Hemat Pangkal Selamat

KH. AM Romly, Ketua MUI Banten.*

KH. AM. Romly

Pribahasa mengatakan: “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Di tengah-tengah badai corona dengan segala dampaknya, kita perlu mengubah sedikit kalimatnya. Jadi bukan hemat pangkal kaya, tetapi hemat pangkal selamat. Sebab, keselamatan itulah yang diperlukan sekarang ini, baik bagi pribadi maupun sebagai bangsa. Selamat dari terjangkit virus corona dan selamat dari bahaya kelaparan, yang juga mengintai kita.

Dalam keadaan genting ini, kita perlu cermat dalam mengelola semua keperluan. Biasanya kebutuhan terasa lebih meningkat ketika menjelang hari raya, terutama lebaran dan natalan, yang berlangsung sekali dalam setahun.

Untuk itu, kita tidak seyogyanya mengedepankan keinginan dari pada keperluan. Prilaku kita yang sudah menjadi kebiasaan. Mengubah kebiasaan memang berat. Tetapi kita harus kuat menjalaninya agar rumah tangga kita selamat. Oleh karena itu, kita hendaknya dapat membuat skala prioritas kebutuhan secara tepat.

Tidak boros

Kalau kita menurutkan hawa nafsu, rasanya semua keinginan hendak kita penuhi. Allah mengingatkan bahwa jika kita mengumbar hawa nafsu maka sesuatu yang buruk akan menanti (QS Yusuf: 53). Mengikuti hawa nafsu akan membinasakan diri (HR Thabrani). Kita harus menjadi orang yang kuat dan berani, yaitu orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu pribadi (HR Ahmad, Bukkhari dan Muslim).

Sang Buddha mengajarkan bahwa bagi orang yang dapat mengendalikan nafsu secara memadai, kesedihan akan lenyap dari dalam dirinya seperti air yang menetes dari daun teratai (Dhammapada XXIV: 336).

Salah satu julukan yang disematkan kepada manusia adalah homo economicus, makhluk hidup yang gerak geriknya selalu dipimpin oleh motif ekonomi. Motif ekonomi ini bersumber pada sifat dasar manusia yaitu kehendak diri, yang oleh filsuf Jerman Schopenhauer disebut “die Wille zum Leben” kemauan untuk tetap hidup, dan menurut ilmuwan Inggris Darwin disebut “the will to survive”, keinginan untuk mengatasi bahaya mati. Namum dalam keterbatasan keuangan sebagai dampak mewabahnya corona, maka untuk mempertahankan hidup mengharuskan kita mengelolanya secara hati-hati.

Allah telah menuntun kita, agar makan minum yang wajar, tidak berlebihan. Karena Allah tidak menyukai orang yang berprilaku serampangan (QS Al A’raf: 31). Allah juga melarang pemborosan.

Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara syetan. Sedangkan syetan adalah makhluk yang sangat mengingkari Tuhan. (QS Al Isra: 26-27) Nabi Muhammad SAW juga telah mengajarkan kita agar makan, minum, berpakaian, dan shadaqah tidak berlebihan dan bermegah-megahan (HR Ahmad).

Agama Hindu juga mengajarkan bahwa para dewa tidak menyukai orang yang boros dan bermalas-malasan (Atharvaveda XX. 18.3). Kalau kita terus berlaku boros, maka di waktu yang akan datang kita akan mengalami kesusahan.

Khonghucu memberi nasihat bahwa manusia harus memikirkan masa depan, dengan berlaku jujur dan menjauhi pemborosan (Sabda Suci I:6). Sebab jika orag tidak mau berpikir tentang kemungkinan masa depan, kesukaran dan kesusahan sudah dekat dengan kehidupan (Sabda Suci IV: 12).

Belanja bijak

Jadi bagaimana kita mengelola keuangan dengan tepat? Allah menuntun kita agar mengelola keuangan secara cermat. Kita tidak boleh boros, tapi jangan pula pelit (QS Al-Isra: 29). Hamba Allah yang baik adalah yang menginfakkan hartanya tidak berlebihan dan menghindari kekikiran; hendaknya berada di antara keduanya, secara wajar atau berada di posisi pertengahan (QS Al Furqan: 67). Sebaik-baik urusan adalah pertengahan atau sederhana (Al-Hadits). Keutamaan terletak dalam posisi di tengah-tengah, kata Aristoteles dalam buku Ethica Nikomacheia.

Di sini kita harus jeli, apa yang harus kita beli dan mana yang sementara kita hindari. Dengan demikian, rumah tangga kita akan aman dan terkendali. Islam mengajarkan agar kita belanja sesuai keperluan dan mengabaikan sesuatu yang tidak dibutuhkan (HR A-Tirmidzi).

Bahkan dalam Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 ditegaskan bahwa tindakan yang akan menimbulkan kepanikan seperti memborong keperluan sehari-hari atau menimbunnya untuk meraih untung besar hukumnya HARAM.

Agama Kristen juga menuntun umat agar memenuhi kebutuhan hidup sesuai keperluan yang nyata, baik untuk pribadi maupun untuk keluarga. (Ulangan 16:16). Juga menganjurkan hidup sederhana (Titus 2:2).

Karen Tuhan memelihara orang-orang yang sederhana (Mazmur 116: 6). Harta yang indah adalah harta yang ada di kediaman orang bijak sehingga tetap terjaga, karena orang yang bebal memboroskannya (Amsal 21:20). Sebab kalau dihabiskan semuanya akan timbul bencana kelaparan dalam suatu negara dan orang pun mulai jatuh ke jurang nestapa (Lukas 15:14).

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa semua agama mengajarkan umatnya untuk mengelola keuangan secara bijak dan tepat. Oleh karena itu, mari berbelanja secara cermat dan hemat. Insya Allah rumah tangga kita akan selamat. (Penulis, Ketua Umum MUI Provinsi Banten/Ketua FKUB Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here