Harga Gabah Petani Anjlok

Babinsa Koramil 0225/Tirtayasa Heri Kuswanto, melakukan pendampingan kepada petani di Desa Tengkurak Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang.*.

SERANG, (KB).- Harga gabah petani di Kabupaten Serang sejak awal April 2019 anjlok dari Rp 5.000 per kilogram (kg) menjadi kisaran Rp 4.000 hingga Rp 3.700 per kg. Hal tersebut terjdi akibat mulai berlimpahnya produksi padi petani yang mulai memasuki masa panen dengan luasan mencapai 22.000 hingga 25.000 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Duhana mengatakan, sebelumnya harga gabah hasil panen petani pada Februari hingga Maret berada di kisaran Rp 5.000 per kg. Namun, harga gabah tersebut, terus melorot seiring adanya panen raya yang melimpah.

“Tadinya Rp 5.000 per kg, namun saat ini, harga gabah tersebut anjlok hingga kisaran harga Rp 4.000 hingga Rp 3.700 per kg. Kondisi ini membuat para petani di sejumlah wilayah mengeluh, sebab mereka menjadi merugi,” katanya kepada Kabar Banten di ruangan kerjanya, Kamis (11/4/2019).

Menurut dia, harga gabah dalam kondisi anjlok seperti ini tak dimungkirinya biasanya ada orang yang memiliki uang membeli gabah dalam skala besar untuk kemudian disimpan. Ketika musim paceklik gabah atau beras tersebut baru dilepas.

“Ini setiap tahun memang selalu terjadi, gabah yang langsung dijual itu di wilayah Pantura (Pontang, Tanara, dan Tirtayasa), tengkulak itu sudah keliling ke situ, tapi kalau untuk wilayah lain, seperti Cikeusal, Petir, dan Tunjung Teja itu gabahnya disimpan,” ujarnya.

Namun, ucap dia, jika gabah tersebut, disimpan akan berpengaruh terhadap mutu gabah itu sendiri. Jika untuk keperluan industri atau restoran penyimpanan, gabah yang disimpan terlalu lama akan menjadi masalah.

“Karena, kadang penyimpanannya tidak standar, tapi kalau dimakan sendiri enggak masalah. Kalau penyimpanan kurang baik, maka mutunya turun. Kalau tengkulak kejar yang hari ini panen langsung diambil,” ucapnya.

Disinggung mengenai upaya pemkab, agar para petani tidak merugi saat panen raya, tutur dia, pemerintah tidak ada kebijakan untuk melakukan intervensi pasar. Namun, dalam forum, pihaknya selalu mengusulkan, agar pupuk subsidi dihapuskan, dengan catatan saat petani panen pemerintah harus berani membayar gabah milik petani Rp 5.000 per kg.

“Jadi, uangnya (subsidi) itu untuk beli itu (gabah petani), subsidi pupuk itu kan setahun Rp 22 triliun, yang nikmati siapa? Kan cuma pabrik pupuk, sementara petani sudah nebus pupuk terus ketika panen harganya jatuh seperti sekarang,” katanya.

Ia menuturkan, produksi padi di awal tahun ini rata-rata di angka 5,7 ton per hektare atau secara keseluruhan mencapai 200.000 ton. Namun demikian, pihaknya optimistis hingga Desember nanti dapat mencapai target 522.000 ton. “Ini triwulan dua ya kami sudah bisa dapat 45 persen,” ujarnya.

Ia mengatakan, pada panen kali ini juga banyak petani yang panen lebih dulu. Sebab, tanaman padi mereka banyak yang kondisinya merunduk akibat terserang hama wereng. “Jadinya batangnya enggak kuat membawa bulirnya, jadi merunduk,” ucapnya.

Sementara, petani asal Kecamatan Pontang Sulis menuturkan, pada panen kali ini memang belum sesuai harapan. Selain produksinya tidak terlalu banyak, harganya juga kini anjlok. “Tapi, disyukuri saja. Banyak hamanya kalau panen sekarang,” tuturnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here