Selasa, 21 Agustus 2018

Harga Elpiji Bersubsidi Jauh di Atas HET, Warga Mulai Beralih ke Kayu Bakar

LEBAK, (KB).- Harga jual gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kg saat ini sudah tidak lagi dinikmati masyarakat miskin atau masyarakat tidak mampu. Sebab, harga jual gas ukuran mini yang biasa disebut si “Melon” itu jauh dari harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 16.000/tabung gas. ”Betul mas, harga gas elpiji ukuran 3 kg saat ini sudah sangat mahal mencapai sebesar Rp 25.000/tabung gas, bahkan kalau lagi langka harganya lebih tinggi lagi ,” ujar Lilis (56) dan beberapa warga lainnya di Rangkasbitung.

Menurut dia, kalau harga gas elpiji terus merangkak naik, bagaimana kedepan nanti sementara gas saat ini bahan bakar gas yang disediakan pemerintah merupakan kebutuhan dasar masyarakat untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. ”Kalau begini caranya kami masyarakat sudah tidak lagi menikmati elpiji bersubsidi sebab harganya sudah sangat jauh dari HET yang berlaku,” ujarnya.

Sementara itu di wilayah pedalaman di Kabupaten Lebak saat ini banyak warga mulai beralih ke bahan bakar lain seperti kayu bakar untuk keperluan memasak sehari-hari menyusul makin tingginya harga jual gas elpiji bersubsidi. “Sejak dua bulan terakhir, kami terpaksa menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak sehari-hari,” ujar Sukatma (45), warga Desa Sindangwangi.

Dia menjelaskan, warga sangat keberatan membeli elpiji kemasan tiga kilogram dengan harga jual menembus hingga Rp 27.000/tabung gas, sebab mereka sebelumnya biasa membeli gas elpiji bersubsidi di warung pengecer. Saat ini sebagian besar masyarakat pedalaman Lebak terpaksa mencari kayu bakar maupun limbah kelapa sawit (brondo).

”Warga lebih mudah mendapatkan kayu bakar yang sudah mengering di kawasan hutan maupun ladang miliknya. Begitu juga brondo atau sisa kelapa sawit, yang tidak layak dijual melimpah di perkebunan milik PTPN VIII. Kami sudah merasa tidak mampu membeli gas elpiji,” ucap Sukatma.

Begitu juga Ecin (50), seorang ibu rumah tangga warga Kampung Cimanggu, Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, mengaku dirinya bersama warganya menggunakan bahan bakar dari sisa pembuangan kelapa sawit. Ia setiap hari bersama puluhan ibu-ibu mencari kayu bakar ke perkebunan maupun ladang yang jaraknya tidak begitu jauh dengan perkampungan warga tersebut.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Orok Sukmana mengatakan, sebetulnya harga elpiji sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) di tingkat agen Rp 14.700 dan pengecer Rp 16.000. ”Dari sejumlah laporan yang kami terima, harga elpiji bersubsidi di atas HET. Untuk mengantisipasi terus terulangnya lonjakan harga, kami akan segera melakukan pengawasan pada pendistribusian gas elpiji tersebut,” tutur Orok.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Lebak agar tidak menggunakan gas elpiji bersubsidi yang dialokasikan khusus untuk masyarakat miskin. “Kami minta ASN dan orang kaya membeli elpiji nonsubsidi dengan ukuran 5,5 kg dengan harga Rp 75.000/tabung,” katanya. (ND) ***


Sekilas Info

Tujuh SMPN Terapkan Lima Hari Sekolah

LEBAK, (KB).- Tujuh SMPN yang tersebar di Kabupaten Lebak pada tahun pelajaran 2018-2019 menerapkan pelaksanaan lima …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *