Imunisasi Ulang Difteri, Banten Terkendala Dana

SERANG, (KB).- Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten terkendala anggaran operasional untuk melaksanakan outbreak respons immunization (ORI) atau imunisasi ulang difteri yang akan dimulai Senin, 11 Desember nanti. Alasannya, Banten belum bisa menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri karena harus menunggu kabupaten/kota berstatus KLB terlebih dahulu. Sementara saat ini baru Kabupaten Tangerang yang baru menetapkan KLB difteri.

Hal tersebut mencuat saat rapat koordinasi Dinkes Banten bersama 8 kabupaten/kota dan perwakilan Kementerian Kesehatan di Kantor Dinkes Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Jumat (8/12/2017).
“Vaksin sudah disiapkan dari pusat untuk se-Banten. Hanya saja masih ada kesulitan, misalnya pendanaan dan sebagainya. Vaksin kan enggak bisa jalan sendiri, enggak bisa nyuntik sendiri,” ujar Kepala Dinkes Banten Sigit Wardojo, seusai rakor.

Sigit menjelaskan, untuk menetapkan status KLB Provinsi Banten harus didahului pernyataan KLB oleh pemerintah kabupaten/kota. “Dengan KLB kita bisa mengambil langkah-langkah yang jelas, karena bisa menggunakan dana tidak terduga (DTT) untuk membiayai proses imunisasi tadi. Banten belum, harus didahului dengan KLB kabupaten/kota dulu. (Anggaran DTT) sambil berjalan bisa. Harus menggunkan dana-dana yang ada,” kata Sigit.

Menurutnya, wabah difteri di Banten sedianya sudah dinyatakan KLB karena jumlah kasus pada 2017 ini meningkat dari 2016. “Indikatornya salah satunya ada peningkatan kasus dibanding tahun lalu dan meliht fatality-nya. Naiknya dua kali lipat, 2016 kemarin itu 17 kasus dan tidak ada yang meninggal. Tahun ini kan 68 kasus, 8 meninggal,” kata Sigit.

Imunisasi tak lengkap

Ia mengungkapkan, sebaran penyakit difteri di Banten disebabkan berbagai faktor. “Banyak aspek. Bisa juga karena imunisasinya tidak lengkap waktu bayi. Kalau lengkap itu 3 kali imunisasi, dan ditambah booster jadi 4 kali. Itu baru bisa terlindungi,” kata Sigit. Sedangkan Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Banten Wahyu Santoso mengakui kendala saat ini ada pada anggaran operasional untuk melaksanakan ORI. Oleh karena itu ia meminta dukungan dari fasilitas kesehatan (faskes) yang akan di Banten untuk ikut mensukseskan ORI.

“KLB di akhir tahun seperti ini otomatis daya dukung untuk kegiatan ini hampir tidak ada. Apalagi ini masa liburan anak sekolah. Itu kendala kita. Mudah-mudahan dengan perluasan informasi dari media massa, akan membuka akses untuk masyarakat aktif melakukan imunisasi. Semua jenis faskes juga kita harapkan semua jenis pelayanan kesehatan Kita ini tanpa biaya, vaksin nanti kami sediakan,” tuturnya.

Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan Dinkes Banten, drg. Rostina mengatakan, vaksin tetanus-difteri yang sudah siap untuk putaran pertama sebanyak 3.050.000 dosis. “Itu baru satu putaran. Nanti putaran kedua ada lagi sekitar sebulan lagi. Dan putaran ketiga 6 bulan kemudian,” kata Rostina. Soal KLB tingkat provinsi, pihaknya masih menunggu bupati/wali kota menyatakan KLB. Sampai Jumat (8/12) baru Kab. Tangerang yang berstatus KLB difteri.

“Harus ada SK pernyataan KLB dulu dari bupati/wali kota, baru gubernur bisa mengeluarkan SK (KLB) itu. Gubernur tidak bisa langsung mengeluarkan karena kita (provinsi) enggak punya wilayah. (KLB provinsi) minimal kalau sudah separuh kabupaten/kota KLB. Kabupaten Serang belum resmi SK-nya, kemarin baru pernyataan bupati. Mungkin hari ini SK-nya (kemarin),” ujarnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk mengikuti imunisasi serempak 11 Desember mendatang. Sasarannya, dari usia 1-19 tahun tanpa terkecuali meskipun sudah pernah divaksin. “Tidak memandang status vaksinnya. Takutnya mungkin ketika itu imunisasi lengkap, tapi mutu vaksinnya tidak bagus. Kita kan ada sistem rantai dinginnya, untuk menjaga kualitas vaksin,” ujarnya. (RI)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here