IBADAH HAJI, UNTUK SIAPA?

Oleh: Kholid Ma’mun

Semarak masyarakat muslim di tanah air untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci tak pernah surut dan padam, walaupun ongkos naik haji (ONH) semakin membengkak. Meski ibadah haji mahal, namun orang tetap  berlomba untuk memburunya. Kewajiban ibadah haji ditujukan bagi mereka yang mampu dan hanya sekali seumur hidup. baik mampu secara fisik dan kesehatan, mampu secara finansial dan material, serta didukung dengan keamanan selama pelaksanaan ibadahnya.

Melihat fenomena yang terjadi di sekeliling kita belakangan ini, ada baiknya kita kembali mengingat pesan baginda Rasul SAW yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik dan dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin: ‘Kana Fi Akhirizzaman Kharajannasu lil Hajji Arba’ata Ashnafin” yang artinya Besok pada akhir zaman orang-orang yang pergi menunaikan haji akan dibagi menjadi empaat golongan.

Golongan pertama Salathinuhum Linnuzhah, yaitu kelompok penguasa atau elit masyarakat yang pergi menunaikan haji karena dorongan untuk plesiran dan jalan-jalan atau wisata haji. Bagi kelompok ini mungkin berhaji bukan sebagai tujuan akan tetapi hanya sekedar menjadi sarana untuk bersenang-senaang dan  untuk memuaskan nafsunya.

Selama melaksanakan ibadah haji yang dipikirkan oleh kelompok ini adalah hal-hal yang tidak terkait langsung dengan ibadahnya, melainkan lebih pada hal-hal yang sifatnya diluar dari tujuan utamannya, seperti tentang fasilitas hotel tempat menginap, konsumsi selama di tanah suci, transportasi dan uang saku sampai dengan shooping di pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam barang dagangan. Menurut Rasulullah kecenderungan motivasi ini biasa terjadi pada kelompok penguasa, seperti raja, presiden dan orang- orang berpangkat semacamnya.

Golongan  kedua, wa aghniyauhum littijarah, “motivasi orang-orang kaya yang berangkat hajinya disebabkan karena tujuan bisnis. Berhaji sambil bisnis, misalnya sambil mencari partner usaha manca negara, mencari modal kerja atau usaha-usaha lain yang sifatnya untuk kepentingan bisnis yang semua tidak ada kaitannya dengan manasik haji.

Golongan ketiga, wa ulamauhum lissum’ah, kelompok ulama yang berangkat haji karena mencari populiratis”, dengan tujuan supaya lebih terkenal dan punya daya jual lebih di hadapan masyarakat, sehingga dengan hal ini ia lupa dari tujuan utama bahwa ibadah haji adalah sebagai wujud ketaan seseorang terhadap perintah Tuhan-Nya

Dan yang terakhir golongan  ke empat, wa fuqarauhum lil mas’alah, kelompok orang fakir yang berangkat haji karena ingin mencari bantuan, sumbangan dengan tujuan untuk meringankan beban hidupnya

Hadis di atas mengingatkan kita terhadap niat utama, meskipun bentuk kegiatan ibadah hanya satu “haji” tetapi motivasi dan niat orang yang meksanakan bisa bermacam-macam. Kecenderungan semacam ini bukan hanya terjadi pada ibadah haji saja, tetapi bisa juga terjadi pada pelaksanaan ibadah-ibadah yang lain.

Makna Spiritual Ibadah Haji

Ibadah haji secara esensial adalah melakukan napak tilas atas pengalaman tiga orang hamba Allah yang shalih dalam mencapai tingkatan tauhid yang paling tinggi. Tiga orang dimaksud adalah Nabiyullah Ibrahim As, Siti Hajar dan Nabiyullah Ismail As, beliau-beliau inilah yang sangat berjasa meletakkan dasar-dasar dari apa yang kini disebut sebagai faham Ketuhanan Yang Maha Esa (Mengesakan Allah SWT). karena itu dimensi ibadah haji pertama-tama ialah dimensi vertikal. Yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhannya.

Pakaian iharam yang dikenakan oleh jama’ah haji mengandung simbol bahwa suatu saat kelak ketika meninggal seseorang akan dipakaikan kain kafan. Pada saat itulah sebenarnya kita tengah diingatkan oleh Allah melalui ritual ibadah haji ini bahwa sesungguhnya kita akan melepaskan pakaian dunia ini satu persatu dan memasuki alam akhirat.

Dengan pakaian ihram ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia sebenarnya kita tidak memeliki apa-apa yang bisa kita bangga-banggakan di hadapan Allah. Kecuali yang melekat dalam diri kita, yaitu keimanan dan amal shalih yang kita kerjakan semasa hidup. Segala sesuatu yang tidak esensisal melekat dalam diri kita pasti akan kita lepaskan karena bukan milik kita, sehingga ketika seseorang meninggal maka diucapkan lafadz “Innaa Lillahi wa Innaa Ilahi Rajiuun” bahwa kita adalah milik Allah dan kepadaNya-lah kita akan kembali.

Dengan pakain ihram kita dididik untuk melepaskan diri kita dari klaim-klaim superiotitas. Ketidaksamaan derajat, warna kulit, dan lain-lain.

Esensi Thawaf

Selain mengenakan pakaian ihram, dalam ritual ibadah haji kita juga melakukan thawaf, yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa ka’bah adalah rumah suci yang pertama kali didirikan untuk manusia: “Sesungguhnya rumah suci yang pertama didirikan untuk manusia adalah yang di lembah Bakkah (Mekah) itu sebagai rumah yang diberkahi Allah dan sebagai petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 96)

Secara kasat mata thawaf adalah amalan mengelilingi ka’bah, akan tetapi secara esensial thawaf sebenarnya adalah menirukan tindakan seluruh jagad. Sebagaimana dalam ilmu alam kita diajarkan bahwa bulan beredar mengelilingi bumi, bumi beredar mengelilingi matahari, dan matahari mengelilingi pusat dari gugusan bintang yang disebut dengan galaksi bima sakti. Gerakan berkeliling itulah yang disebut thawaf. Jadi, thawaf tidak hanya dilakukan oleh manusia pada saat berhaji. Justru ketika thawaf itu manusia hanya menirukan alam raya yang berkeliling kepada satu pusat. Dengan berthawaf kita kita seakan tengah menegaskan diri sebagai bagian dari seluruh alam raya yang tunduk dan patuh kepada sang pencipta, Allah SWT.

Esensi Sa’I

Sa’I adalah berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah. Ketika melakukan sa’I terkandung makna simbol atau lambang kecintaan seorang ibu kepada anaknya. Dikisahkan dalam sejarah bahwa Nabiyullah Ibrahim As. meninggalkan istri (Siti Hajar) dan anaknya (Nabiyullah Ismail As.) di satu lembah yang tandus, seraya mengatakan bahwa itu merupakan perintah Allah.

Di saat air bekal persediaan habis, Siti Hajar dilanda kebingungan, akhirnya beliau naik ke atas bukit untuk mencari air, tetapi di sana pun beliau tidak menemukan air yang dicarinya. Maka dengan perasaan panik, Siti Hajar berlari-lari  dari Shafa ke Marwah, ternyata di sanapun tidak ada air, akhirnya beliuapun kembali kepada anaknya (Nabiyullah Ismail). namaun sungguh mengejutkan, ternyata air memancar dari bawah tanah gersang nan tandus itu. Secara spontan beliau seakan berbicara kepada air tersebut: “Hai air kumpulah di sini, kumpulah di sini” atau dalam bahasa ibrani “zam-zam” yang akhirnya samapai saat ini dikenal dengan air zam-zam.

Esensi Wukuf

Wuquf di Arafah adalah merupakan salah satu bagian dari ibadah haji. Bahkan ada hadis nabi yang berbunyi “Al hajju Arafah”. ada cerita bahwa dahulu Nabi Adam As. setelah diturunkan dari surga ke dunia, dalam keadaan terpisah dengan istrinya. Ibunda Hawa, dan mereka bertemu kembali di bukit Arafah.

Yang lebih penting untuk kita ketahui berkenaan wuquf di Arafah itu Nabi pernah menyampaikan sebuah pidato yang kelak disebut dengan “khutbaul wada’ atau khutbah perpisahan”. Nabi pernah bersabda “Al-Hajju Arafah” (Haji adalah wuquf di Arafah). Hadis ini mengandung arti bahwa orang yang haji maka ia harus wuquf di Arafah.

Mengapa wuquf di Arafah demikian penting? Karena ada sesuatu yang harus di hayati di sana berkenaan dengan pidato perpisahan atau khutbah wada. Dalam pidatonya Nabi SAW. Memulai pidatonya dengan pernyataan: “wahai sekalian umat manusia, tahukah kalian dalam bulan apa kalian ini, di hari apa kalian ini, dan di negeri apa kalian ini?

Hadirin para sahabat pada saat itu menjawab:” Kita semuanya ada dalam hari yang suci, bulan yang suci, dan ditanah yang suci.”. mendengar jawaban itu nabi melanjutkan pidatonya:”oleh karena itu, ingatlah bahwa hidupmu, hartamu, dan kehormatanmu itu suci, seperti sucinya harimu ini, dan bulanmu ini, di negeri yang suci ini, sampai kamu datang menghadap Tuhan.” sejenak Nabi diam, tetapi kemudian melanjutkan sabdanya :”Sekarang dengarkan aku, dengarkanlah aku, maka kamu akan hidup tenang; ingatlah kamu tidak boleh menindas orang, tidak boleh berbuat zalim kepada oranng lain, dan tidak boleh mengambil harta orang lain.

Pidato Nabi inilah yang akhirnya terkenal dengan pidato tentang hak-hak asasi manusia (HAM). jauh sebelum orang-orang Barat sekarang ini teriak-teriak tentang HAM, dasar-dasar kemanusiaan itu telah diletakkan oleh Nabi Muhmamad SAW. Sehingga tidak heran jika banyak sarjana Barat yang kini mengakui bahwa orang Barat mengenal dan mengetahui penghormatan kepada manusia dari Islam. Sebelum itu mereka tidak tahu dan mengenal bahwa manusia adalah cipataan Allah yang paling mulia.

Jadi, salah satu hikmah yang harus dipetik dari ibadah haji, terutama ketika kita wuquf di Arafah. Ialah penghayatan tentang perikemanusiaan. Sebagaiamana firman Allah yang berkaitan dengan haji semuanya mengandung penekanan agar menjaga kemaslahatan dan  kemanusiaan

Motivasi Ibadah

Secara umum motivasi ibadah di dalam agama dapat dikelompokkan ke dalam dua hal, pertama ibadah karena keikhlasan (karena Allah, Lillah). kedua ibadah karena riya’ (adanya unsur lain dalam melaksanakan ibadah). Yang diharapkan oleh agama, semua ibadah, baik qalbiyah “aktifitas hati” atau yang menyangkut aktifitas hati sekaligus ragawi, Jasmaniyah maupun  aktivitas yang berkaitan dengan masalah harta, hendaknya semua harus berdasarkan karena Allah semata.

Semangat inilah yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5, “wa maa umiruu illa liya’budullaha mukhlisina lahuddin”, manusia tidak diperintah apa-apa kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya (ikhlas)”.

Namun, pada kenyataanya banyak manusia yang beribadah kepada Allah bukan semata-mata keikhlasan pengabdian, melaikan kerena dorongan-dorongan lain, yang sering kali mengalihkan perhatiannya bahkan bisa merusak nilai ibadah utama.

Tingkatan Motivasi dalam Beribadah

Petama, motivasi karena memandang ibadah sebagai suatu kewajiban yang harus ditunaikan. Bagi orang yang menganggap ibadah sebagai sebuah kewajiban, sikap yang muncul adalah nerimo ing pandhum, pantang menolak dan tidak ada keinginan atau angan-angan untuk  mengingkarinya.

Kedua, adakalanya orang melakukan ibadah karena didorong oleh keinginan untuk memperoleh pahala atau imbalan dari Allah SWT. Atau jenis ibadah semacam ini disebut dengan “ibadah lil matsubah” atau ibadah karena upah/ pahala.

Ketiga, motivasi ibadah yang melebihi kwalitasnya dari jenis model ibadah yang pertama dan kedua, yaitu ibadah karena semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperoleh ridha Allah, atau ingin agar hubungannya dengan Allah bertambah dekat dan melekat.

Agama menganjurkan agar ibadah dilakukan dengan motivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjaga kemurnian (keikhlasan) dan agar jarak hubungan manusia dengan Allah lebih dekat, akrab dan semakin mesra. Sebab kedekatan hubungan dengan Allah akan membawa manfaat dan kebaikan bagi pelakunya. Ibadah yang didasari dengan keikhlasan akan mengahasilkan suatu ibadah yang mempunyai nilai dan bobot  yang tinggi di hadapan Allah.

Selamat menunaikan ibadah haji bagi para jama’ah di seluruh penjuru dunia, wabil khusus jama’ah haji Indonesia. Semoga amal ibadah haji kita sah dan sesuai dengan apa yang diajarakan oleh Allah dan Rasul-Nya sehingga ibadah haji kita mendapat ridha dari-Nya dan berbuah hajjan mabruran, haji mabrur yang mampu membakar nafsu dan sifat buruk dalam diri kita. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika La Syarika Laka Labbaik, Innal Hamda Wannimata Laka Wal Mulk Laa Syarika lak. (Penulis adalah Pengajar di Ponpes Modern Daar El Istiqomah, Penulis Buku Celoteh Santri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here