H Ali Mujahidin: ”Satria”, Karakter dan Jati Diri Al-Khairiyah

H. Ali Mujahidin, S.HI, Ketua Umum PB Al-Khairiyah.*

Memasuki kompleks kawasan Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil Kota Cilegon, serasa terbawa aura sejarah masa lampau. Ya, salah satu Perguruan Islam tertua di Indonesia tersebut memiliki catatan sejarah heroik dalam diri tokoh pendiri Brigjen KH. Syam’un, seorang ulama, tentara dan pejuang yang tahun 2018 telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sejarah tak terlepas dari unsur waktu dan kondisi saat itu. Demikian pula sejarah Perguruan Islam Al-Khairiyah mengalami dinamika, dari satu kepemimpinan berpindah ke kepemimpinan yang baru.

Dalam kurun 103 tahun, Al-Khairiyah berdiri 1916, tampak sejumlah perubahan mulai tampak. Bukan hanya fisik, kawasan pendidikan, tetapi juga spirit dalam diri para pengurus dan pengelolanya. Di kawasan pendidikan Al-Khairiyah sudah berdiri sejumlah gedung-gedung megah, pondok pesantren, lembaga pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi, hingga unit usaha seperi AK-Mart.

Di bawah tangan dingin Ketua Umum PB Al-Khairiyah sekarang, H. Ali Mujahidin, wajah Perguruan Al-Khairiyah dipoles secara modern, tetapi tetap berpegang teguh pada jati diri para pendirinya. Artinya, tidak hanya memoles secara fisik, seperti gedung, tetapi juga yang paling penting mengubah karakter, pola pikir dan perilaku dalam diri santri dan semua yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan di Al-Khairiyah.

”Sejak diamanahi memimpin PB Al-Khairiyah, saya menghadapi berbagai persoalan yang tak mudah. Tetapi Allah SWT selalu memberikan jalan kemudahan. Alhamdulillah dalam kurun setahun ini, perubahan itu mulai nyata dan dirasakan. Paling tidak, perubahan yang fundamental yakni membangun karakter santri dan para pengelolanya,” kata Ali Mujahidin saat menerima kunjungan Kabar Banten, di Perguruan Islam Al-Khairiyah.

Pria yang akbar dipanggil H. Mumu ini bercerita banyak mengenai berbagai tantangan dan berbagai program dalam rangka memajukan Perguruan Islam Al-Khairiyah di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Berikut petikan wawancaranya.

Saat memasuki kawasan Perguruan Islam Al-Khairiyah, terasa banyak yang mengalami perubahan. Baik dalam perubahan fisik gedungnya, tetapi juga aktivitasnya. Apa yang telah dilakukan dalam kurun beberapa tahun belakangan ini sehingga Al-Khairiyah mengalami kemajuan seperti sekarang ini?

Bagi kami, ukuran maju bisa relatif. Sejak saya diamanahi sebagai Ketua Umum PB Al-Khairiyah, yang paling utama yakni bagaimana mengembalikan Al-Khairiyah kepada khittah-nya sebagai pusat Perguruan Islam yang melahirkan kader yang menjadi ulama, tokoh masyarakat, cendekiawan, guru, dosen dan profesi lain dalam memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Langkah mengembalikan Al-Khairiyah sebagai pusat Perguruan Islam itu dimulai dari pembenahan sistem pendidikan Pondok Pesantren Al-Khairiyah.

Revitalisasi sistem pendidikan seperti apa yang dilakukan Al-Khairiyah?

Selain revitalisasi sarana pendidikan, seperti perbaikan asrama santri, juga penerapan sistem pendidikan modern dan tradisional. Hal yang paling fundamental revitalisasi sistem pendidikan Pesantren Al-Khairiyah yakni dengan menekankan sikap kedisiplinan, kesadaran menjaga kebersihan, ketertiban. Pesantren Al-Khairiyah diarahkan mencetak sosok Satria. Ini sebutan untuk santri, taruna Islam Al-Khairiyah. Sosok santri ini, menurut saya, menjadi cikal bakal dalam upaya mencetak kader-kader Al-Khairiyah sebagaimana khittahnya.

Secara filosofis, apa makna dari Satria tersebut?

Yang paling utama mencetak karakter santri yang memiliki jiwa kedisiplinan dan kepemimpinan. Bicara ruh Al-Khairiyah ada pada sang pendiri Brigjen KH. Syamun, yang berlatar belakang tentara. Kedisiplinan dan leadership ini, pondasi bagi santri yang memiliki karakter kuat, berakhlak, dan disiplin.

Dalam perkembangannya setahun ini, alhamdulillah semakin baik. Menghadapi tantangan zaman sekarang ini, Al-Khairiyah harus mencetak santri yang memiliki mental kuat dan berkarakter. Banyak orang pinter, tetapi belum tentu memiliki jiwa leadership akan sukses. Kedua aspek tersebut harus dimiliki oleh Satria.

Kabarnya untuk melatih kedisiplinan santri dan kepemimpinan ini, Al-Khairiyah mendatangkan pengajar dari TNI dan Polri?

Ya memang demikian kami minta bantuan TNI dan Polri untuk melatih kedisiplinan santri. Karena, TNI dan Polri institusi yang sangat baik dalam mengajar kedisiplinan. Bagi kami Satria, dalam dipersiapkan sebagai cikal bakal generasi mendatang. Masa depan Al-Khairiyah dan juga bangsa ada dalam pundak para Satria.

Oleh karena itu, kami sangat serius membentuk mereka, menjadi Satria yang mulai akhlaknya, luas dan mendalam pengetahuan keilmuannya, kuat aqidahnya, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Aqidah, akhlak dan leadership juga telah dicontohkan oleh Rasullullah SAW dalam memajukan Islam.

Dari sisi prestasi, Satria Al-Kahiriyah sudah mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Mereka sudah menorehkan sejumlah prestasi seperti pencak silat dan marching band, dan lomba baca kitab kuning. Ini perkembangan yang sangat positif dalam rangka membangun kepercayaan diri dan mental juara.

Tadi saya lihat Perguruan Al-Khairiyah sedang gencar dalam membangun gedung-gedung baru?

Al-Khairiyah sekarag terus menunjukkan amal bakti. Alhamdulillah Presiden RI Joko Widodo membantu pembangunan asrama santri berkapasitas 350 orang, kemudian pembangunan gedung untuk pengembangan perguruan tinggi. Izin pendirian Universitas Al-Khairiyah sudah diajukan Kemristekdikti. Mudah-mudahan saat gedung sudah selesai izin Kemenristekdikti keluar.

Dari sisi usaha, Al-Khairiyah sudah memiliki Ak-Mart. Dalam setengah tahun ini perkembangannya signifikan, dan akan dikembangkan ke cabang-cabang dalam bentuk warung wakaf. Untuk tahap awal direncanakan dibuka untuk 50 cabang.
Dalam perbaikan gedung-gedung madrasah Al-Khairiyah, kami juga membentuk donasi sedekah madrasah.

Alhamdulillah sudah terkumpul sebanyak Rp 600 juta yang akan didistribusikan kepada madrasah-madrasah Al-Khairiyah yang butuh perbaikan. Mudah-mudahan ini terus berkembang. Jumlah cabang Al-Khairiyah juga terus bertambah. Baru-baru ada dua tambangan cabang yakni di Ciomas dan Pamarayan. Sekarang cabang Al-Khairiyah yang terdaftar mencapai 674 cabang. Jumlah yang banyak dan tidak mungkin saya bisa kunjungi semuanya.

Oleh karena itu, saya mencontoh kepemimpinan yang dijalankan Khalifah Umar bin Khattab. Yakni dengan mengutus orang-orang kepercayaan ke daerah-daerah. Insya Allah kehadiran pengurus ke daerah yang saya utus, sama seperti saya hadir langsung. Mohon doanya Al-Khairiyah agar diberi kemudahan dan tetap berpegang teguh pada khittahnya setiap beradaptasi dalam perkembangan zaman.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here