“(Tenaga kerja) mereka tidak menyebut, kriterianya skill dan dia sebut kalau hi-tech pasti gajinya tinggi. Karena teknologi tinggi mereka juga berkolaborasi dengan BPPT, takutnya ada penggunaan nuklir atau apalah, saya enggak tahu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lokasi yang diinginkan di pinggir pantai tak bertentangan dengan Perda Nomor 5 tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Banten.

“Itu peruntukan warnanya abu-abu. Jadi abu-abu itu memang industri dan nanti juga dituangkan lagi dalam perda RTRW kabupaten/kota yang saat ini Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak sedang revisi, menyesuaikan dengan RTRW provinsi,” katanya.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, pemprov memastikan investasi yang masuk ke Banten berjalan lancar. Sebab, investasi dibutuhkan guna mendorong perekonomian.

“Kebetulan ada delegasi dari Cina (Tiongkok) yang mau membangun industri high tech (teknologi tinggi) di Banten,” ujarnya.

Pertemuan tersebut merupakan kunjungan pertama delegasi dari Tiongkok ke Banten. Pertemuan yang terjadi kemarin juga baru sebatas konsultasi, sehingga pihaknya belum tahu secara rinci terkait rencana investasi tersebut. Termasuk di mana lokasi mereka akan berinvestasi.

“Masih belum tahu karena kita masih cari lokasi. (nilai investasi) besar juga sih. Mereka sekarang memastikan bahwa diterima oleh pemerintah provinsi. Tadi saya jelaskan mengenai potensi untuk investasi, karena Banten kan dua besar di Indonesia yang menjadi perhatian investasi,” katanya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here