IPM Banten Meningkat, Pembangunan Manusia Melambat

SERANG, (KB).- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banten pada tahun 2019 mencapai 72,44 atau meningkat 0,49 poin dari tahun 2018 sebesar 71,95. Meski IPM meningkat, namun pembangunan manusia Banten pada tahun 2019 justru melambat.

Hal itu ditandai pertumbuhan IPM yang hanya 0,68 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan tahun 2018 yang mencapai 0,74 persen.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, IPM dihitung berdasarkan rata-rata geometrik dari indeks kesehatan, pengetahuan, dan pengeluaran. Penghitungan ketiga indeks ini dilakukan melalui standardisasi dengan nilai minimum dan maksimum masing-masing komponen indeks.

“IPM merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan manusia di suatu wilayah. Untuk melihat kemajuan pembangunan manusia, terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan dan status pencapaian,” ujar Adhi Wiriana kepada wartawan, Senin (17/2/2020).

Secara umum, kata dia, pembangunan manusia Banten selama sembilan tahun terakhir konsisten mengalami kemajuan. Dimana IPM Banten meningkat dari 67,54 pada tahun 2010 menjadi 72,44 pada tahun 2019.

“Hanya saja, pertumbuhan atau kecepatan kemajuannya pada tahun 2019 mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Status pembangunan manusia di Banten pada 2019 masih pada level yang sama dengan 2018.

“Pada tahun 2019, status pembangunan manusia di Banten berada pada level atau kategori tinggi. Status tersebut masih sama dengan tahun 2018,” ucapnya.

Peningkatan IPM Banten terjadi pada semua komponen pembentuk. Pertumbuhan tertinggi untuk komponen pengeluaran per kapita disesuaikan (PKP). Sedangkan yang terendah pada komponen harapan lama sekolah (HLS).

“Adapun nilai atau capaian Umur Harapan Hidup (UHH), HLS, rata-rata lama sekolah (RLS), dan PKP, masing-masing 69,84 tahun, 12,88 tahun, 8,74 tahun, dan 12,3 juta rupiah,” tuturnya.

Peningkatan ini juga terjadi di semua kabupaten/kota di Banten. Rinciannya, Kabupaten Pandeglang 64,91 dari 64,34, Kabupaten Lebak 63,88 dari 63,37, Kabupaten Tangerang 71,93 dari 71,59. Selanjutnya Kabupaten Serang 66,38 dari 65,39, Kota Tangerang 78,43 dari 77,92, Kota Cilegon 73,01 dari 72,65. Lalu Kota Serang 72,10 dari 71,68 serta Kota Tangsel 81,84 dari 81,17.

“IPM tertinggi dan terendah tetap diduduki oleh Kota Tangsel dengan 81,48 dan terendah Kabupaten Lebak (63,88). Selain dari sisi pencapaian, variasi juga terlihat dari kecepatan atau pertumbuhan IPM-nya. Tercatat, Kabupaten Pandeglang tumbuh 0,89 persen, sehingga menjadi daerah yang pembangunan manusianya mengalami kemajuan paling pesat,” tuturnya.

Tingkatkan capaian mikro

Dalam beberapa kesempatan Gubernur Banten Wahidin Halim menuturkan, pihaknya akan meningkatkan capaian makro di Provinsi Banten. Hingga akhir 2019, empat dari lima indikator makro Banten berada di atas capaian nasional.

Produk domestik regional bruto (PDRB) 2018 telah mencapai Rp 614,91 triliun, terus tumbuh pada semester I 2019 sebesar 5,35 persen, atau di atas capaian nasional sebesar 5,05 persen.

Kemudian, tingkat kemiskinan telah turun pada level 5,09 persen dari 5,25 persen, jauh lebih rendah dibandingkan nasonal yang mencapai 9,41 persen.

Lalu, IPM pada 2018 mencapai 71,95 dan menjadikan Banten sebagai daerah berkategori IPM tinggi, lebih tinggi dibandingkan IPM nasional sebesar 71,39.

“Hal itu sejalan dengan penurunan ketimpangan Banten yang diukur dari gini ratio yang mencapai 0,360, jauh lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 0,382,” katanya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here