Gunakan Zat Berbahaya, Produksi Terasi di Kasemen Disetop

Petugas Balai Besar Badan Pengawasan Obat dan Makanan Serang saat melakukan operasi penindakan pabrik Terasi Udang Cap Bangau Terbang yang berlokasi di Lingkungan Sukadana I RT 004/003 Kelurahan Kasemen, Kecamatan Serang, Rabu (15/5/2019).*

AKTIVITAS produksi Terasi Udang Cap Bangau Terbang di Lingkungan Sukadana I RT 004/003, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Serang, harus dihentikan. Hal tersebut menyusul temuan zat berbahaya yang terkandung dalam penyedap rasa tersebut.

Selain itu, produk tersebut diketahui menggunakan izin edar fiktif. Operasi penindakan tersebut dilakukan Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Serang bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang serta Koordinasi dan Pengawasan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Korwas PPNS) Polda Banten, Rabu (15/5/2019).

Dalam operasi penindakan tersebut ditemukan 224 kardus yang masing-masing berisi 120 pcs siap didistribusikan. Kemudian bahan kemas, label dan alat-alat produksi lainnya. Termasuk pewarna yang diduga pewarna sintetis.

“Diduga pewarna sintetik atau yang mengandung rodhamin B. Kami amankan semua untuk diproses selanjutnya,” ujar Staff Bidang Penindakan Balai Besar POM Serang Puguh Jayanarto.

Ia menjelaskan, kode Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) yang tertera pada label terasi tersebut dipastikan fiktif atau tidak terdaftar. Sebab, seharusnya yang tercantum adalah Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bukan kode Depkes RI.

“Ini hasil pengawasan kami di lapangan, setelah melakukan sampling di pasar-pasar tradisional. Kemudian kami uji tes laboratorium dan ternyata positif mengandung rodhamin B. Untuk kode Depkes RI ini juga fiktif. Jadi, kalau industri rumahan seperti ini bukan Depkes, tapi PIRT,” ujarnya.

Selain itu, pabrik tersebut belum memenuhi kaidah atau tata cara produksi pangan yang baik karena kurangnya kebersihan dan sanitasi. Kemudian, dari sisi pekerja pun tidak ada yang menggunakan alat keselamatan. “Sehingga, banyak pelanggaran dan prosedur yang tidak sesuai dengan seharusnya,” tuturnya.

Ia mengatakan, berdasarkan pengakuan pemilik pabrik, mereka tidak mengetahui pewarna yang digunakan merupakan bahan pewarna yang dilarang. “Pabrik ini juga sudah cukup lama dan produknya telah lama beredar di pasaran. Pemilik juga mengaku tidak mengetahui kalau pewarna itu berbahaya,” ucapnya.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari pengawasan yang dilakukan BPOM Serang di sejumlah pasar tradisional yang ada di Kota Serang.

“Sebelumnya kami melakukan pengawasan dan melakukan uji lab. Dalam pengujian, produk tersebut mengandung pewarna sintetik yang berbahaya, yaitu rodhamin B. Kemudian, berdasarkan hasil pengawasan di lapangan selama ini, hasilnya hampir seratus persen positif,” katanya.

Sementara, Korwas PPNS Polda Banten Komisaris Polisi (Kompol) Jafar M Hamzah mengatakan, akan melakukan pendampingan mulai dari operasi tindakan sampai proses penyidikan oleh PPNS Balai Besar BPOM Banten.

“Kami berharap ini akan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Dan kami akan tetap mendampingi hingga proses ini berjalan dan tuntas,” katanya.

Langkah selanjutnya juga akan dilakukan penyidikan oleh PPNS BPOM. “Ini juga perlu ada permintaan keterangan, dan nanti akan dilakukan kembali pengujian-pengujian,” ujarnya.

Atas temuan tersebut, pihaknya menghentikan aktivitas produksi terasi tersebut hingga proses hukum selesai. “Kami juga mengimbau kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dan cerdas dalam memilih bahan makanan,” ucapnya. (Rizki Putri/RI)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here