HAJI CUKUP SEKALI

Oleh : Dr. H. Encep Safrudin Muhyi, MM,. M.Sc

Haji ialah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan antara lain : wukuf, mabit, tawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan Allah dan mengharapkan Ridha-Nya.

Ibadah haji diwajibkan bagi kaum muslimin yang telah mencukupi syarat syaratnya dan diwajibkan hanya sekali seumur hidup. Haji itu harus hadir di Arafah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang datang pada malam hari (10 Dzulhijjah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia masih mendapatkan haji (HR. Lima Ahli Hadist).

Kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup selebihnya sunnah sebagaimana sabda Rasulullah Saw, yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud Nasa’i dan Hakim, yaitu : “Suatu kesempatan, sahabat nabi bernama Adra Bin Hubais bertanya kepada Rasulullah SAW “ Ya rosul, apakah kewajiban haji itu setiap tahun ya rosul ? Rasul menjawab: “Sesungguhnya saya katakan “Ya” maka akan jatuh kewajiban itu setiap tahun, padahal kamu tidak akan sanggup melakukannya. Haji itu hanya sekali seumur hidup, jika lebih maka itu adalah sunah”.

Berdasarkan hadits diatas. Bagi orang–orang yang memahami hidup beragama, mereka tidak akan mengulangi hajinya apalagi sampai berkali kali. Sebab haji lebih dari satu kali sunah hukumnya. Menurut hemat penulis apalagi seorang muslim memiliki rizqi lebih sebaiknya diarahkan untuk membantu melepaskan beban kehidupan orang lain.

Para fuqoro masakin para du’afa (orang2 lemah) wajib hukumnya. Demikian juga membantu pembangunan lembaga pendidikan agama seperti madrasah, pondok pesantren, masjid, yayasan yatim piatu, panti asuhan dan lain sebagainya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya : “Dianggap tidak beriman seseorang yang tidur kekenyangan sementara tetangganya yang ada disampingnya kelaparan padahal ia mengetahuinya” dalam hadist lain: “Seseorang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.

Haji Mabrur & Kesenjangan Sosial

Kesenjangan hidup dan kondisi kemiskinan di tengah masyarakat menjadi tanggung jawab orang orang kaya termasuk pemerintah. Seperti yang terungkap dalam hadist Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Thabrani, bahwa : “Sesungguhnya Allah mewajibkan atas orang-orang kaya muslim untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keleluasaan hidup bagi orang-orang miskin. Dan tidak mengalami kesengsaraan orang orang miskin bila mereka lapar atau telanjang kecuali karena perbuatan orang-orang kaya juga. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban orang orang kaya itu dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”.

Ini sebenarnya kefardhuan yang sesungguhnya harus mereka lakukan setelah kewajiban zakat, yaitu memberikan harta kepada orang-orang miskin seukuran apa yang memenuhi kebutuhan pokok mereka disamping berupa sandang pangan dan papan juga harta untuk pendidikan mereka supaya mereka bisa hidup layak sebagai manusia.

Tapi kenyataan dilapangan sungguh amat memprihatinkan, masih banyak orang orang kaya berhaji hampir setiap tahun bahkan sudah belasan kali dan yang merasa bangga mengatakan bahwa saya sudah berhaji belasan bahkan puluhan kali. Padahal diitengah-tengahnya ada saudara yang hidup kekurangan gizi sakit mengenaskan menunggu detik detik kematian karena tidak mampu membayar rumah sakit, masih banyak anak-anak yang drop out karena tidak dapat melanjutkan sekolahnya.

Bahkan disaat ribuan umat Islam terpaksa menggadaikan imannya pada gemerlapnya kehidupan dunia. Kenapa hal ini sampai terjadi ? Apakah karena mereka sudah kena penyakit ritualisme seperti yang disitir oleh Rasulullah SAW : “Nanti akan datang kepada manusia suatu masa di mana tuhan-tuhan merek adalah perut, kiblat mereka seks, agama mereka uang, kemulyaan mereka pada kekayaan. Tidak tersisa dari iman kecuali namaya, tak terasa dari Islam kecuali ucapannya, tidak tersisa dari Al-qur’an kecuali pelajarannya. Masjid-masjid mereka ramai tetapi hati mereka kosong dari hidayah (petunjuk) mereka tidak mengenal ulama kecuali dari pakaian keulamaannya yang hebat. Mereka tidak mengenal Al-Qur’an kecuali dari suara bacaannya yang merdu, mereka duduk rapat di masjid tetapi dzikirnya hanya kecintaannya dunia”.

Setelah menela’ah hadist diatas, maka jangan heran jama’ah haji Indonesia setiap tahun terus meningkat dan kehidupan masyarakat belum tertib, kemiskinan merajalela tawuran antar warga masih terjadi dimana mana, kecurangan dalam perniagaan masih menghiasi pusat-pusat perbelanjaan, praktek-praktek pungutan liar masih terus terjadi disetiap lini aktivitas, upacara-upacara keagamaan hanya sebatas ritual semata tidak dihayati dan diamalkan. Kegiatan ibadah berhenti pada bentuk ritual tidak sampai pada bentuk penghayatan.

Padahal yang amat urgen dalam semua ibadah tidak terkecuali di ibadah haji adalah ruh ibadah yang membekas dalam tingkah laku pelakunya. Apalagi menjadi haji mabrur tentu lebih nyata bagusnya perilaku seseorang. Memang ibadah haji itu sekedar sarana untuk mendidik kita menjadi orang baik, rendah hati, disiplin, istiqomah, berjiwa sosial peduli terhadap lingkungan sekitarnya dan bukan tujuan final.

Kita pernah diingatkan oleh Nabi SAW dengan sabdanya: “Barang siapa bangun di waktu pagi berniat menolong orang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam, baginya pahala seperti haji mabrur. (HR. Thabrani)

Karena bisa saja terjadi ibadah yang tampak khusyu tidak menimbulkan transformasi spiritual, karena haji tidak menjamin orang lebih rendah hati dan berakhlak mulia pada sesama insan. Kerajinan memelihara waktu solat tidak otomatis menjadikan pelakunya lebih menjaga amanah disiplin dan jujur. Makmur / Maraknya ibadah di bulan Ramadan tidak selamanya mencerminkan semakin berkurangnya kerakusan mengumpulkan kekayaan.

Semakin banyaknya sarana ibadah (masjid mushola) tidak otomatis semakin bertambahnya orang-orang yang beriman, walaupun sering dikatakan tujuan membangun masjid ini untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Semakin banyaknya sarana pendidikan tidak selalu menjadikan orang menjadi cerdas dan pintar karena biaya pendidikan semakin mahal. (Penulis adalah Kepala Bidang Pendidikan Agama & Keagamaan Islam Kantor Kementerian Agama Provinsi Banten, Penulis Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here