Hiruk Pikuk Mabit di Mina: Tenda Sempit, Antrean Mengular di Kamar Mandi

Jemaah haji sejak Ahad (11/8/2019) sudah menetap sementara atau mabit di Mina. Para dhuyufurahman mulai Senin (12/8/2019) melaksanakan lempar jumrah (jamarat) di Mina pada hari tasyrik yakni 11,12,13 Zulhijah.

Bagi yang mengambil nafar awal mabit di Mina hanya sampai 12 Zulhijah. Sedangkan bagi yang mengambil nafar sani mabit di Mina hingga 13 Zulhijah.

Selama mabit di Mina, jemaah haji ditempatkan di tenda-tenda permanen dengan ukuran sekitar 5×10 meter untuk kapisitas 40 orang dan ukuran 10×20 untuk kapasitas 80 orang.

Luas tenda tersebut sudah tentu hanya bisa ditempati jemaah untuk menaruh tas atau koper. Selebihnya hanya untuk selonjoran atau kalau tidur dalam posisi meringkuk.

“Sikap tidak mementingkan diri sendiri diuji di sini. Kalau tidak, maka kasian ada jemaah yang tidak kebagian tempat,” kata jemaah asal Palembang Abdurrahman.

Ujian kesabaran paling berat dialami jemaah haji Banten dan juga daerah lain pada saat berangkat dari Mudzalifah ke Mina pada 10 Zulhijah. Antrean panjang jemaah haji menaiki bus dan jalan yang macet menyebabkan jemaah ada yang pingsan.

“Keberangkatan dari Mudzalifah adalah titik rawan, karena antrean yang berjam-jam. Bahkan ada rombongan ke Mina sampai pagi hari,” kata H. Masduki, jemaah asal Banten.

Menurut dia, hal itu harus disadari sebagai bentuk ujian. “Kalau tidak sabar, yang timbul marah, berdebat dan lainnya. Apalagi pas datang, kapasitas tenda sangat terbatas. Tidur pun harus berdesak-desakan,” tuturnya.

Antrean mengular

Selain kapasitas tenda yang terbatas, fasilitas kamar mandi dan toilet sangat minim. Rata-rata per empat kloter disediakan satu blok kamar mandi yang berisi 10 kamar mandi, lima tempat wudu, dan empat toilet untuk laki-laki.

“Coba saja bayangkan, satu blok kamar mandi untuk 4 kloter atau sekitar 1.200 jemaah haji. Kebayang antreannya,” ucap Maryaman, jemaah haji asal Banten.

Fasilitas tersebut diperburuk dengan perilaku jemaah yang jorok. Akibatnya, toilet cepat rusak bahkan ada yang roboh, botol air mineral menumpuk dan berserakan di lokasi toilet.

Dalam kunjungan ke sejumlah maktab, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin tidak menutup mata terhadap kondisi tenda di Mina dan fasilitas toilet. Namun, dia mengklaim kondisi ini sudah lebih baik.

“Kalau kapasitas tenda yang begini adanya di Mina. Mau gimana lagi karena di Mina tidak bisa dilakukan perluasan sebagaimana di Mekah. Kami sudah sampaikan ke Pemerintah Arab Saudi. Tapi Pemerintah Arab Saudi belum ada program perluasan,” kata Menag dalam sesi dengar aspirasi di depan kawasan tenda Mina, Ahad (11/8/2019) malam.

Mengenai antrean toilet yang mengular, Menag mengklaim sudah lebih baik tahun ini. “Antrean ke toilet tahun ini sudah tidak sepanjang tahun lalu. Saya juga tadi ikut antre loh,” kata Menag yang selalu bersarung batik ini kepada para wartawan. (Maksuni Husen)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here