Rabu, 16 Januari 2019

HAUL KALEMBAK

Oleh:

Tubagus Najib

Caringin. Sebagai kota Kabupaten, sebelum pindah ke Menes, berikutnya ke Pandeglang, Caringin sebagai kota Kabupaten, telah disapu Tsunami tahun 1883, terjadi perubahan garis pantai, pantai menjorok ke dalam, sehingga bangunan yang dekat pantai telah tenggelam, sementara bangunan dibelakangnya pada arah timur dari bangunan yang tenggelam, telah hancur, masyarakat menamakannya sebagai Gedung Rombeng, diperkirakan sebagai bangunan kabupaten, sementara yang dekat pantai atau pada arah baratnya telah tenggelam, dan ditemukan struktur fundasi, diperkirakan sebagai bangunan Masjid atau Masjid Caringin Lama.

Sebelum terjadi Tsunami, K.H.Asnawi Caringin Hijrah bersama keluarga dan pengikutnya ke Menes. Rencana Hijrah karena ada firasat akan datang bencana di Caringin. Kembali ke Caringin, dibangun kembali Masjid, dan diadakan Haul Kalembak. Haul Kalembak ini diselenggarkan setiap tahun pada peristiwa bencana Tsunami. Setelah wafatnya K.H. Asnawi Caringin sudah tidak ada lagi peringatan Haul Kalembak. Haul biasanya adalah untuk mengenang kematian seseorang, namun juga Haul untuk memperingati peristiwa Bencana.

Kisah Korban Letusan Krakatau (27 Agustus 1883 – 27 Agustus 2005)

Pendahuluan

Krakatau merupakan salah satu gunung purba di Indonesia, yang masih hidup yang melahirkan generasi berunya yang bernama Rakata. Gunung purba lainnya yang sudah berubah menjadi danau adalah;   Rawa Danau, kawah besar yang menjadi danau di antara kecamatan Paburan dan Taktakan Kabupaten Serang, demikian juga teluk Banten diperkirakan bekas cekungan kawah gunung purba yang meletus ribuan tahun yang lalu sebelum masehi, gunung Toba yang telah menjadi sebuah danau, berikutnya gunung Tangkuban  Perahu yang telah menjadi lembah Bandung atau cekungan Bandung, lalu gunung Guntur yang telah menjadi Lembah Leles.

Sementara Gunung Krakatau telah melahirkan generasi baru yang disebut dengan anak gunung Krakatau atau yang dikenal Rakata. Keunikan Krakatau disamping telah melahirkan  anak Krakatau juga ia merupakan gunung yang berada di tengah laut. Sebagaimna diketahui di dunia ini ada dua buah gunung yang berada di tengah laut yaitu gunung Krakatau dan gunung Epta di Sicilia.

Krakatau sebagai gunung purba, boleh jadi pada masa prasejarah telah mengalami letusan, hal itu sebagaimana yang terjadi pada gunung Tangkuban perahu yang membentuk cekungan Bandung yang terbentuk selama dua periode, periode pertama terjadi pada 100.000 (SM) tahun yang lalu dan periode kedua terjadi sekitar 6000 (SM) tahun yang lalu. Apakah cekungan teluk Banten terjadi pada masa purba, karena ada suatu perkiraan geologi bahwa situs Teluk Banten terdapat semacam hulu sungai, namun hal itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Hanya yang jelas dalam catatan sejarah Krakatau telah meletus dua kali yaitu tahun 416 M dan tahun 1883 M.

Krakatau memang dahsyat yang telah menewaskan sekitar 36.417 jiwa dan menenggelamkan kota metropolitan di Banten Lor, Caringin. Dari hasil temuan artefak Caringin sebagai kota metropolit telah menyimpan bukti hubungan dengan dunia luar yang sudah cukup lama, berdasarkan fragmen keramik, diantaranya ada yang berasal dari abad 16. Berdasarkan temuan keramik bangsa-bangsa asing yang telah mengadakan kontak perdagangan dengan Caringin antara lain Cina, Thailan, Jepang Belanda dll.

Namun demikian Krakatau itu indah. Keindahan krakatau juga menjadi logo Provinsi Banten, artinya Krakatau merupakan bagian dari Provinsi yang tak terpisahkan, namun pada tahun 1985 entah kenapa Krakatau masuk Provinsi Lampung. Apakah karena kepedulian Pemerintah Lampung terhadap korban Krakatau sehingga telah dibangun monumen korban Krakatau, setiap tahun secara rutin diselenggarakan vestival Krakatau dan kepedulian lainya terhadap korban Krakatau.

Sebelum Meletus

Kondisi Masyarakat Abad ke-19 Pemerintahan di bawah Kendali Kolonial.

Abad 19 merupakan puncak arogansi kolonial, setelah mereka mendapatkan segalanya, berikutnya mereka hendak mengatur keyakinan (agama) yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Banten. Sebagaimana diketahui bahwa Islam tidak mengajarkan dikotomi atau pemisahan antara ajaran dengan kehidupan dalam segala bidang, bahkan ajaran harus dilaksanakan secara kafah dalam segala aspek kehidupan, temasuk dalam kehidupan politik, sehingga kehidupan politik dapat terkendali tidak sewenang-wenang dan tidak pandang bulu yang benar dibela dan yang salah dihukum.

Tingkat taqwanya semangkin tinggi ia akan semangkin arif dalam menjalankan roda pemerintahannya, ia sadar bahwa memimpin adalah amanat, dan amanat tersebut akan dipertanggungjawabkan baik dihadapan manusia maupun dihadapan Allah, boleh jadi dihadapan manusia ia bisa membohong, menyuap dan lepas dari pertanggungjawabannya tetapi dihadapan Allah tidak ada sebiji zarahpun yang tertinggal karena bagian-bagian anggota badan akan menjadi saksi. Kelemahan pemerintahan Islam adalah dalam minijemennya

Keadaan Masyarakat

Pemisahan ajaran dengan kehidupan dalam segala aspeknya dampaknya juga terhadap penganutnya juga sedikit demi sedikit telah terpisah dari ajarannya, hal itu yang dikenal dengan penerapan politik Etnis. Kolonial tidak mampu menghapus kehidupan agama tetapi ia telah mampu memisahkan antara ajaran dengan penganutnya, Pemisahan tersebut, di Jawa dikenal dengan istilah abangan santri dan priyai, dari istilah tersebut mereka saling menunjukkan egonya akhirnya yang dirugikan adalah citra Islam.

Sebaliknya konsep tersebut tidak bisa diterapkan di Banten karena masyarakat Banten meyakini bahwa Allah menilai dari segi ketaqwaannya, sehingga konsep yang dioterapkan adalah dikotomi fanatik dan tidak fanatik. Istilah tersebut sesungunya positif namun dalam perkembangan berikutnya menjadi negatif, sehingga ada sebagian masyarakat yang malu kalau disebut fanatik.akhirnya yang terjadi adalah meninggalkan ajaran. Hal inipun telah merugikan citra Islam.

Serang (Insting Hewan)

Minggu malam tgl 26 Agustus 1883, tanda-tanda akan meletusnya Krakatau telah dirasakan oleh hewan-hewan, gelisah, keluar dari hutan mencari tempat yang aman merupakan naluri hewan yang memiliki insting alam atau yang memiliki potensi act demikia juga hewan peliharaan telah mengalaminya, contoh kuda milik  Asisten Wedana Tajur telah melaju bersama majikannya menuju ke tempat yang aman, sementara majikanya tidak bisa melihat apa-pa karena gelap padahal hari menunjukkan pukul 07.00 pagi. Majikanya baru sadar ketika cuaca mulai terang, ternyata kudanya membawa kedaerah yang lebih tinggi, dan ketika melihat ke arah bawah, rumah dan permukiman lainhya telah hancur di bawa arus air laut, sedangkan Krakatau meletus sekitar pukul 10.00 siang.

Labuan (Firasat seorang Ulama)

Sebelum letusan, seorang ulama yang tinggal di Banten bagian Barat atau pantai Barat Banten yang bernama K.Mas. Asnawi Caringin telah mengetahui melalui firasatnya, mereka sekeluarga mengungsi ke daerah Menes, setelah letusan dan air laut mulai surut, keluarga K.Mas Asnawi Caringin kembali ke Caringin dan membangun kembali rumah tinggal juga rumah pribadatan

K.Mas Asnawi membangun kembali jalan raya, dan Masjid. Masjid yang diberi nama Masjid Salaf didirikan setelah satu tahun letusan Krakatau, yaitu tahun 1884 dan selesai pembangunannya selama 5 tahun yaitu tahun 1889, sedangakan Masjid yang hancur karena Krakatau sudah tidak bisa dibangun kembali di lokasi asalnya karena lokasi asalnya saat ini telah terendam air laut.

Meletusnya Krakatau

Keadaan Alam

Gelap selama 2 hari 2 malam. Cuaca panas merupakan proses gesekan tektonik sedang berlangsung yang mengeluarkan hawa panas dan mengeluarkan abu vulkanik sebelum terjadi letusan dan setelah terjadi letusan, selama dua hari langit masih tertutup oleh debu-debu vulkanik

Suara/Getaran  Letusan/Gelombang Tsunami

Pada tanggal 26 Agustus 1883, Kapten Kapal Inggris, W.J. Watson dari Charles Bal sedang berlayar melewati Selat Sunda di antara Pulau Sumatera dan Jawa. Ketika dia melewati Pulau Krakatau, tumpukan abu dan batu panas menghujani dek kayu. Para awak kapal yang ketakutan segera membuangnya ke laut ketika bebatuan itu jatuh ke dek. Air laut berbau belerang dan para awak mengalami sesak napas. Petir membelah langit dan badai listrik yang disebut ‘St. Elmo’s Fire’ menyambar-nyambar tiang kapalnya. Esok paginya, selama sesaat, terjadi keheningan yang mencekam, lalu pada jam 10.00 seluruh pulau meledak ke atmosfir dengan deru yang memekakkan telinga. (Philip Steele).

Pada hari ke dua tanggal 27 Agustus 1883 sekita jam 07.15 cuaca semangkin gelap, tiga jam kemudian sekitar pukul 10.00 terjadi puncak letusan, tedengar suara menggeleger berkali-kali, suara itu sangat keras, bumi bergoncang keras. Suara letusan hingga terdengar sampai ke utara Australia kurang lebih 3000 Km Hempasan gelombang Tsunami dampaknya hingga Hawai, pantai barat Amerika Tengah juga sampai ke Semenanjung Arab sekitar 7000 Km jauhnya dari pusat ledakan,sehingga ledakan Klrakatau tercatat dalam The Guiness Book of Records sebagai the most powerful recorded explosion in history.

Tentunya yang lebih parah adalah permukiman yang berada di pantai Barat Banten diantaranya Anyer, Pasauran, Labuan dll. Yang telah memakan korban jiwa sebanyak 36.417 (R.W.Van Bemmelen. 1970:2004-2005). Rasa takut yang amat sangat menyelimuti setiap orang, kengerian yang tak terhingga sehingga orang menyangka kiamat telah tiba ( sebagaimna yang mereka baca dalam Quran  surat al-Qaria, pada hari manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan), manusia bertebaran ada orang yang terkena lahar panas, terhempas badai tsunami, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan bangunan-bangunan telah hancur.

G.Krakatau yang memiliki tinggi  sekitar 2000 meter dari atas permukaan laut telah menghancurkan ¾ bagian tubuhnya sehingga saat ini G.Krakatau hanya memiliki ketinggian 813 meter dari atas permukaan laut. Krakatau bertahta persis di persimpangan dua lempengan tektonik, lempengan indo-Australia dan lempengan Pasifik yang menciptakan rantai vulkanik aktif memanjang dari Sumatra sampai ke Pulau Bali.                                                                                     

Korban Letusan

Anyer

Anyer merupakan nama permukiman baru yang berada di pantai Barat Banten dan masuk wilyah Kabupaten Banten Utara yang pusatnya di Serang, sebelumnya bernama Sumampir setelah hancur namanya diganti Anyer. Pada masa kolonial, Kesultanan Banten di Baten Lama hendak dipindahkan di Sumampir. Sumampir merupakan tempat strategis bagi kolonial, sehingga kolonial mempunyai rencana hendak membangun pangkalan kapal perang di Ujung Kulon. Rencana mega proyek kolonial tersebut telah gagal karena Sultan Rafiuddin tidak mengizinkan warganya dijadikan korban kerja paksa.

Labuan

Labuan merupakan pusat kota Kabupaten Banten Lor pusat kotanya di Caringin, sebagaimana di daerah pantai barat lainya, Labuan yang berada di pantai Barat tidak luput dari letusan G.Krakatau. Caringin sebagai pusat kotanya telah rata dengan tanah. Dalam peta figurative schet yang dipetakan tahun 1834, nampak gambaran tatakota Caringin yang diapit oleh dua buah sungai dan kanal sebagai tataguna air baik diperlukan untuk irigasi dan mengatur air bila terjadi banjir dan pasang naik air laut,

Namun setelah terjadi letusan telah mengubah bentuk  aliran-aliran sungai dan kanal-kanal, sehingga ada beberapa sungai yang mengecil dan kanal berubah menjadi besar bentuknya seperti  aliran  sungai, sementara bangunan-bangunan lain yang telah rata dengan tanah tinggalnama toponimnya, seperti Gedung Rombeng dulunya adalah bekas bangunan kabupaten, Pagongan yang dahulunya sebagai gedung untuk menyambut tamu-tamu

Pasca Letusan

Kebangkita Kembali Masyarakat Banten

Masyarakat Banten yang sebagian besar beragama Islam telah sadar bahwa letusan tersebut merupakan peringatan Allah terhadap hambaNya. Letusan tersebut sebagai peringatan untuk merenung dan mengintrospeksi diri dan berikutnya segera memutuskan dan segera mengambil langkah-langkah dalam memperbaiki diri, masyarakat, bangsa dan negaranya dalam memperjuangkan kebebasan, dalam menentukan nasibnya sendiri. Karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merobahnya. Minimal letusan telah mengubah sikap untuk tidak tinggal diam dalam menghadapi pemerintah kolonial

Gerakan Sosial

Introspeksi Krakatau telah mengambil langkah-langkah suatu gerakan fisik untuk melawan kolonialisme, Gerakan fisik pasca letusan terus menerus bermunculan Esa Hilang Dua Terbilang yang hampir tersebar secara merata di wilayah Banten. Gerakan yang paling besar adalah peristiwa Geger Cilegon, yang terjadi sekitar 5 tahun setelah letusan Krakatau atau tanggal  9 Juli 1888.

Gerakan Pendidikan

Introspeksi Krakatau tidak hanya telah mengilhami gerakan fisik yang muncul pada awal abad ke 19 uga telah mengilhami gerakan in fisik yang muncul pada awal abad ke 20. Gerakan pendidikan yang muncul pada abad ke 20 di Banten antara Gerakan Mathla’ul Anwar di Banten Selatan, Gerakan Masyarikul Anwar di Banten Lor, Gerakan Khaerul Huda  dan Gerakan Al-Khairiyah di Banten Utara.

Obyek Wisata

Gunung Krakatau tidak hanya berada dipersimpangan dua lempengan tektonik antara lempengan Indo-Australia dan lempengan Pasifik juga berada dipersimpangan dua Provinsi yaitu Provinsi Banten dan Provinsi Lampung. Sehingga dua wilayah tersebut sebagai pintu gerbang untuk memasuki lokasi G.Krakatau. Dari Provinsi Banten dermaganya adalah di Pantai Carita atau Labuan, di sana terdapat penyewaan perahu motor atau speed boat. Sedangkan dari Provinsi Lampung dermaganya di Canti di Kalianda Lampung Selatan yang jaraknya sekita 80 Km dari Bandar Lampung. Dari dua dermaga tersebut yang lebih praktis adalah dari Carita atau Labuan.

Kenapa G.Krakatau begitu penting bagi kedua wilayah tersebut. Tentunya karena dibalik kedahsyatan G.Kraktau terdapat keindahan yang memukau manusia; Panorama lava anak Krakatau yang masih aktif apalagikalau dilihat pada malam hari, pijar api dari lava panas  yang meleleh ka laut dan meloncat ke udara lalu bertebaran diterpa angin sebelum akhirnya jatuh ke laut seperti kembang api.

Aneka tumbuhan yang berada dilereng-lerengnya sementara bagian badan dan kemuncaknya gundul bagaikan topi cetok yang berhias. Aneka tumbuh-tumbuhannya antara lain; Cemara (Casuariana Equisetifolia), ketapang (Terminalia Catppa) dan waru (Hibiscus Filiosus), Sementara jenis fauna yang hidup antara lain; biawak (Varanus Salvator), penyu hijau ( Cholonia Midas), ular piton ( Phyton Sp), kalong (pteropus vampirus), burung raja udang (Tonyseprtara Galatea), elang (heliastur Leucogaster), kalajengking, kelabang dan kupu-kupu (Krakatau, 2001:46).

Daya tarik lainnya antara lain; diving (menyelam) dan fishing (memancing). Diving untuk melihat keindahan pada dasar laut kaki Krakatau yang terdapat batuan vulkanik berbentuk balok berukuran besar. Berikutnya fishing, memancing ikan-akan yang bersarang di kaki-kai G.Krakatau antara lain; ikan tuna, ikan tengiri, marlin bahkan juga terdapat ikan lumba-lumba dan ikan hiu.

Memperingati Meletusnya Krakatau

Haul Kalembak

Haul kalembak merupakan sebagai cara masyarakat Caringin memperingati peristiwa sunami dari letusan Krakatau, kegiatan khaul kalembak ini di selenggarakan oleh kelurga besar K.H. Asnawi Caringin di Masjid Salafiah Caringin, yang merupakan masjid kuna yang dibangun pasca sunami sebagai ganti dari bangunan masjid yang hancur terkena sunami, namun entah kenapa kegiatan khaul kalembak sudah tidak diselenggarakan lagi, demikian juga Hari Peringatan Letusan Krakatau pada tahun 1983 di Anyer sudah tidak ada kelanjutan lagi, sementara peringatan sunami akibat Letusan Krakatau di Hawai Amerika, masih diselenggarakan.

Prasasti Krakatau

Peringatan letusan Krakatau telah menjadi kegiatan Provinsi ( Provinsi Jawa Barat pada saat itu). Yang diselenggarakan oleh Gubernur Jawa Barat masa A.Kunaefi dan dihadiri oleh Mentri Parpostel A.Thahir sekaligus menandatangani Prasasti Krakatau. Prasasti dari batu pulam. Isi prasasti tersebut “ mengenang 100 tahun meletusnya Krakatau, 27 Agustus 1883, semoga gemuruh gunturmu, semoga kobaran api kawahmu, semoga gulung gelombangmu selalu mengingatkan kami kepada kebesaran Nya. Carita 27 Agustus 1983. sedangkan tema kegiatannya Dengan Ledakan Krakatau Kita Ledakkan juga semangat pembangunan. Bagaimana setelah Banten menjadi Provinsi ?

Simpulan dan Saran

Bencana Krakatau merupakan peringatan bagi umat yang terjajah agar bangkit utuk melawan kebodohan, melawan kebobrokan dan keangkara murkaan penjajah. Bencana Krakatau sekan-akan mendorong/memotifasi masyarakat Banten  untuk bangkit, bangun dari tidur panjangnya untuk menyingsingkan tangan, membuka mata dan melangkahkan kakinya untuk melawan kezaliman, penindasan kesewenang-wenangan.

Setelah 5 tahun letusan Krakatau perlawanan rakyat Banten bermunculan dan pada puncaknya yang merupakan pelawanan yang terorganisir itu terjadi pada peristiwa Geger Cilegon. Krakatau purba atau Krakatau induk yang meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 atau sekitar 120 tahun yang lalu telah hancur ¾ nya, namun kita masih bisa menuyaksikan generasi Krakatau muda yang dikenal anak Krakatau atau Rakata, juga tidak kalah menariknya dengan induknya, ia pun aktif dan sewaktu waktu mengeluarkan atraksi lava panasnya. (Penulis adalah Peneliti Pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)*


Sekilas Info

Dukung Polri Ungkap Peneror Pimpinan KPK

Oleh : Akbar Revi Serangkaian aksi teror yang menyasar pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *