Selasa, 18 Desember 2018
Dir Reskrimum, Kombes Pol. Onny Trimurti (kiri) bersama Kabid Humas Polda Banten, AKBP Zaenudin (tengah) dan Dir Reskrimsus Polda Banten, Kombes Pol. Abdul Karim (kanan) memperlihatkan tiga foto dari tujuh orang tersangka penyebar berita hoax yang diamankan di Mapolda Banten, Jumat (2/3/2018).*

Hasil Pengungkapan 7 Kasus Kejahatan Siber di Banten, Mantan Anggota Polda Gabung MCA

SERANG, (KB).- Sebanyak tujuh kasus kejahatan siber ditangani Ditreskrimsus Polda Banten bersama Bareskrim Mabes Polri sejak Mei tahun 2017 hingga Maret 2018. Dari kasus tersebut, sebanyak tujuh orang telah ditetapkan sebagai tersangka yang satu di antaranya merupakan anggota Muslim Cyber Army (MCA) berinisial IT. Belakangan diketahui IT merupakan mantan anggota
Polda Banten berpangkat aiptu.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Krimsus) Polda Banten Kombes Pol. Abdul Karim menjelaskan, tersangka IT telah dikeluarkan dari grup MCA. IT merupakan tersangka untuk kasus ujaran kebencian terhadap Panglima TNI Marsekal Hadi Hjahjanto dan pemerintah. “TKP (tempat kejadian perkara) di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Dia (IT) anggota MCA tapi sudah dikeluarkan,” ujar Karim didampingi Dirkrimum Polda Banten Kombes Pol. Onny Trimurti Nugroho dan Kabid Humas Polda Banten AKBP Zaenudin saat ekspos kasus kejahatan siber di Mapolda Banten, Jumat (2/3/2018).

Ia mengatakan, dalam kasus tersebut IT membagikan berita hoax melalui media sosial (medsos) facebook miliknya. Setelah sempat dibawa ke Mabes Polri tersangka sudah menyatakan permohonan maaf. “Tersangka melakukan ujaran kebencian hoax terhadap Panglima TNI Marsekal Hadi melalui Facebook sebanyak 6 kali melalui akun Ifan Taufani Al Fath. Sudah menyampaikan permintaan maaf sebagai bentuk restorative justice. Namun, masih dalam pengawasan Dittipidsiber Bareskrim Polri,” kata Karim.

Sedangkan untuk kasus lain yang ditangani seperti ujaran kebencian terhadap SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), teror bom dan asusila. Modus operandi tersangka hoax PKI yaitu dengan menyebarkan foto tentara Filipina yang ditulis di akun medsos terjadi di Indonesia. Hoax tersebut kemudian menjadi viral dan meresahkan masyarakat. “Pemberitaan hoax 15 juta anggota PKI untuk membantai ulama, kejadiannya di Filipina (foto viral) tersangka berinisial YH,” ucap Karim.

Tersangka diketahui merupakan seorang aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja sebagai guru SMA di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Motif penyebaran hoax tersebut untuk mengingatkan pelajar di Kabupaten Lebak tentang bahaya laten komunis. “Tidak ada motif lain (politik),” kata Karim.

Untuk tersangka ketiga yakni WK kasus ujaran kebencian terhadap tokoh ormas Islam TKP di Kota Cilegon. Kasus ini telah diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak pelapor telah mencabut laporannya karena sebelumnya tersangka sudah terjadi persekusi, dikeluarkan dari tempat kerja dan meninggalkan Kota Cilegon. Tersangka empat berinisial Z . Ia menyebarkan hoax tentang antek PKI yang berpura-pura menyamar sebagai orang gila dan menyerang ulama. Dia diamankan di TKP daerah Kabupaten Pandeglang. “Motifnya memprovokasi seolah-olah PKI bangkit,” ujar Karim.

Tersangka kelima berinisial SUL merupakan peneror bom Polsek Tanara, Senin (22/1/2018). Tersangka ditangkap di daerah Lampung. Tersangka keenam berinsial AB. Dia ditangkap di Kabupaten Pandeglang atas kasus penistaan terhadap agama. Terakhir, AH tersangka kasus asusila. Dia menyebarkan foto asusila di medsos. Ketujuh tersangka tersebut dikenakan Pasal 45 Ayat (2) Jo Pasal 42 Ayat (2) UU ITE yang diancam dengan hukuman penjara selama 6 (enam) tahun dan atau Pasal 14 Ayat (1) UU RI No. 1 Tahun 1946 dengan ancaman hukuman penjara 10 (sepuluh) tahun.

Direktur Reskrimum Polda Banten Kombes Pol. Onny Trimurti Nugroho mengatakan, penyebaran hoax terutama penyerangan terhadap ulama sangat berpengaruh di daerah Banten. Hal tersebut kemudian berimbas kepada orang dengan gangguan kejiwaan yang menjadi korban persekusi. Penyebab persekusi itu, kata dia, dikarenakan pengetahuan masyarakat yang tidak luas. “Kejadian di Polres Serang Kota 4, Lebak 1, Pandeglang 1,” kata Onny.

Sementara itu tersangka IT sempat menyampaikan testimoninya terkait penyebaran hoax yang dia lakukan. Ia mengaku menjadi anggota MCA selama hampir dua bulan. Pecatan polisi yang pernah menjabat Kanit Opsnal Polsek Malingping ini tidak menjadi anggota dengan mendaftar melainkan diundang langsung.

“Akunnya di undang. Selama kurang lebih dua bulan. Hanya melakukan like, share saja kalau WA (WhatsApp ) saya abaikan (pesan hoax),” katanya. Ia menuturkan, tidak ada motif politik terkait penyebaran hoax tersebut. Penyebaran hoax tersebut dilakukannya murni karena kesalahan pribadi. “Tidak ada kepentingan (politik), itu kesalahan saya. Saya tidak akan mengulangi perbuatan hoax (janjinya),” tuturnya. (FI)***


Sekilas Info

Bank Banten Harus Bangun Kepercayaan Pemda

SERANG, (KB).- Wakil Ketua DPRD Banten, Nur’aeni mendukung upaya Pemprov Banten yang akan melepas saham di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *