Sabtu, 22 September 2018

Indeks Kebahagiaan di Indonesia, Provinsi Banten Nyaris Paling Buncit

SERANG, (KB).- Badan Pusat Statistik merilis laporan bulanan data sosial ekonomi edisi 92, Januari 2018. Laporan tersebut antara lain memuat soal Indeks Kebahagiaan Penduduk Menurut Provinsi tahun 2017.

Provinsi Banten berada pada urutan 29 dari 34 provinsi di Indonesia soal indeks kebahagiaan. Provinsi yang indeks kebahagiaannya paling tinggi yakni Maluku Utara dengan nilai 75,68, sementara terendah ditempati Papua dengan nilai 67,52.

Sejumlah tokoh Banten menanggapi beragam tercecernya indeks kebahagiaan masyarakat Banten versi laporan yang dilansir dari portal Satu Data Indonesia.

Pemerhati masalah ekonomi, H. Boyke Pribadi, menuturkan indeks komposit terdiri atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.

“Kalau kesepuluh bagian tersebut bagus, maka artinya angkanya makin tinggi. Mungkin Maluku dan Maluku Utara indeks ketersediaan waktu luang, keharmonisan, hubungan sosial, dan kondisi rumah dan aset, cukup tinggi,” kata Boyke.

Banten dan Jawa Barat, ungkap Boyke, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, pendapatan rumah tangga, waktu luang, dan keadaan lingkungan mungkin kurang baik. Bidang kesehatan misalnya, bisa dilihat dari kematian ibu melahirkan dan lain-lain. Bidang pendidikan bisa dilihat dari rata-rata lama sekolah, pekerjaan bisa dilihat dari angka pengangguran, pendapatan bisa dilihat dari jumlah kemiskinan. “Indeks yang lainnya, saya belum begitu faham mengukurnya,” kata Boyke.

Soalnya banyaknya industri dan luasnya lahan pertanian di Banten, Boyke mengakui luasnya lahan pertanian memang menunjukkan kesejahteraan. Akan tetapi, tambah dia, di Banten banyak lahan pertanian milik orang luar Banten. Sementara petani Banten hanya sebagai penggarap. Menurut dia, ada hubungan antara kebahagiaan dengan kearifan lokal. Sebab biasanya, yang menjaga kearifan lokal, memiliki hubungan sosial yang bagus di antara sesama warga.

“Seniki meuh, ning Banten sampun mboten wenten sing arane pamali (sekarang di Banten sudah tidak ada lagi pamali). Padahal, istilah pamali bisa digunakan sebagai bentuk kearifan lokal untuk melarang sesuatu perbuatan negatif,” ujarnya.

Perlu dicatat, tambah dia, yang diukur bukan capaian sebagaimana mengukur indeks biasa. Akan tetapi, persepsi responden terhadap 10 indikator tersebut. Jadi sebagai misal, indeks tentang pekerjaan, tidak digunakan angka tingkat pengangguran terbuka, tetapi persepsi responden terhadap pekerjaan yang digelutinya.

“Jika kita ingin menilai indeks-indeks terkait, maka bisa dirujuk terhadap indeks yang sudah diukur oleh BPS. Contoh, bagaimana kepuasan kita melihat angka tingkat pengangguran terbuka di Banten? Nah, artinya responden merasa puas ketika ditanya bagaimana menurut perasaan anda hubungan di antara sesama warga,” katanya.

Sementara pelaku pendidikan di Pandeglang, Mila Fadlia mengatakan, Maluku Utara sangat layak menyandang provinsi paling bahagia se-Indonesia. Sebab, konsep hidup mereka sangat sederhana. Mereka mengedepankan kearifan lokal dalam berbagai hal.

“Di sana tidak menjamur waralaba. Padahal di Banten, di tiap tikungan ada waralaba,” katanya.

Ketika mendapat tugas ke Maluku Utara, ia banyak dibuat takjub, terutama soal pengamalan kebersihan. “Sebanyak 8 kali berturut-turut Maluku Utara bagian Tidore Kepulauan berhasil meraih penghargaan Adipura,” katanya.

Di Maluku Utara, kata Mila, kerja sama antar dinas pun sangat bagus. Setiap acara di satu instansi, maka dari instansi terkait yang lain hadir dan saling support.

“Apalagi dalam hubungan kemasyarakatan. Dalam soal keagamaan, perempuan pun salat berjamaah di masjid, terutama pada waktu Maghrib, Isya dan Subuh. Ketika itu, saya juga larut dalam ritual seperti ini,” tambahnya. (KO)*


Sekilas Info

Pileg 2019, Dimyati dan Dua Anaknya Bersaing di Dapil Banten I

SERANG, (KB).- Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *