Hadapi Cuaca Ekstrem, Kabupaten/Kota di Banten Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Alam

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Serang Tarjono menunjukkan panci penguapan (Evaporation Pan) di Laboratorium Terbuka Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika di Serang, Jumat (10/1/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memprakirakan, puncak musim penghujan akan jatuh pada Februari dan Maret mendatang. BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu siaga menghadapi cuaca ekstrem tersebut.*

SERANG, (KB).- Sejumlah daerah di Banten meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam menghadapi cuaca ekstrem. Selain melakukan koordinasi dan komunikasi intens, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setiap kabupaten/kota di Banten juga memetakan wilayah yang berpotensi bencana alam.

Di Kota Serang, BPBD setempat memberi perhatian di empat kecamatan rawan bencana. Keempat kecamatan itu adalah Kecamatan Kasemen, Walantaka, Curug dan Cipocok Jaya. Sementara, dua kecamatan lainnya memiliki tingkat bencana yang rendah, yakni Kecamatan Serang dan Taktakan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang Diat Hermawan menjelaskan, untuk kecamatan yang memiliki risiko rawan bencana cukup besar berada di Kecamatan Cipocok Jaya, Kasemen, Walantaka, dan Curug.

“Ini dari enam kecamatan hampir semuanya sudah kena. Namun untuk Kecamatan Serang dan Taktakan, potensinya itu rendah untuk bencana puting beliung,” ucapnya, Jumat (10/1/2020).

Baca Juga : BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem

Namun jika dilihat dari intensitas hujan yang cukup tinggi, Kecamatan Taktakan cukup rawan mengalami bencana longsor. Hal itu berdasarkan pengalaman tahun lalu, ketika memasuki musim hujan, Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong terjadi longsor dan menimbulkan korban.

“Saat ini intensitas dan debit hujan cukup tinggi. Tentu kami sama-sama berharap dan berdoa, jangan sampai kejadian tersebut terulang kembali,” katanya.

Berdasarkan hasil kajian risiko bencana (KRB), ia menjelaskan, terdapat 8 potensi titik rawan bencana di Kota Serang.

“Delapan tersebut semuanya memang ada di setiap kecamatan, tapi berbeda-beda. Berdasarkan kajian, puting beliung itu ada di wilayah Kasemen, Ciruas, Nambo, Walantaka, dan Curug,” ujarnya.

Sementara, puting beliung yang terjadi di Kecamatan Cipocok Jaya pada 13 November 2019, merupakan perpaduan cuaca ekstrem dari daerah Lebak dan sekitarnya. “Itu berdasarkan kajian dari BMKG, karena kan Cipocok itu sebenarnya tidak ada bencana puting beliung, karena lokasinya jauh dari laut,” tuturnya.

Perbaiki koordinasi

Begitu juga di Kabupaten Serang, BPBD telah melakukan persiapan dan memperbaiki komunikasi dan koordinasi untuk beberapa wilayah yang belum terjalin sebelumnya.

“Yang belum terjalin kita sudah bisa mulai kerja sama sekarang. Jadi Komunikasi dan koordinasi dalam rangka peningkatan pelayanan maksimal pada masyarakat dalam penanganan kebencanaan,” ucapnya.

Jika berbicara tentang prakiraan cuaca, sejak kemarin selalu berubah. Sebelumnya BMKG dan BNPB merilis tanggal 9-10 Januari cuaca ekstrem atau curah hujan meningkat.

“Ternyata pada hari ini Jumat (10/1/2020), intensitas hujan memang benar meningkat. Kalau bicara prediksi itu bisa jadi, mengingat kita dari awal BMKG dan BNPB sudah bicara cuaca sewaktu-waktu berubah. Itu bisa saja terjadi di tanggal 12 Januari (puncak musim penghujan),” ujar anggota Pusdalops BPBD Kabupaten Serang Jhony E Wangga.

Menanggapi kemungkinan tersebut, ia juga mengatakan, untuk Kabupaten Serang dari 29 kecamatan semua memiliki potensi bencana selama musim hujan. Pada dasarnya, tidak hanya melihat kejadian pada tahun sebelumnya. Namun, ada juga perubahan pada tahun 2020.

“Seperti berubahnya fungsi lahan dari produktif sawah sekarang jadi perumahan atau bangunan itu faktor juga. Yang tadinya tidak potensi banjir sekarang potensi seperti Bojonegara selama ini tidak masuk zona potensi banjir, tapi sekarang masuk. Terus ada beberapa wilayah yang potensi banjir dari DAS dan genangan. Untuk DAS ada di Serang Utara yakni Pontang, Tirtayasa, Tanara dan Lebak Wangi. Di sana ada DAS Cidurian dan Ciujung. Terus ada juga potensi banjir rob, karena Tanara, Pontang dan Tirtayasa ada di muara. Sementara, permukaan air laut meningkat ditambah curah hujan tinggi dan sedimentasi sungai sehingga terjadi tabrakan air laut dan seperti di Jakarta,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat mewaspadai potensi bencana selama musim penghujan.

“Terus bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana waspadai dua hal yakni pertama bencananya dan kedua pascabencananya. Terus kenali dimana kita berada dan potensi apa yang akan terjadi serta petakan titik aman dimana dari bencana,” tuturnya.

Hal hampir senada dikatakan Kepala BPBD Kota Cilegon Erwin Harahap, yang mengimbau masyarakaat meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan berlangsung. Utamanya, kata dia, warga yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor mengingat cuaca cukup ekstrem akhir-akhir ini.

“Diharapkan kepada masyarakat yang daerah rawan banjir dan yang berdekatan dengan aliran sungai jangan sampai membuang sampah ke kali atau sembarangan. Kemudian warga yang tinggal di daerah pegunungan harus waspada dan ekstra hati-hati, lapor atau mengungsilah jika kontur tanah bergerak dan segera mencari tempat perlindungan,” katanya. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here