Senin, 25 Juni 2018
Abili (60) seorang guru sukarela SDN Batu Hideung IV bersama teman seprofesinya memperlihatkan surat sebagai bukti pemecatan sepihak yang dilakukan pihak sekolah.*

Guru TKS Jadi Korban Pemecatan

PANDEGLANG, (KB).- Abili (60) seorang guru tenaga kerja sukarela (TKS) SDN Batu Hideung IV menjadi korban pemecatan pihak sekolah. Korban dipecat karena tidak mau disunat atau dipotong hak tunjangan daerah khusus (tundasus) per tiga bulan. Menurut informasi, korban mendapatkan tundasus tersebut sebesar Rp 4,2 juta per triwulan.

Namun korban tidak mau memberikan uang setoran sebesar Rp 800.000. Karena uang setoran tersebut dianggapnya tidak ada aturannya. “Ya, saya menerima uang tundasus sebesar Rp 4,2 juta. Dan uang itu saya terima langsung lewat transfer rekening pribadi. Saya tidak mau memberikan setoran hingga saya dipecat,” kata Abili kepada wartawan, Senin (12/2/2018).

Ia mengatakan, surat pemecatan dirinya dari TKS tersebut bernomor: 800/87-SD/2016 tertanggal 19 Desemeber 2016. Karena waktu itu korban menjadi guru sejak tahun 2003.  Namun waktu itu, pihak sekolah menyebutkan alasan pemecatan tersebut karena pendidikan korban tidak sesuai atau linier. Tidak memiliki kedisiplinan, integritas, tidak memenuhi standar kehadiran, sikap dan prilaku sudah tidak mencerminkan guru TKS.

Selain itu, korban dinilai tidak mengindahkan peraturan dan tata tertib sekolah. “Waktu itu saya dipecat tanpa ada surat peringatan dan tidak pernah ada pemberitahuan. Apalagi teguran kalau saya bersalah. Itu mah saya langsung dipecat. Padahal waktu itu saya sudah punya NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan),” ujar Abili.

Kasus dugaan pemotongan uang tundasus tersebut berlangsung sejak tahun 2003. Dan sudah ada 11 guru yang dipecat karena tidak mau memberikan setoran uang tundasus sebesar Rp 800.000. “Kita punya bukti-bukti sms dari kepala sekolah. Dan ada surat pernyataan menyebutkan potongan tersebut tidak ada unsur paksaan. Tapi saya tidak menandatangani surat pernyataan tersebut. Mungkin saja, guru yang tidak menandatangani surat tersebut menjadi korban pemecatan.

Hal hampir senada dikatakan Endang (47) guru SDN Batuhideng 4. Ia mengatakan, untuk besaran setoran uang tundasus di SDN Batuhideng 4 sudah pernah dilaporkan ke penegak hukum. Karena kasusnya tidak ditangani serius, hingga sekarang kasus tersebut terhenti. “Dulu sekitar tahun 2016, saya pernah melapor dan memberikan data setoran tundasus ke Polda Banten. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” ucap Endang yang masih aktif menjadi guru SDN Batuhideng 4.

Menurut dia, kasus tersebut akan terus dikawal. Karena dalam kasus tundasus tidak saja terjadi pemotongan hak guru juga ada tindakan pemecatan terhadap teman-teman seprofesinya.
“Kami akan melanjutkan kasusnya karena kami menuntut keadilan. Apalagi, informasinya saya juga akan dipecat karena dianggap membantu teman saya yang dipecat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SDN Batuhideng 4, Suaedi, membantah kasus dugaan pemotongan uang tundasus dan kasus pemecatan guru. Namun, dia mengatakan kalau pemecatan guru itu sudah sesuai aturan. “Kalau soal pemecatan guru, mekanismenya sudah sesuai aturan,” kata Suaedi saat dihubungi melalui telepon genggamnya kepada Kabar Banten, Senin (12/2/2018). (IF)***


Sekilas Info

Dua Pencuri Mobil Ditangkap

PANDEGLANG, (KB).- Dalam waktu tiga hari, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pandeglang berhasil menangkap dua tersangka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *