Isu Tsunami Gagalkan Rombongan Wisatawan ke Sawarna

BEREDARNYA informasi hasil kajian awal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tentang adanya potensi gempa besar dan tsunami di Pandeglang, Banten, yang bisa mencapai 57 meter menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terlebih yang tinggal di daerah pesisir pantai.

Menanggapi keresahan masyarakat itu, BPPT telah menyampaikan permohonan maaf dan menyebutkan hasil pemodelan tentang tsunami Pandeglang, Jawa Barat adalah konsumsi akademis dan bukan untuk umum.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga menegaskan, gempa dan potensi tsunami 57 meter itu bukanlah prediksi melainkan hanya mengungkap potensi yang bisa terjadi. Hal ini pun harus dikaji lebih lanjut dengan data ilmiah yang memadai.

Meskipun telah adanya penjelasan pemodelan tentang tsunami Pandeglang, serta penjelasan BMKG, namun rasa waswas nampaknya masih menghinggapi sebagian masyarakat, termasuk calon wisatawan yang hendak berlibur ke pesisir pantai.

Masyarakat Desa wisata Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak misalnya, merasakan betul dampak beredarnya pemodelan tentang tsunami Pandeglang yang mengakibatkan batalnya kunjungan sejumlah rombongan calon wisatawan untuk menikmati liburan di desa wisata itu.

Salah seorang tokoh masyarakat (tokmas) yang juga mantan Kepala Desa (Kades) Sawarna, AM Erwin KS mengatakan, ramainya perbincangan soal pemodelan tsunami 57 meter di Pandeglang merupakan hasil studi awal potensi tsunami di Jawa bagian barat dalam kegiatan seminar ilmiah BMKG yang berjudul ‘Sumber-sumber Gempa bumi dan Potensi Tsunami di Jawa Bagian Barat’ pada 3 April 2018 telah mengusik ketenangan masyarakat khususnya Desa Sawarna.

”Sebelumnya memang sempat membuat warga rada kurang tenang. Hampir setiap malam kami para penggiat wisata di Sawarna terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tetap waspada namun tanpa kekhawatiran berlebihan. Kini warga sudah mulai tenang kembali,” kata mantan Kepala Desa Sawarna itu.

Dampak analisis pemodelan tsunami 57 meter di Pandeglang itu, lanjut Erwin, tidak hanya berdampak kepada masyarakat yang tinggal di daerah pantai seperti Sawarna melainkan juga berdampak pada menurunnya kunjungan wisata ke objek wisata di desa wisata Sawarna.

”Bahkan ada sejumlah rombongan yang sudah merencanakan kegiatan di Sawarna terpaksa membatalkan rencana kunjungan itu dengan alasan takut tsunami. Tidak sedikit calon pengunjung yang sudah membooking rumah sewa (Homestay) sejak beberapa hari sebelumnya, akhirnya membatalkannya,” ujar Erwin.

Menurut Erwin, kekhawatiran warga dan pengunjung pasca ramainya informasi potensi tsunami 57 meter di Pandeglang harus disikapi secara serius oleh pemerintah. Langkah ini dilakukan karena selain agar masyarakat lebih memahami setiap informasi yang meresahkan khususnya terkait tsunami juga tidak berdampak pada sepinya kunjungan wisatawan.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, Sumawijaya mengatakan, prediksi tsunami besar tersebut sangat meresahkan masyarakat. Bahkan, masyarakat Pandeglang susah tidur.

Menurutnya, prediksi tsunami dengan ketinggian air mencapai 57 meter, jelas sangat meresahkan mengingat jalur evakuasi dari Lebak bagian selatan dan di barat Pandeglang hanya mampu mengantisipasi tsunami dengan ketinggian 20 meter. (Dini Hidayat)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here