Islam dan wabah Corona

Oleh : Ahmad Sanusi

Beberapa hari ini masyarakat muslim Indonesia khususnya menjadi gempar dan khawatir atas adanya virus corona atau Covid 19, virus ini sebenarnya sudah menggemparkan masyarakat dunia semenjak dua bulan yang lalu, sebagaimana kita ketahui dari beberapa media, bahwa virus ini menyebar dari kota wuhan salah satu kota yang ada di negara China daratan, awalnya masyarakat Indonesia seperti saya berkeyakinan bahwa virus itu tidak sampai menyebar ke Indonesia, akan tetapi faktanya sampai hari sudah ada 67 orang yang berada di Indonesia terjangkit virus itu.

para pemimpin kita sudah banyak memberikan anjuran-anjuran dalam rangka mencegah merebaknya virus corona di negara Indonesia di antaranya misalkan agar berpola hidup sehat, selalu cuci tangan dengan sabun, menghindari tempat-tempat ramai, dan menghindari salaman.

Namun dalam hal ini masyarakat kita seperti biasanya menanggapinya beragam ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju, terutama terkait dengan agama Islam seperti bersalaman atau sholat Jum’at atau shalat berjama’ah, maka ada yang berpendapat bahwa salaman itu adalah sesuatu yang dianjurkan dalam beragama sepertinya tidak mungkin kita melakukan itu dan hal itu dianggap melanggar agama serta adanya anggapan kalau sudah takdirnya terkena maka ia akan terkena juga. dalam menjawab hal di atas saya berpendapat sebagai berikut:

pertama: Allah SWT.telah menegaskan dalam surat al baqarah ayat 30 yang berbunyi sebagai berikut:
واذ قال ربك للملا ئكة انى جاعل في الارض خليفة
artinya: dan sesungguhnya Tuhan mu berkata kepada para malaikat bahwa akan aku jadikan satu makhluk sebagai kahlifah

Dari ayat di atas sesungguhnya Allah akan menjadikan makhluk (Adam dan anak cucunya) khalifah yakni pemimpin yang akan mengatur dunia beserta isinya yakni manusia yang akan menjadi pemimpin semua makhluk yang ada dunia bukan hanya bangsa manusia saja tapi juga binatang dan alam sekitarnya. demikian maksud Khalifah pada ayat di atas bukan khalifah yang didengung dengungkan oleh tetangga sebelah pemimpin yang ekslusif, pemahman khalifah yang dipahami mereka itu tidak tepat.

Manusia sebagai khalifah yakni sebagai pemimpin di dunia ini maka manusia berkewajiban menjaga ketahanan manusia di dunia ini dan juga wajib bagi manusia menjaga ketahanan alam sekitar atau yang dikenal sekarang dengan lingkungan. dalam menjaga hal ketahanan tersebut manusia harus berusaha untuk melindungi binatang yang hampir punah, maka oleh sebab itu menurut saya adanya sekelompok orang yang melindungi binatang langka agar tidak punah maka hal itu adalah perintah Islam, dan hal itu adalah tindakan Islami dan termasuk ibadah dalam rangka menjaga lingkungi hal itu sesuai dengan maqoshid Syariah dengan istilah حفظ البئة /hifdzul bi’ah

dalam menjaga lingkungan saja wajib apalagi menjaga keberlangsungan hidup manusia di dunia ini tentu lebih wajib, oleh karena itu suatu hal yang harus dilakukan oleh manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini untuk menjaga alam sekitar termasuk manusia itu sendiri, andaikan manusia tidak berikhtiyar dalam rangka mencegah pandemic virus corona maka niscaya semua manusia akan terkena wabah itu dan jika akan terkena maka hilanglah jenis manusia, maka oleh karena itu menjaga keberlangsungan manusia dengan mengikuti anjuran kesehatan adalah wajib bagi manusia sebagai upaya iktiyar manusia dan jika sudah berikhtiyar dan masih terkena maka itu baru namanya taqdir. dijalani dengan ikhlas dan tawakal.

oleh karena itu karena hal di atas sudah merupakan hajat manusia dalam mencegah wabah dan hajat itu bisa menmpati posisi dharurat dan dharurat itu bisa membolehkan yang dilarang hal itu sebagaimana dikatakan dalam kaidah fiqhiyah sebagai berikut:
الحاجة تنزل منزل الضرورة
artinya: hajat itu bisa menempati posisi dharurat
الضرورة تبيح المحظورات
artinya: dharurat itu bisa membolehkan yang tidak boleh

maka saya berpendapat harusnya masyarakat muslim mengikuti himbauan ahli kesehatan agar tidak kontak langsung dulu dengan orang lain baik dengan cara menempelkan pipi atau bersalaman dan cukup diganti dengan isyarat penghormatan dengan orang lain seperti menempelkan tangan kanannya di dadanya sendiri sebagai pengganti bersalaman. hal itu dilakukan sampai keadaan di mana wabah korona sudah tidak ada lagi. hal ini juga sesuai dengan kaedah ushuliyah

الحكم يدور مع علته وجودا وعد ما
artinya: hukum itu ada terkait dengan tetapnya illat atau tidak tetapnya illat

kedua: dalam hadis diceritakan bahwa nabi bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من أصبح منكم آمناً في سربه ، معافى في جسده ، عنده قوت يومه ، فكأنما حيزت له الدنيا بأسرها
dari hadis di atas dapat dipahami bahwa Nabi Saw menempatkan nikmat sehat sejajar dengan nikmat keamanan dan nikmat makanan, oleh karena itu nikmat yang terbesar dalam diri kita adalah nikmat sehat selain nikmat aman dan nikmat ketersediaan makanan.dengan demikian kewajiban kita menjaga kesehatan itu, yaitu dengan cara mengikuti arahan-arahan dari ahli kesehatan dalam hal ini adalah pencegahan penyebaran virus korona. maka dengan demikian bisa dikatan bahwa mengikuti nasehat para ahli kesehatan adalah merupakan salah satu ibadah dalam rangka menjaga kesehatan sebagaimana nabi mengajarkan kita untuk menjaga kesehatan. Wallahu A’lam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here