Jumat, 19 Oktober 2018
Perawat mengenakan baju steril sedang memeriksa pasien yang terkena wabah difteri di Ruang Isolasi Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara Serang, Jumat (15/12/2017). Kasus wabah difteri yang disebabkan bakteri corynebacterium diptheriae ini di Banten semakin mewabah dengan total, 91 kasus ditemukan di 8 kabupaten dan kota seluruh Banten.*

Gubernur Segera Keluarkan SK KLB, Pasien Difteri Tembus 100 Orang

SERANG, (KB).- Pengidap penyakit difteri di Provinsi Banten hingga Jumat 15 Desember 2017 tembus 100 orang. Dari jumlah tersebut, 27 orang di antaranya saat ini masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit. Sementara, saat ini surat keputusan (SK) kejadian luar biasa (KLB) difteri saat ini sudah diproses di Biro Hukum untuk ditandatangani Gubernur Banten Wahidin Halim.

“Kepala Dinkes Banten sudah mengeluarkan nota dinas untuk KLB. Draf SK-nya saat ini sedang diproses di Biro Hukum,” ujar Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan Dinkes Banten, drg. Rostina, dikonfirmasi kemarin. Ia mengungkapkan, 100 kasus difteri tersebut rinciannya untuk Kabupaten Tangerang 34 orang, Kabupaten Serang 15 orang, Kota Tangerang 14 orang, Kabupaten Pandeglang 12 orang, Kota Serang 11 orang, Kota Tangsel 10 orang, Kabupaten Lebak 3 orang, dan Kota Cilegon 1 orang. “Yang masih dirawat sampai saat ini ada 27 orang. Di RSU Banten 5 orang, RS Drajat Prawiranegara 5 orang, RSU Tangerang 12 orang, RS Annisa 2 orang, dan Hermina Bitung 3 orang,” ucapnya.

Kepala Dinkes Banten, Sigit Wardojo menjelaskan, Pemprov Banten menyiapkan draf SK KLB karena sudah 4 kabupaten/kota yang menyatakan status KLB difteri, yakni Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Tangsel. “Yang terakhir Kota Serang dan Kota Tangsel. Hari ini (kemarin) insya Allah ditandatangani Pak Gubernur. Drafnya sudah masuk ke Biro Hukum. Dengan KLB diharapkan teman-teman di tingkat FKTP (fasilitas kesehatan tingkat pertama) meningkatkan pelayanan,” kata Sigit, ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Meski sudah mengajukan KLB, pihaknya belum menentukan berapa kebutuhan dana untuk operasional pelaksanaan imunisasi ulang difteri yang bersumber dari dana tak terduga (DTT) tersebut.
“Masih dihitung. Yang penting nyatakan KLB dulu tingkat provinsi. Kalau kebutuhan dana kan itu menyertai. Karena DTT itu nanti bukan hanya untuk provinsi, tetapi kabupaten/kota juga minta,” tuturnya.

Ia menjelaskan, jumlah kasus difteri di Banten yang mencapai 100 tersebut merupakan data dari sejak Januari hingga Desember.  “Jadi jangan dikira kasus difteri itu semuanya dalam proses pengobatan. Ya banyak yang sudah sembuh, kan ini data dari Januari 2017. Yang dirawat paling tinggal beberapa saja,” ujarnya.

Ia mengatakan, ORI difteri nanti akan dilaksanakan dengan mengunjungi sekolah-sekolah. “Kalau sekarang kan masih sebatas imunisasi-imunisasi di posyandu dan puskesmas. Nanti Senin mulai ke SMA/SMK, sesuai kewenangan provinsi,” ucapnya. Selain itu, nantinya Dinkes akan melakukan survei random dengan mendatangi rumah-rumah warga. “Kami akan memastikan apakah sasaran usia 0 sampai 19 tahun sudah melakukan imunisasi difteri belum. Karena pasti ada yang di wilayahnya imunisasinya bolong-bolong,” tuturnya. (RI)***


Sekilas Info

Masih Jauh dari KHL, Buruh di Banten Tolak Besaran Kenaikan UMP

SERANG, (KB).- Buruh Banten yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Provinsi Banten menolak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *