Hadapi Kredit Macet, Acep Bentuk Tim Remedial

Acep Heri Suhana, Direktur Utama (Dirut) PD BPR Serang.

HAJI Acep Heri Suhana, Direktur Utama (Dirut) PD BPR Serang, termasuk bukan orang baru di dunia perbankan, khususnya BPR. Sebelumnya, ia menjabat Dirut BPR Kota Bandung.  Suami dari Tita Ruspitawati ini dinilai berhasil memimpin BPR Kota Bandung. Oleh karena itu, tidak heran, jika ia mendapatkan amanah tersebut sampai dua periode.

Kini, ia ditantang lagi untuk dapat menumbuh-kembangkan PD BPR Serang. Ada dua target utama yang harus dikerjakan di BPR serang, yakni masalah kredit macet dan memfasilitasi permodalam UMKM.
Dalam upaya menghadapi kredit macet ini, Acep segera membentuk bagian khusus yang menangani kredit macet. Bagian khusus ini diberi nama “Tim Remedial “.

“Kalau sekarang kan belum ada yang khusus menangani kredit macet. Masih dilakukan oleh AO (account officer), merangkap-rangkap,” kata pria kelahiran Garut ini. Karena kondisi itulah, menurut Acep, penanganan kredit macet menjadi kurang fokus. Dengan adanya Tim Remedial ini diharapkan BPR di bawah kepemimpinannya mampu memperkecil masalah kredit macet.

UMKM Backpacker

Mengenai UMKM, Acep meyakini bisa dikembangkan dan ditingkatkan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan membentuk wirausaha baru. Dalam upaya itulah, BPR perlu berkolaborasi dengan beberapa pihak, misalnya dengan Jamkrida.

Acep melihat ada tiga potret pelaku UMKM di lapangan. Pertama, ada UMKM yang mempunyai usaha tapi tidak memiliki jaminan. UMKM seperti ini tidak bisa mendapatkan pinjaman karena perbankan biasanya mensyaratkan harus mempunya jaminan.  “Solusinya, BPR menggandeng Jamkrida yang bisa membackup dari sisi jaminannya,” kata Acep.

Kedua, ada UMKM yang mempunyai jaminan tapi tidak memiliki usaha. Nah, menghadapi kondisi semacam ini, BPR bisa bekerja sama dengan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) di Kabupaten Serang yang bisa memberikan pelatihan sampai menciptakan para pelaku usaha baru.
Ketiga, potret UMKM yang mempunyai usaha dan memiliki jaminan.

Atas dasar itulah, Acep menilai BPR tidak bisa berjalan sendiri dalam membantu atau memfasilitasi UMKM. BPR harus berkolaborasi dengan OPD agar bisa mengakomodasi kepentingan UMKM tesebut.
Ia mencontohkan, dengan banyaknya objek pariwisata di Banten, bisa diciptakan pelaku usaha baru UMKM backpacker. Usaha ini bisa mengakomodasi para wisatawan yang hanya menggunakan bus atau sepeda motor.

Usaha baru ini bisa bekerja sama dengan Dinas Pariwisata. “Melalui usaha ini, ke depannya diharapkan bermunculan rumah-rumah penduduk yang bisa dijadikan ‘homestay’ untuk wisatawan backpacker tersebut,” katanya. Tentu saja, standar pelayanannya, diharapkan hampir sama dengan hotel. “Terkait hal ini, BPR dan Dinas Pariwisata bisa memberikan pelatihan terhadap UMKM tersebut,” ujar Acep.

Ke depan juga diharapkan muncul beberapa kampung yang mempunya ciri khas (tematik). Misalnya ada kampung bandeng, kampung batik khas Serang dll.  Dengan demikian, pelaku UMKM akan tumbuh dan berkembang. Jika para pelaku UMKM sudah mampu memproduksi bisa dipasarkan di tempat tertentu yang kemudian menjadi destinasi wisata baru. “Di sinilah, BPR bisa masuk dan berkolaborasi dengan beberapa OPD,” ujar Acep.

Utamakan kekeluargaan

Menurut Acep BPR lebih mengutamakan kekeluargaan. Dengan demikian, aspek kekuatan BPR terletak pada pelayanan. Memang, kadang-kadang , nasabah berpaling ke bank umum apabila bank umum sedang ada promo atau program. Akan tetapi, setelah program itu habis, mereka biasanya kembali lagi ke BPR. Perilaku ini terjadi karena ada pendekatan lain yg “mengunci” nasabah.

Dia menegaskan, karena BPR Serang milik pemerintah, keberadaannya harus dirasakan oleh masyarakat pada umumnya dan masyarakat Kabupaten Serang khususnya. Agar keberadaan BPR ini kokoh dan bisa dirasakan masyarakat insan BPR harus mampu mengelola risiko lebih baik, efesiensi lebih bagus, pemberian kredit tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran. Selain itu, tidak menjual kredit di bawah harga pokok. Harus ada keuntungannya. “Itu yang harus dpegang oleh semua insan di BPR,” tegasnya.

Ia mengingatkan kepada insan BPR Serang harus memberikan pelayanan dengan hati. Harus ada sentuhan yang tidak diberikan oleh bank lain, atau memberikan kesan positif. “Bank ini harus tumbuh bersama kepercayaan, dan kepercayaan itu harus terus dikembangkan, dibesarkan, dan disampaikan,” katanya. (RG)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here