Guru Honorer di Kabupaten Serang Lebih Banyak dari ASN

SERANG, (KB).- Jumlah guru honorer di Kabupaten Serang mencapai 7.706 orang atau lebih banyak dari guru berstatus aparatur sipil negara (ASN) yang sebanyak 5.332. Guru honorer atau non ASN yang diberdayakan untuk membantu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tersebut tersebar di tataran PAUD, SD, dan SMP.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang Aber Nurhadi mengatakan, total tenaga pengajar di wilayahnya mencapai 13.038 orang. Jumlah tersebut terbagi dua kategori ASN dan Non ASN.

Untuk ASN ada 5.332 orang terbagi di tataran PAUD 117 orang, SMP 1.003 orang, SD 4.212 orang. Sedangkan untuk non ASN ada 7.706 orang. Terbagi di PAUD 4.242 orang, SD 2.674 orang dan SMP 790 orang.

Aber mengatakan, untuk guru non ASN atau honorer terbagi menjadi honorer K2 754 orang, honorer murni 2.273 orang, TKK 1, GB 1, PAUD 2.825, TK 220 dan SATAP 233 orang. Untuk para guru honorer tersebut digaji oleh pihak sekolah yang mengangkatnya. Sedangkan pemerintah daerah (pemda) hanya membantu sesuai kemampuan anggaran.

“Besarannya honorer K2 Rp 700.000 kalau honorer murni Rp 400.000. Kalau yang gaji dari sekolah itu pakai dana BOS,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Sekolah Dasar Dindikbud Kabupaten Serang Amar Ma’ruf mengatakan, alokasi dana BOS untuk honor guru hanya 50 persen dan besarannya ditentukan oleh kepala sekolah masing-masing.

Namun demikian, tidak semua guru honorer bisa mendapatkan honor dari dana BOS. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi, pertama harus memiliki NUPTK, kedua tercatat di dapodik, ketiga belum terima tunjangan sertifikasi.

“Kalau belum memenuhi tiga poin itu, tidak bisa menerima honor. Sementara bagi guru seperti itu ada insentif K2 Rp 700.000. Honorer murni Rp 400.000,” tuturnya.

Sebelumnya, Pembina Yayasan Serang Bangkit Najib Hamas mengatakan, kesejahteraan guru honorer di pelosok desa butuh perhatian serius. Sebab, dia menemukan guru honorer yang hanya mendapat Rp 200.000 per bulan.

“Mereka (guru honorer) kan digaji sekolah, dan itu disesuaikan dengan kemampuan sekolahnya. Nah jika melihat sekolah-sekolah di pelosok desa, tentu kemampuannya gak sama dengan yang di kota. Ini tentu butuh perhatian serius, karena beban tugas mereka tidak ringan. Bahkan jika melihat jumlah honorer yang berdasarkan data jauh lebih banyak dari ASN-nya, mereka (honorer) tentu menjadi tumpuan dalam proses KBM,” tutur Najib Hamas. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here