Gubernur Banten Tugaskan Tim ke Belanda, Dokumen Sejarah Banten Siap Dibawa

SERANG, (KB).- Gubernur Banten Wahidin Halim menugaskan tim untuk meminta dokumen sejarah Banten yang tersimpan di Belanda. Rencananya, dokumen yang diminta akan disimpan di museum yang dibangun di Kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Mantan Wali Kota Tangerang dua periode ini menuturkan, revitalisasi Kawasan Banten Lama masih terus berjalan. Ke depan akan ada fasilitas tambahan yang dibangun, berupa sebuah convention hall atau balai pertemuan dengan museum di lantai atasnya.

“Bikin convention hall, bisa untuk 4.000 orang atasnya buat ruang tamu. Museum Syekh Nawawi di atasnya, pusat kajian Islam juga museum sejarah Sultan (Maulana) Hasanuddin,” tuturnya, akhir pekan kemarin.

Museum tersebut akan diisi dengan dokumen sejarah Banten yang tersimpan di Belanda. Karena itu, dia sedang mengutus tim untuk memintanya kepada instansi setempat.

“Saya tugaskan Pak Mufti Ali dan tiga orang teman. Saya berangkatkan dengan uang pribadi ke Belanda. Dokumen sejarah orang Banten harus dibawa ke sini. Budaya khas Banten mau saya angkat semua,” katanya.

Keputusan meminta dokumen sejarah Banten dari Belanda dianggap penting, mengingat tersiar informasi bahwa dokumen tersebut akan dibuang.

“Enam kontainer dokumennya sama Belanda mau dibuangi. Saya enggak setuju karena itu dokumen sejarah. Jadi kita lagi memikirkan bagaimana membawa enam kontainer (dokumen sejarah) ke sini,” ucapnya.

Setibanya di Banten, dokumen tersebut tak hanya akan disimpan di Museum Kawasan Banten Lama. Dokumen itu juga bisa dikaji dan dipublikasikan.

“Hasil mereka pulang akan diseminarkan juga. Nanti akan kita seminarkan, saya undang para rektor,” katanya.

Akademisi UIN Sultan Maulana Hasanudin Mufti Ali membenarkan, dirinya ditugaskan Gubernur Banten untuk meminta dokumen sejarah Banten dari Belanda. Dirinya telah bertolak ke Belanda sejak 7 sampai 17 Februari 2020.

“Sudah beres, berlangsung dari 7 sampai 17 Februari, bertiga (jumlah anggota tim yang diutus),” katanya.

Selama di Belanda, ia bersama dua anggota tim lain merekap dokumen-dokumen penting tentang Banten yang tersebar di lima tempat, terdiri atas Universitas Leiden, arsip nasional di Denhag, Museum Volkenkunde di Leiden, Museum Tropen Amsterdam dan Museum Rijks Amsterdam.

“Di lima lembaga, saya membuat rekapitulasi data-data Banten. Sudah selesai rekapnya dan rencananya mau diberikan ke Pak Gubernur pada hari Senin,” tuturnya.

Dokumen yang berhasil direkap meliputi manuskrip Banten 20.000 halaman dari 208 judul, ratusan ribu lembar arsip Banten, 300 peta, 4.000 foto, sketsa, buku atau kitab kuning Syekh Nawawi dan dokumen lain.

“Membuat rekapitulasi lalu diberikan ke gubernur untuk bahan pertimbangan untuk program pengumpulan data sejarah Banten di Belanda untuk bulan atau tahun berikutnya,” ujarnya.

Rekapitulasi dokumen sejarah Banten merupakan tahapan awal sebelum dibawa ke Banten. Selanjutnya akan dipetakan tenaga teknis apa saja yang perlu diterjunkan. Kemungkinan besar pengumpulan dokumen Banten akan berjalan kurang lebih selama 1,5 tahun.

“Perlu tenaga scaning, fotografi, berapa orang tim teknisnya. Setelah rekapitulasi data lengkap lalu Pak Gubernur kirim tim peneliti dan teknis untuk mengumpulkan bahan itu. Itu butuh waktu non stop satu tahun setengah,” tuturnya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here