Kamis, 15 November 2018

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe Mengeluh

SERANG, (KB).- Sejumlah perajin tahu dan tempe di Banten menghadapi situasi sulit akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mereka terpaksa mengurangi kuantitas, karena harga kedelai mengalami lonjakan. Seorang perajin tahu di Kota Serang, Tatang, terpaksa mengurangi produksi tahu miliknya. Sebab, harga kedelai terus melonjak. “Melonjaknya harga kedelai mungkin dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terjadi saat ini,” kata Tatang, Ahad (9/9/2018).

Tatang melakukan kegiatan produksi tahu di rumahnya di Jalan Samaun Bakri Lingkungan Domba Tegal, RT 03 RW 05, Kelurahan Lopang, Kota Serang. Dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah, Tatang dihadapkan dengan situasi yang sulit. “Di satu sisi, ia harus tetap menjaga kuantitas ukuran tempe agar pelanggan tetap merasa puas. Disisi lain, kalau ukurannya tidak dikurangi, saya bisa rugi karena harga kedelai sangat mahal,” ucapnya.

Selama ini, kata dia, kedelai yang digunakan merupakan kedelai impor. Sehingga, harga kedelai sangat terdampak ketika dolar naik dan rupiah melemah. “Proses pembuatan masih tradisional, yaitu menggunakan teknik bungkus,” kata pengawas koperasi tahu, tempe dan oncom Sumber Rejeki Barokah Banten ini. Tatang biasa menjual tahu bungkus dengan harga Rp 1.000 per bungkus. Dalam satu hari, ia bisa memproduksi sebanyak 2.000 bungkus. Namun, karena harga kedelai yang cukup mahal dirinya mengurangi angka produksi hingga separuhnya, yaitu 1.000 sampai 1.300 buah per harinya.

Hal hampir senada disampaikan Manajer Koperasi produsen tahu, tempe dan oncom Sumber Rezki Barokah Banten, Maulana Fikri. Menurutnya, kondisi harga kedelai yang naik sangat berpengaruh terhadap produksi perajin. “Selain jasa angkut, ongkos kirim pun meningkat. Jadi kan dari bahan bakunya sendiri terasa cukup berat,” ucapnya.

Stabilisasi harga

Ia berharap pada Pemprov Banten, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk bisa menjaga stabilitas harga kedelai. Sedangkan Dinas Pertanian (Distan) agar memperbanyak lahan-lahan untuk menanam kedelai. “Jadi sebenarnya, kami sangat butuh perhatian dan tindakan dari pemerintah atas dampak dari melemahnya rupiah. Dan kami berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas harga kedelai agar para perajin bisa tetap memproduksi dan terus menjalani usahanya,” ujarnya.

Sebelumnya, harga kedelai berada di angka Rp 6.200 sampai 6.300 per kilogram, dan kini naik menjadi Rp 6.700 per kilogram. “Memang harganya hanya naik beberapa ratus rupiah saja, tapi kalau kita pembelian banyak, sangat terasa,” kata Maulana menambahkan.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Banten, H. Agus M. Tauchid S, secara keseluruhan kebutuhan kedelai untuk usaha tempe di Banten mencapai 90 ribu ton per tahun. Namun, produksinya belum sesuai dengan kebutuhan tersebut. “Pertama perlu dicatat konsumsi kedelai di Banten dalam setahun untuk tempe tahun di atas 30 ribu ton. Jujur kita belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya.

Pihaknya melalui program yang digelontorkan Kementerian Pertanian sedang berupaya mengembangkan produksi kedelai di Banten. Di antaranya, melakukan penanaman kedelai di lahan seluas 20.000 hektare yang tersebar di beberapa kabupaten/kota. Terdiri dari 17 ribu hektare di Pandeglang, progres penanamannya baru mencapai 15 ribu hektare. “Panen raya diperkirakan pada minggu ketiga bulan September,” ucapnya.

Kemudian, 2.500 hektare di Kabupaten Lebak, progres penanamannya baru 2.100 hektare, sisanya menunggu musim hujan tiba. “Berikutnya di Serang 500 hektare, sampai sekarang belum tanam, masih persiapan lahan dengan sarana produksi,” tuturnya.

Jika seluruh penanaman di kabupaten/kota tersebut berjalan lancar dengan penghasilan merata sekitar 1,5 per hektare, dapat diasumsikan hasil panen kedelai mencapai 30 ribu ton. “Sementara, kebutuhan kedelai Banten tidak kurang dari 90 ribu ton. Kondisi ini harus diakui bukan hanya terjadi di Banten, tapi skala nasional masih kekurangan kedelai. Konsekuensi logisnya pemerintah melakukan impor kedelai,” ujarnya.

Salah seorang perajin tahu sedang melakukan produksi. Saat ini harga kedelai melonjak tinggi, sehingga perajin mulai mengurangi produksinya.*

Membuka peluang

Ia mengakui, kekurangan kedelai di Banten tidak hanya terjadi saat rupiah jauh di bawah dolar. Kekurangan kedelai juga terjadi saat kondisi normal. Namun, pelemahan rupiah tidak melulu dipandang dari sisi negatif, kondisi ini harusnya membuka peluang bagi petani Banten untuk meningkatkan produktivitas penanaman kedelai.”Jadi betul pada kondisi normal juga Banten belum memenuhi industri tempe,” ucapnya.

Penanaman kedelai di Banten juga terkendala lahan. Sebab, penyediaan lahan pertanian kedelai bersaing dengan produksi pertanian jenis lain, seperti jagung. “Lahan tidak bertambah tapi komoditas bertambah. Makanya pola distan bersama dengan Dinas Kabupaten Lebak-Pandeglang-Serang, kami akan tetap konsisten pada wilayah dimana dengan petani yang familiar kedelai,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Disperindag Banten, Babar Suharso mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Usulan Logistik (Bulog) untuk mengatasi adanya keluhan dari pengusaha tempe. Disinggung terkait ketersediaan kedelai di Banten, ia belum mengetahui secara jelas. “Saya belum dapat info. Senin (hari ini) saya mau audiensi dengan bulog,” katanya.

Namun, Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM (Disperdaginkop dan UKM) Kota Serang, Akhmad Benbela mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum berdampak pada harga komoditas di Kota Serang. Beberapa komoditas, kata dia, justru mengalami penurunan harga.”Imbas melemahnya rupiah tidak terlalu besar,” ujar Benbela kepada wartawan, Sabtu (8/9/2018).

Menurut dia, kenaikan harga komoditas di Kota Serang bukan disebabkan karena dolar yang menguat dan rupiah yang melemah. Akan tetapi, disebabkan karena ketersediaan komoditas lokal tersebut di Kota Serang dan Indonesia secara umum. Apalagi, saat ini stok komoditas lokal masih ada dan masih banyak. Harga komoditas baru akan naik jika stok lokal berkurang dan pemerintah melakukan impor.”Kalau kondisinya gitu baru akan berdampak pada harga komoditas,” ujar Benbela.

Menurutnya, untuk mengantisipasi lonjakan harga yang akan terjadi adalah dengan memantau harga komoditas di pasaran yang dilakukan setiap tiga hari sekali. Jika ada kenaikan yang tidak terkendali, maka akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. “Instrumen penangkal lain adalah, dengan menerapkan harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat,” tuturnya.

Sementara itu Kepala UPT Pasar Disperdaginkop UKM Kota Serang, Sugiri mengatakan, sampai saat ini tidak ada kenaikan signifikan pada harga komoditas di Kota Serang. Bahkan sebelumnya harga cabai merah Rp 15.000 per kilogram (kg) dan mengalami penurunan harga sekitar Rp 2.200. Sementara harga daging ayam broiler sebelumnya Rp 36.000 per kg dan mengalami penurunan sekitar Rp 2.200. Adapun harga bawang merah Rp 19.600 per kg dan mengalami penurunan sekitar Rp 2.300. “Harga-harga sudah cukup stabil tapi masuk kategori mahal,” ujarnya. (TIM KB)*


Sekilas Info

BPJS Akan Sanksi Tegas Rumah Sakit

TANGERANG, (KB).- Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengingatkan agar pihak rumah sakit (RS) memberikan pelayanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *