Senin, 20 Agustus 2018

Harga Beras Melonjak, Lumbung Pangan Belum Optimal

PANDEGLANG, (KB).- Kepala Badan Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Pandeglang, H.Muhammad Amri menilai, pengelolaan lumbung pangan tersebar di 36 kecamatan belum optimal. Sehingga puluhan lumbung pangan masyarakat belum bisa mengantisipasi terjadinya lonjakan harga beras. “Ya, minimnya SDM mengakibatkan lemahnya untuk mengembangkan lumbung pangan masyarakat (LPM). Padahal, LPM sangat satrategis menjaga ketahanan pangan di Pandeglang,” kata Kepala Dinas Ketapang Pandeglang, Muhamad Amri kepada Kabar Banten, Selasa (16/1/2018).

Selain itu, kata dia, tidak berkembangnya LPM karena belum memahami fungsi dan manfaat lumbung. Padahal, jika LPM terus berkembang, maka persediaan beras di Pandeglang akan tercukupi dan harga tidak akan melambung tinggi. “Sekarang ini, LPM belum efektif, jadi SDM nya harus lebih ditingkatkan,” tutur Amri.

Menurut dia, untuk meningkatkan peran LPM, perlu dilakukan pelatihan khusus agar kelompok pengelola LPM mampu melaksanakan program kerja. Pelatihan tersebut soal manajemen lumbung. Apabila para pengelola sudah memahami manajemen lumbung, maka LPM akan berperan optimal di setiap kecamatan. “Memang harus ada pelatihan dulu, agar pengelolaan lumbung bisa meningkat. Kita harus membedayakan dan mengoptimalkan lumbung yang ada dan sebaiknya jangan dulu membangun lumbung baru,” ujarnya.

Menurut dia, jika LPM sudah mampu mengembangkan manajemen lumbung tidak akan terpengaruh dengan kenaikan harga beras. Karena ketersediaan beras di setiap kecamatan akan tercukupi. “Ke depan saya harapkan bisa mengembangkan lumbung masyarakat. Jadi saat kondisi harga beras mahal, peran lumbung bisa menjadi solusi untuk menekan harga beras,” ucapnya.

Hal hampir senada dikatakan Kepala seksi Distribusi Dinas Ketapang Pandeglang, Iip Saepudin. Ia mengatakan, sebenarnya manajemen pengelolaan LPM sangat mudah. Karena, tidak beda jauh dengan sistem koperasi simpan pinjam. Hanya saja, lanjut dia, LPM menggunakan beras untuk menjadi bahan transaksi sebagai alat pembayaran. “Jadi manajemen sistemnya itu mirip seperti koperasi simpan pinjam. Sehingga, sebelum musim tanam, petani bisa pinjam 1 kuintal beras. Nanti masuk masa panen mereka membayar 1 kuintal lebih. Inikan sudah jelas perputaran dan keuntungannya,” ucapnya.

Meski demikian, untuk membangun sistem manajemen lumbung tersebut perlu konsistensi. Artinya, masyarakat dan petani harus jujur dan betul-betul menguatkan kebersamaan dalam mengembangkan lumbung pangan masyarakat. Jika tidak ada konsistensi, tentu sekaya apapun potensi padi, seberapa banyak lumbung pangan, tidak akan mampu mengantisipasi lonjakan harga beras yang terjadi sekarang ini. (IF)***


Sekilas Info

RAYAKAN KEMERDEKAAN, TIGA KAMPUNG TERBEBAS DARI “DOLBON”

PANDEGLANG, (KB).- Laz Harfa yang bermitra dengan Caritas Australia dan Australian Aid menggelar Deklarasi ODF …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *