Gula dan Manisnya

Oleh : H. Fitron Nur Ikhsan

”Tak akan bisa dipisahkan antara gula dengan manisnya”.

Sebagaimana konsep Allah SWT dalam Alquran, tak akan sebiji zarrah pun kebaikan yang luput dari reward-nya. Tak akan terlepas kejahatan dari balasannya. Semua tindakan atau amal budi memiliki keterikatan kuat dengan akibat. Hidup ini terasa seperti putaran gerigi yang menggesek gerigi yang kait mengait secara otomatis.

Sehingga satu putaran akan menggerakkan gerigi lainnya. Ada benturan yang berdentum keras lalu saling menghancurkan. Ada gesekan yang saling menajamkan, seperti mata pisau dan hamparan batu gerinda. Ada lumatan api yang saling membakar lalu menghanguskan. Tapi ada pula semburan api dan panasnya bara yang membuat sajian hidangan makanan menjadi lezat. Begitulah hidup, benturan membentuk takdir dan takdir mencipta budaya dan peradaban.

Tugas manusia tidak mencipta takdir. Kita hanya diminta berhenti di stasiun dan memilih tujuan lalu mengatur jadwal perjalanan. Kereta memang bisa saja tidak berhenti di stasiun. Gerbong bisa saja berhenti di tengah jalan karena mogok atau ada rel yang patah. Itu disebut kebetulan.

Tapi mereka yang menunggu di stasiun dan mengatur perjalanan adalah mereka yang hidup taat aturan dan disiplin dengan rukunnya. Sedikit saja yang hidup ditolong kebetulan. Sebagian besarnya mereka sukses menempuh rukun wajib dan bonus sunah yang mereka tambahkan. Sebagian besar gagal karena tidak taat aturan dan mengingkari rukun yang digariskan.

Jangan harapkan manis tapi tak menuang gulanya. Karena gula tak mungkin terpisah dengan manisnya. “Bagaimana dengan peribahasa, bersusah-susah dahulu bersenang kemudian” dan juga pepatah “Hidup manis harus menempuh pahitnya”? Tidak ada yang salah dengan dua peribahasa itu.

Karena baru ada manis setelah memanen tebu, atau memanjat aren untuk menyuling niranya. Susah payah adalah rute dan jarak tempuh menuju hasil. Tapi tidak ada yang bisa diharapkan jika yang kita tanam itu kelicikan, keputusasaan atau kemalasan. Karena kesuksesan tak mengenal semua kosa kata buruk itu.

Ada yang merasa beruntung bekerja alakadarnya, datang sesukanya, tanggung jawab rendah, “toh gaji setiap bulannya sama saja” gumamnya. Dia pikir rugi, jika bekerja seperti temannya yang tekun, disiplin dan pekerja keras. Karena dia selalu berpikir jika jabatan sama, untuk apa rajin, gaji juga sama saja.

Coba ingat-ingat, pernahkan kita kehilangan uang atau barang, membeli barang tidak awet dan cepat rusak dan tiba-tiba anggota keluarga ada yang sakit dan harus berobat? Begitu cara keadilan kemudian ditakar, jika kerja kita dibayar lebih tinggi dari yang seharusnya, karena kecurangan kita, maka pengurangan dari pendapatan kita bisa melalui musibah yang sepadan dengan kata “kurang keberkahan”. Jadi bukan soal banyaknya saja pendapatan, tapi seberapa keberkahan itu ada. Keberkahan setidaknya berasal dari proses kerja+ profesional= keberkahan.

Meski gaji sama antara si rajin dan si pemalas, faktor berkah kemudian menjelma dalam bentuk promosi naik jabatan, atau pengeluaran yang tidak melampaui pendapatan. Jangan pernah takut untuk menjadi ikhlas dan profesional dan jangan pernah merasa nyaman kerja malas dan curang. Karena faktor penambah sebagai wujud keberkahan akan banyak macamnya.

Demikian pula faktor tak berkah akan berwujud dalam bentuk musibah, bencana atau kerugian. Jadi jangan pernah memisahkan upaya dengan hasil, tindakan dengan balasan. Karena itu sama halnya kita ingin memisahkan gula dengan manisnya. Setiap tindakan menuai balasan, semua sikap pasti ada akibatnya. (Penulis, Masyarakat Pena Saija)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here