Jumat, 20 Juli 2018

Gunung Pinang Jadi Primadona

Gunung Pinang merupakan salah satu dataran tinggi yang berada di Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Tempat yang berada di ketinggian 300 meter di bawah permukaan laut (MDPL) tersebut, kini telah berubah menjadi magnet bagi wisatawan. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari pusat Kota Serang, yakni sekitar 15 kilometer, membuat banyak orang tertarik datang ke sana.

Destinasi wisata tersebut sangat Instragamable buat dikunjungi. Banyak spot-spot menarik untuk swafoto maupun foto bersama. Selain itu, tempat tersebut memiliki banyak arena bermain dan didukung dengan udara yang sejuk. Salah satu spot foto yang paling diminati pengunjung, adalah jembatan cinta. Di jembatan tersebut, wisatawan dapat menikmati indahnya pemandangan Laut Karangantu dan Bojonegara.

Saat masuk, di sepanjang jalan kita akan disuguhkan payung berwarna-warni menggantung di langit-langit dan pepohonan. Jarak dari pintu utama menuju puncak, kurang lebih 2 kilometer. Bisa berjalan kaki atau membawa sepeda motor ke atas puncak. Pengunjung akan betah berlama-lama di puncak Gunung Pinang. Jangan khawatir di atas juga ada tempat parkir dan jangan khawatir kehabisan makanan, tempat yang dikelola Perum Perhutani tersebut menyediakan aneka jajanan, seperti kopi, sosis bakar, minuman penyegar, dan makanan ringan telah tersedia. Musala dan toilet umum juga sudah difasilitasi.

Jika suka tantangan, tempat tersebut juga menyediakan flying fox dan jembatan tali yang dipasang dari pohon satu ke pohon lainnya. Jembatan tersebut dibuat berwarna-warni. Flying fox tersebut menggantung sepanjang 200 meter. Cocok untuk para pencinta alam. Selain strategis dan banyak wahana menarik, lokasi tersebut cukup hemat di kantong. Tentu saja tempat dengan demikian indah tersebut, menjadi daya tarik tersendiri para pengunjung selama libur lebaran.

Kepala Tata Usaha Wisata Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BPKH) Perhutani Serang, Endang Kosasih mengatakan, sejak munculnya wisata Gunung Pinang yang dipoles dengan balutan warna-warni tersebut, jumlah wisatawan berdatangan naik signifikan. Pengaruh media sosial sangat membantu memperkenalkan wisata puncak ke publik untuk menambah jumlah pengunjung.

Ia menuturkan, pada hari biasa setidaknya ada 130 wisatawan berkunjung. Berbeda dengan hari libur, bisa mencapai 400 sampai 500 wisatawan. Gunung Pinang yang belum satu tahun dipoles tersebut, mengalami peningkatan jumlah wisatawan. Tahun lalu, dia pesimistis jumlah wisatawan yang masuk hanya puluhan orang saja. Namun, pada 2017 jumlah pengunjung naik tiga kali lipat. “Ini tempat adanya di tengah-tengah antara Kota Serang dan Kota Cilegon. Sangat strategis buat wisatawan lokal,” katanya, Jumat (22/6/2018).

Selama liburan lebaran, ribuan wisatawan berkunjung ke sana. Wisatawan tersebut berkunjung untuk menikmati suasana alam di atas puncak Gunung Pinang. Biasanya, bersama keluarga dan teman, lalu menikmati wahana yang sudah disediakan.

Ia mencatat, sejak H+1 lebaran, jumlah pengunjung kian bertambah. Rata-rata, wisatawan yang datang sekitar 1.500- 1.700 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah, termasuk Kota Serang dan Kabupaten Serang. “Yang datang ini dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun dari luar kota. Jumlah pengunjung melonjak signifikan sejak lebaran kemarin,” ucapnya.

Staf Pelaksana BKPH Serang, Yani Sumaryani mengatakan, harga tiket masuk ke Gunung Pinang sangat terjangkau, yakni sebesar Rp 10.000 per orang. Ia menuturkan, setiap tahun terdapat penambahan wahana, agar menarik perhatian wisatawan. “Wahananya ada flying fox, tempat selfie, nanti ada penambahan wahana sepeda gantung. Gunung Pinang ini memang sejuk dan adem. Pengunjung juga betah,” ujarnya.

Pihaknya memiliki target pendapatan sebesar Rp 1,3 Miliar per tahun. Oleh sebab itu, dia bersama timnya harus mengeksplor dan mempromosikan objek wisata tersebut kepada masyarakat. Ia optimistis target bisa tercapai. Ia berharap, jumlah pengunjung semakin meningkat. (Dindin Hasanudin)*


Sekilas Info

Pengunjung Museum Situs Kepurbakalaan Turun Drastis

LENGANG. Begitulah suasana yang tergambar di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (MSKBL) di Kecamatan Kasemen, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *