Jumat, 20 Juli 2018

HAJI PANGGILAN SETAN

Musim haji kembali memanggil para calon haji untuk menunaikan rukun Islam kelima ke Tanah Suci. Berbagai upaya perlu disiapkan diupayakan oleh berbagai pihak terhitung sejak di tingkat RT sampai tingkat internasional.

Di tingkat RT biasanya digelar acara selametan halal bihalal dengan tetangga dekat dengan mengundang handai tolan, bahkan terkadang sembari mengundang penceramah, tak peduli masuk atau tidak pada 200 kategori mubalig versi Kemenag (walau sudah ga lanjut pelebelan tersebut, tapi sempat blunder).
Penyelenggaraan haji juga melibatkan dunia internasional, karena harus beradaptasi dengan pesawat udara, dengan jarak tempuh yang melelahkan, mata uang rupiah yang mesti bertukar dengan real dan dollar.

Tak hanya itu, juga mengubah menu makan yang biasa denga gemblong, uduk, bacang, cuer, gegodoh, sate bandeng, rabeg, pecel, berubah jadi makan roti yang berukuran kecil besar dan panjang ala Saudi.

Di bidang bahasa, yang biasa dengan bahasa Indonesia perlu beradaptasi dengan bahasa internasional, sekurang-kurangnya Arab dan Inggris.

Namun sayang, panggilan haji yang memerlukan tenaga, biaya, dan pikiran tersebut salah niat. Bukanya karena panggilan Allah tulus ikhlas berharap rido-Nya, tapi sebatas ingin mengubah status sosial semata, bahkan marah bila seusai berhaji ga dipanggil Bu Hajah atau Pak Haji. Bolak-balik ke Mekah malah tetangganya ga pada sekolah serba kurang dan bahkan susah.

Maka marilah luruskan niat, jangan haji karena panggilan setan. Haji semata menenuhi seruan ilahi, sebelum akhirnya dipanggil hakiki oleh ilahi via petugasnya bernama izroil. Wallahu a’lam.

Untuk raih bernilai panggilan haji ini berkategori panggilan ilahi, hindari ongkos hajinya hasil korupsi, memahami rukun wajib, sunnah, dan larangan ihrom, damai dan saling tolong. Bukan malah ribut ga jelas hanya karena calon haji ga ikut KBIH.

KBIH pun ga perlu egois, tapi dorong jemaah biar mandiri. Sebab, sehebat apapun KBIH, degan jumlah jemaah yang banyak, ga jaminan bisa terpantau, terutama saat Tawaf, Sai, dan wukuf. Terbukti, banyak jemaah yang nyasar dan bahkan ga bisa baca tulis Quran. Padahal, buku panduan doa sekalipun sudah dibuatkan pemerintah.

Pulang haji lebih santun lagi, lebih senang solat berjamaah di masjid, lebih sayang istri, lebih sayang ke duafa, hilangkan rasa so kuasa, so kaya, so berilmu, so kuat, so populer, so berwibawa. Itu semua benih-benih panggilan setan. Kita ga berdaya apa-apa di hadapan Allah Swt. (Wawan Wahyuddin/Dosen UIN Banten)*


Sekilas Info

MAJELIS TAKLIM WADON: SIMBOL RELIGIOSITAS PEREMPUAN

Di berbagai  wilayah di Indonesia, jika kita melewati  sebuah masjid atau musala dengan pengeras suara bersenandung sholawat Nabi, serta syair-syair pujian …

One comment

  1. Punten pak…kok bikin judul nya bikin gagal fokus.
    Seorang dosen kok bikin arrikel nya nyeleneh..jngn2 dosen abal2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *