Ironi Jelang Lebaran, Baju Baru Kalahkan Ancaman Corona

Suasana di Pasar Induk Rau Kota Serang, Ahad (17/5/2020).*

SERANG, (KB).- Fenomena yang ironi, jelang Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriyah masyarakat berbondong-bondong memadati mall dan toko pakaian tanpa memperhatikan protokol kesehatan dan melupakan sejenak adanya wabah corona virus disease (Covid-19).

Mereka memadati, berkerumun membeli pakaian, sepatu dan barang-barang untuk menyambut Lebaran.

“Wabah yang datang setiap 100 tahun sekali kalah dengan baju baru yang bisa dibeli setiap satu tahun sekali. Mereka mengabaikan imbauan dan protokol kesehatan, mereka asik berbelanja seolah virus ini sudah hilang. Jadi, kami petugas kesehatan menyerahkan kepada masyarakat untuk terserah,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Serang Lenny Suryani, Sabtu (23/5/2020).

Seharusnya pemerintah dapat belajar dari wabah flu Spanyol yang menginfeksi 500 jutaan orang, hampir sepertiga populasi manusia di dunia, dan memakan banyak korban meninggal dunia, termasuk di Indonesia. “Kenapa pemerintah tidak belajar, kenapa masyarakat tidak patuh. Kalau seperti ini terus akan sulit untuk Indonesia bebas Covid-19,” tuturnya.

Ia menyayangkan dengan banyaknya mall dan toko baju, serta pedagang dadakan yang memadati sejumlah pasar di Kota Serang. Pihaknya pun tidak melarang pedagang untuk berjualan, namun seharusnya mereka tetap memperhatikan protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Serang. 

“Bukan justru diabaikan. Mereka beralasan, orang yang tinggal jauh dari kota hanya mampu membeli baju satu tahun sekali. Sehingga mereka tetap keluar rumah dan memaksakan untuk berbelanja baju baru. Saat ini kondisi kita sedang menghadapi wabah, virus yang mematikan. Tolonglah bantu kami,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, tenaga kesehatan di Kota Serang tidak banyak. Bahkan, bila kondisi ini terus berlanjut, maka jumlah pasien pun akan meningkat. “Kasihan dengan tenaga kesehatan kami yang sudah berjuang. Mereka menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan seluruhnya untuk menangani pasien. Tapi masyarakat tidak mendukung dan menghargai pengorbanan kami,” ucapnya.

Seharusnya, kata Lenny, pemerintah, baik daerah mau pun pusat tegas dalam memberikan aturan. “Jangan plin-plan, kemarin dilarang mudik, sekarang diperbolehkan. PSBB, tapi tidak ada ketegasan yang jelas, sehingga masyarakat pun tetap melanggar. Jujur, tenaga kesehatan itu sudah lelah,” katanya.

Kemudian, apabila ada satu orang yang terpapar Covid-19, pihaknya pun harus segera melakukan tindakan tracing atau melacak yang membutuhkan waktu tidak sebentar. “Butuh berhari-hari, berjam-jam  mengenakan APD lengkap dengan situasi dan kondisi saat ini itu sangat sulit,” tuturnya.

Ia pun meminta kepada Wali Kota Serang agar membuat aturan dengan tegas terhadap psycal distancing atau jarak sosial. “Ini berat buat kami (tenaga kesehatan). Kami khawatir setelah lebaran nanti kasus Covid-19 ini meningkat. Sedangkan, kami tenaga kesehatan tidak banyak. Kemudian, satu pasien Covid-19 itu menghabiskan anggaran yang besar untuk kesembuhannya, dengan penanganan yang tepat pula,” ujarnya. (Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here