ISPA Ancaman Terbesar Pemudik

INFEKSI saluran pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi ancaman kesehatan terbesar para pemudik. Setiap tahun ketika arus mudik berlangsung, ISPA mendominasi jumlah kejadian penyakit di pos-pos kesehatan mudik Lebaran.

Contohnya pada arus mudik 2017, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon mendata, bahwa jumlah penderita ISPA mencapai 113 pemudik. Angka tersebut mentereng di peringkat satu, menyusul keluhan hipertensi sebanyak 97 pemudik dan penyakit lambung sebanyak 84 orang.

Kepala Dinkes Kota Cilegon, dr Arriadna mengatakan, mayoritas pemudik yang terkena ISPA, adalah pengguna kendaraan roda dua. Debu dan emisi gas buang dari kendaraan-kendaraan pemudik, penyebab utama gangguan pernapasan.

“Mereka yang terkena ISPA itu, rata-rata pemudik bermotor. Sepanjang perjalanan, mereka terkena debu serta emisi gas buang. Ketika fisik mereka kurang fit, karena berpuasa, tak mampu menahan gangguan debu dan emisi. Sehingga, ISPA menyerang para pemudik itu,” katanya.

Ia menuturkan, serangan hipertensi dan lambung yang sering menimpa pemudik juga perlu mendapat perhatian khusus. Perubahan pola makan masyarakat selama bulan Ramadan diyakini penyebab utama penyakit tersebut.

“Kami pun mencatat, jumlah keluhan hipertensi dan lambung setiap bulan puasa meningkat. Sepertinya keinginan masyarakat makan enak setiap berbuka puasa, pemicu naiknya kasus-kasus itu. Akhirnya berdampaklah pada perjalanan mudik mereka, yakni terganggu di tengah jalan, karena terserang hipertensi atau lambung,” ujarnya.

Tak kalah penting, menurut dia, serangan diare yang juga sering menyerang para pemudik. Menurut mantan Kepala Puskesmas Rawa Arum, Grogol tersebut, penyebab penyakit tersebut tidak lain jajanan dan makanan tidak sehat yang disajikan para pedagang.

“Tahun lalu, serangan diare berada di posisi keempat. Maka itu, saya menyarankan, agar pihak-pihak terkait segera menyisir para pedagang jajanan dan makanan di terminal dan pelabuhan. Pastikan makanan yang mereka sajikan higienis, sehingga tidak menyebabkan gangguan pencernaan terhadap para pemudik,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang P2PL Dinkes Kota Cilegon, drg Ninik Harsini mengatakan, Dinkes Cilegon mulai mendirikan Posko Kesehatan mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. Di setiap posko, akan standby dua tenaga medis ditambah satu dokter yang akan melayani pasien.

“Tenaga medis kami bagi tiga sif, rata-rata kami ambil dari Puskesmas di wilayah posko berdiri. Posko Kesehatan akan kami bangun di depan Terminal Terpadu Merak (TTM), Bundaran Landmark, Jalan Lingkar Selatan (JLS), Kawasan PCI, dan Terminal Seruni. Ada juga di JLS wilayah Ciwandan, tapi itu kami dirikan setelah Lebaran untuk arus wisata,” tuturnya.

Pihaknya memprediksi puncak arus Lebaran akan berlangsung mulai Jumat hingga Senin (8 -11/6/2018). Mengingat para hari itu, merupakan hari terakhir para karyawan dan ASN bekerja.

“Pihak kepolisian memprediksi, puncak arus mudik terjadi mulai Senin hingga Rabu (11-13/6/2018). Tapi, analisa kami berbeda, puncak arus mudik diperkirakan mulai Senin (8/6/2018),” katanya. Oleh karena itu, pihaknya menyiapkan dokter 24 jam di Posko Kesehatan mulai Jumat hingga Senin (8 -11/6/2018). Selebihnya, para dokter sifatnya on call. (Sigit Angki Nugraha)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here