Hindari Perdebatan Saat Berhaji

Oleh : Dede Ahmad Permana

Mengapa Allah SWT menyebutkan secara khusus larangan berdebat (al jidal) bagi para jemaah saat menjalankan ibadah haji? “Barangsiapa meniatkan dirinya untuk berhaji pada tahun itu, maka ia tidak boleh rafats, fusuq dan jidal selama berhaji” (Al Baqarah 197).

Dari perjalanan haji kali ini, penulis temukan jawabannya. Potensi terjadinya perselisihan pendapat di kalangan para jemaah ternyata sangat kuat, terutama seputar tata cara ibadah.

Jumat lalu, kami bersiap hendak berangkat ke Arafah. Pihak maktab menjanjikan jemputan jam 10.00 pagi. Seluruh jemaah segera bersiap di loby hotel dan berniat ihram haji.

Hingga menjelang waktu dzuhur, bis belum datang juga. Sejumlah jemaah mulai bertanya-tanya, apakah kita harus shalat Jumat ataukah shalat dzuhur. Obrolan-obrolan itu berkembang menjadi perdebatan. Ada jemaah yang mengusulkan dzuhur saja. Sekelompok jemaah lain minta agar jumatan digelar di mushalla hotel.

Sekelompok lainnya mengusulkan agar jumatan di mushalla hotel kemudian setelah itu shalat dzuhur juga (i’adah). Hal ini dilakukan sebagai antisipasi jumatannya tidak sah, karena kurang syarat sbgmana dibahas para ulama fiqh klasik.

Sebagai petugas bagian bimbingan ibadah, penulis berusaha menjelaskan persoalan ini, sebijak mungkin kepada jemaah. Tanpa ada kesan menggurui apalagi menghakimi. Kemudian penulis meminta ketua kloter untuk mengambil keputusan agar diskusi tidak berlarut. Khawatir kena larangan jidal itu tadi.

Dua hari kemudian, ketika kami hendak menjalankan mabit di Mina, seorang jemaah yang dikenal sebagai kyai sepuh di desanya ngotot tidak mau ikut mabit di tenda yang telah ditentukan.

Ia bersama sejumlah jemaah lainnya, memilih mabit dengan cara gelar tikar duduk-duduk di sekitar tempat melontar jumroh. “Tenda kita berlokasi di Mina Jadid, tidak sah,” kata dia tegas, “karena Mina Jadid sebenarnya bukan termasuk wilayah Mina” demikian alasannya.

Benar bahwa sebagian besar tenda jamaah Indonesia berlokasi di Mina Jadid. Mina Jadid ini merupakan area perluasan baru dari kawasan Mina. Perluasan dilakukan oleh pemerintah Saudi karena melonjaknya jumlah jemaah sehingga kawasan Mina sudah tidak muat lagi.

Fatwa para ulama dunia (termasuk MUI) bahwa mabit di Mina Jadid adalah sah, karena kawasan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Mina. Ibarat jemaah Jumatan yang membludak, maka Jumatan di luar masjid adalah sah, dengan syarat ittishal : barisan jemaah tetap tersambung.

“Pembahasan sah atau tidaknya mabit di tenda Mina Jadid, sudah selesai dilakukan oleh para ulama dunia. Itu tanggungjawab ulama dan umaro kita. Kita tinggal melaksanakan saja”, tutur penulis kepada pak Kyai itu.

Beberapa referensi, penulis sampaikan secara singkat. Dengan bahasa halus tentunya. Seperti tadi di atas : tidak ada kesan menggurui apalagi mengkimi. Tapi rupanya ia bersikukuh dengan pendapatnya meski dengan sikap yang lebih lunak.

Ya sudah, penulis tidak tanggapi lebih lanjut, karena lagi-lagi tidak mau terpancing dalam jidal, alias diskusi yang tidak akan ada ujungnya. Penulis tidak mau nilai ibadah rusak karenanya.

Sebagaimana kata ulama besar ibn Katsir, jidal yang terlarang selama berhaji dapat terjadi dalam dua bentuk : berdebat seputar tata cara manasik haji (al mujadalah fi waqtil hajji fi manasikihi), dan kedua, bertengkar hingga menimbulkan kemarahan (al mukhasamah). Kedua perkara ini harus dihindari sebisa mungkin guna menjaga kesempurnaan nilai ibadah haji.

Saat berhaji, jemaah justru harus belajar sabar, termasuk sabar dalam menahan diri dari percekcokan atau berbantah-bantahan yang tidak perlu. Perselisihan yang berlarut-larut hanyalah buang-buang energi dan waktu. Dalam surat al Anfal ayat 46, Allah mengingatkan bahwa berbantah-bantahan dapat menyebabkan “kamu gentar dan kehilangan kekuatan”.

Ibadah haji idealnya menjadi momen pemersatu umat Islam. Bukan saatnya berbantah-bantahan apalagi menyangkut persoalan khilafiah yang didiskusikan sampai kapan pun tidak akan ada ujungnya. Wallahu A’lam. (Penulis adalah Tim Petugas Haji Daerah Provinsi Banten 2019, Pimpinan Ponpes Darul Iman Pandeglang)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here