Hj Ade Yuliasih: Jangan Sampai Alumni Pesantren Sulit Nyari Kerja

SERANG, (KB).- Anggota Komisi V DPRD Banten Hj Ade Yuliasih meminta para pengelola pesantren agar meningkatkan skil para santri. Dengan demikian, setelah mereka menjadi alumni tidak kesulitan, mencari pekerjaan.

“Pondok pesantren jangan puas dengan hasil yang ada, terus tingkatkan skil para santri. Terus galang kerjasama-kerjasama dengan berbagai pihak, terutama kalangan dunia kerja,” kata Hj. Ade Yuliasih ketika menjadi pembicara dalam diskusi terbatas bertema Pondok Pesantren, Selasa (5/6/2018).

Kegiatan berlangsung di kantor Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Banten, menghadirikan pembicara dari kalangan politisi, akademisi, pengasuh pondok pesantren, birokrat, dan pengurus FSPP.

Mereka masing-masing Ketua Presidium FSPP Banten KH. Matin Djawahir, Pengasuk Pondok Pesantren Nurul Bantani Dalung Kota Serang KH. Muhammad Shodikin, Ketua Infokom FSPP Banten Dr. Fadlullah, Anggota Komisi V DPRD Banten Ade Yuliasih, Kepala Seksi Pondok Pesantren pada Kanwil Kemenag Banten Eroh Bahiroh, akademisi UIN SMH Banten Dr. Efi Syarifudin, dan akademisi Untirta Hady Sutjipto. Diskusi tersebut dipandu Direktur PT Fajar Pikiran Rakyat (Kabar Banten) Rachmat Ginandjar.

Menurut Hj. Ade Yuliasih, banyak pihak di Provinsi Banten yang bisa didekati oleh FSPP untuk diajak kerjasama peningkatan kualitas skil santri, antara lain Balai Besar Latihan Kerja Industri (BBLKI) Serang. “BBLKI kan lokasinya di Kota Serang, harusnya anak-anak Banten yang banyak memanfaatkannya,” kata Hj. Ade Yuliasih.

Dikemukakan, pelaku industri juga harus didekati untuk diajak kerjasama membangun sumber daya manusia (SDM) santri.
“Pesantren bukan hanya mencetak calon-calon kiai atau da’i, tapi juga harus melahirkan para calon birokrat hingga teknokrat. Untuk menuju ke arah itu, maka skil santri harus ditingkatkan,” katanya.

Menurut Hj. Ade Yuliasih, kalau kemampuan mengaji maka masyarakat tidak akan ragu dengan kemampuan santri. Tapi ketika menyangkut soal memenuhi kebutuhan dunia kerja, maka pesantren masih harus berjuang keras. “Jangan sampai alumni pesantren kesulitan mencari pekerjaan,” ujarnya.

Namun Hj. Ade Yuliasih mengakui, selain kemampuan membaca kitab gundul, kemampuan para santri dalam berbahasa asing mendapat apresiasi masyarakat. Hal itu dibuktikan, saat ini pesantren bukan lagi menjadi pendidikan alternatif, tapi menjadi tujuan para orang tua. Sebab, dengan kemampuan berbahasa asing akan banyak yang bisa dilakukan oleh santri setelahnya mereka menjadi alumni. “Dengan menguasai bahasa asing, santri punya banyak pilihan dalam pekerjaan,” katanya. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here