Gunung Pasir Malang, Potensi Agrowisata di Perbatasan Cimarga-Sajira

PEMBANGUNAN infrastruktur jalan menuntut pengorbanan warga untuk merelakan sebagian tanahnya lengkap dengan berbagai tumbuhan di atasnya. Namun, hasil pembangunan berdampak pada terbukanya akses jalan yang dapat mendukung pengembangan destinasi wisata yang tersembunyi, salah satunya destinasi wisata Gunung Pasir Malang.

Pembangunan jalan batu di Kecamatan Cimarga misalnya, untuk membuka jalan itu warga harus merelakan sebagian besar pohon durian miliknya. Namun selain memudahkan akses jalan, penggalian pasir disekitar wilayah itu menciptakan wajah baru Ranca Bogo yang menambah pesona destinasi wisata Gunung Pasir Malang.

Perpaduan keindahan Gunung Pasir Malang dan Ranca Bogo dikisahkan secara detail oleh salah seorang penggiat Komunitas Sastra Balkon, Akin Baonk. Berikut tulisan lengkap Akin Baonk yang dikirimkan secara khusus untuk pembaca setia Kabar Banten.

Gunung Pasir Malang merupakan sebuah wilayah perbukitan, tingginya sekitar 1000 MDPL terletak di Kecamatan Cimarga yang berbatasan dengan Kecamatan Sajira. Akhir-akhir ini jadi perbincangan komunitas pecinta alam, karena suasana alam baik ketika matahari terbit maupun terbenam di sana sangat indah.

Semburat jingga matahari menembus kabut dihiasi lampu-lampu temaram rumah-rumah warga di desa sekitarnya membuat suasana seakan di sebuah negeri antah berantah. Berada di puncak Gunung Pasir Malang saat matahari mulai menampakkan sinarnya, seakan-akan saya sedang berdiri di antara langit jingga.

Untuk menikmati indahnya suasana saat matahari mulai bersinar di puncak Gunung Pasir Malang, hanya butuh 30 menit berjalan kaki dari tempat tinggal saya yang tepat berada di kaki Gunung Pasir Malang di Kampung Ciomas, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, ketika mengendarai sepeda motor bisa melewati jalan Desa Sindangsari.

Bersama dua rekan saya, Delon dan Enits, saya berangkat selepas Subuh dan tiba di puncak pukul 05.30 WIB. Pegunungan Halimun-Salak terlihat di kejauhan seakan masih tertidur berselimut kabut. Riak Sungai Cilaki sejuk membelah perbukitan.

Kala matahari mulai mewujudkan sosok aslinya, kita akan dibuat kagum dengan kebesaran Tuhan. Deretan perbukitan yang menghampar, kicauan burung-burung yang ikut merasakan kehangatan menjadi simfoni yang membawa kita terbang tinggi. Kabut-kabut yang menyelimuti Gunung Pasir Malang membuat kita merasa seperti berada di sebuah negeri di atas awan. Sejauh mata memandang hamparan pegunungan dibias cahaya jingga keemasan.

Setelah puas menikmati keindahan alam di puncak Gunung Pasir Malang, kami bergerak ke kawasan Ranca Bogo, sebuah jalan lebar yang masih berbatu menghubungi antara Desa Sindangsari di Kecamatan Sajira ke Desa Sindangwangi di Kecamatan Cimarga dan jika ingin ke arah Kecamatan Muncang bisa berbelok dari Kampung Bengkok.

Pembàngunan jalan tambang batu yang membelah Gunung Pasir Malang menjadi dua, seperti gerbang bukit, menciptakan kawasan Ranca Bogo yang sangat eksotik. Air hujan yang terperangkap menjadi danau kecil yang hijau bersih.

Kejernihan airnya menggambarkan kecantikannya. Kawasan ini sangat cocok untuk bermalam dan mendirikan tenda. Walaupun masih belum terkelola dengan baik, keelokan Gunung Pasir Malang dan Ranca Bogo sudah cukup menarik banyak wisatawan. Hal tersebut dibuktikan dengan sering terlihatnya beberapa tenda dan orang-orang yang berkemah di atas sana. Tempat indah bagi orang yang hobi berswafoto.

Jika ingin merasakan keramaian Gunung Pasir Malang, datanglah di waktu musim durian. Mulai dari anak-anak sampai orangtua silih berganti menjaga pohon-pohon durian yang banyak tumbuh di sana. Jika dikelola dengan baik untuk tujuan wisata Lebak, kawasan ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Ketika musim durian tiba, gemerlap lampu Kota Rangkasbitung kala malam hari juga bisa dinikmati dari atas sana sambil menikmati secangkir kopi dengan buah durian.

Bagi masyarakat sekitar, Gunung Pasir Malang bukan hanya sekadar kebun durian atau lahan pertanian, melainkan tempat terindah untuk liburan mudah sekaligus murah. Meski dampak dari pembangunan jalan batu menghilangkan sebagian besar pohon durian yang mereka punya, namun akses jadi lebih mudah sekaligus buat orang yang jarang naik gunung dan terciptanya wajah baru Ranca Bogo. Pandangan juga semakin luas terbuka membuat siapapun betah berlama-lama di puncak.

Spot yang akan melengkapi kepuasan ketika mendaki Pasir Malang adalah aliran Sungai Cilaki yang memisahkan beberapa kecamatan di Kabupaten Lebak. Gemericik air berkolaborasi dengan dengung suara dari kincir air yang mengairi persawahan warga Lebak Sanding, Desa Sindangsari.

Berkolaborasi dengan suara kelutruk kaleng yang terikat tali dengan orang-orang sawah. Bunyinya yang tertiup angin melengkapi irama orkestrasi alam raya. Sungguh pemandangan yang sudah jarang kita temui, terutama sistem perairan sawahnya yang masih mempertahankan budaya lokal ditengah perkembangan teknologi yang pesat. Jika ada pengelolaan yang lebih baik kawasan ini akan menjadi kawasan agrowisata yang luar bisa. Tentunya juga akan meningkatkan ekonomi masyarakat di wilayah Kecamatan Cimarga dan Sajira. Dua kecamatan yang dibatasi dengan alam yang begitu indah. (T.Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here