Haji dan Berkah Ekonomi

Oleh : Dede Ahmad Permana

Salah satu berkah haji bagi umat Islam – terutama pemerintah Saudi Arabia – adalah berkah ekonomi. Tiga jutaan jemaah dari berbagai belahan dunia, membelanjakan uangnya di Tanah Suci. Mereka menelpon keluarganya di tanah air, atau membeli paket internet. Ini berkah bagi Telkom Saudi.

Selama sebulanan di Tanah Suci, mereka naik bis atau taxi. Ini berkah bagi perusahaan-perusahaan transportasi Saudi. Mereka menginap di hotel-hotel. Ini menguntungkan sektor pariwisata Saudi. Mereka makan dua hingga tiga kali dalam sehari, belum lagi ngemil atau ngopi. Ini berkah bagi perusahaan-perusahaan katering dan kafe-kafe Saudi. Para jemaah haji tamattu’, wajib menyembelih satu ekor kambing sebagai dam. Ini juga menyejahterakan para peternak Saudi.

Pusat-pusat perbelanjaan, baik pasar-pasar tradisional maupun supermarket, juga turut ketiban rezeki. Jika para jemaah yang berjumlah tiga jutaan itu masing-masing jajan oleh-oleh sebesar 1000 real, maka total uang 3 milyar SR (setara Rp 12 triliun) bergulir di pasar-pasar Saudi, hanya pada musim haji. Luar biasa, bukan?

Berkah ini tak hanya dinikmati oleh pemerintah Saudi. Sejumlah pihak yang terlibat dalam pengurusan haji, turut merasakannya. Di antaranya biro-biro travel haji dan KBIH di Tanah Air, WNI yang bekerja di Saudi, hingga para mahasiswa Indonesia di negara-negara Arab.

Saat menunaikan haji pertama tahun 2003 lalu, penulis masih berstatus mahasiswa di Mesir. Di sela-sela ritual ibadah, penulis menjual aneka souvenir khas Mesir, menjadi guide wisata ziarah, hingga mendorong roda jemaah lansia saat thawaf dan sa’i. Sejumlah mahasiswa lainnya bekerja di perusahaan katering, perusahaan kargo, hingga jualan obat kuat. Dari itu semua, kami memperoleh uang untuk biaya kuliah, uang jajan, hingga melunasi utang. Alhamdulillah.

Jauh-jauh hari, Alquran mengisyaratkan adanya berkah ekonomi ini. Di sela rangkaian ayat haji, Allah berfirman “Bukanlah suatu dosa bagimu jika kamu mencari karunia dari dari Tuhanmu” (Al Baqarah 198). Ahli tafsir Imam al Wahidi dalam al Wajiz-nya menyebutkan bahwa makna “karunia” dalam ayat ini adalah “rizqon bit tijarah fil hajji”, yakni rezeki hasil dagang pada musim haji. Isyarat ini terbukti pada musim-musim haji, sejak dulu hingga zaman ini. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya. Wallahu A’lam bis Shawab. (Penulis adalah Petugas Haji Daerah Provinsi Banten tahun 2019, Pimpinan Ponpes Darul Iman Pandeglang)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here