Selasa, 20 Februari 2018

Gubernur Banten Jenguk Korban Ledakan Gudang Kembang Api

TANGERANG, (KB).- Gubernur Banten, Wahidin Halim menjenguk para korban kebakaran di pabrik petasan, di RSU Tangerang, Jumat (27/10/2017). Para korban tersebut masih di bawah umur. Dan dipekerjakan oleh pemilik pabrik itu. “Saya sangat prihatin atas kejadian ini,” ujar Wahidin.

Korban yang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang rata-rata berusia 15 – 18 tahun. Mereka mengalami luka bakar serius atas insiden tersebut. “Kami lakukan investigasi, banyak karyawan yang masih di bawah umur,” ucapnya. Menurut lelaki yang disapa WH ini, sang pemilik pabrik telah melanggar Undang – undang Ketenagakerjaan. Dan mesti dikenai sanksi.

“Apalagi mereka diberikan upah yang murah. Ini jelas – jelas melanggar”. Karyawan diberi upah sebesar Rp. 40.000 sehari. Bekerja dari pagi hingga sore hari. “Maka dari itu, hal yang semacam ini harus dilakukan pengawasan. Walau pun secara izin legal, tapi kami masih dalami lagi,” paparnya. 

WH mengaku kalau kinerja pemerintah belum sepenuhnya mampu bisa mengawasi dan mengevaluasi para pengusaha yang ada di Banten. “Pemerintah juga harus proaktif untuk mengawasi, apapun kelemahannya pemerintah juga harus jujur bahwa belum sepenuhnya mampu bisa mengawasi dan mengevaluasi para perusahaan di Banten,” ujarnya.

Ditanya soal perizinan pabrik petasan PT Panca Buana Cahaya Sukses, WH mengaku belum mendapat informasi atas hal tersebut. “Tapi saya belum dapat informasinya, kalau izin kabarnya sudah ada, bisa jadi karena pengusaha tidak mentaati peraturan-peraturan. Kita tidak akan panggil Bupati, tapi kita sudah komunikasi,” kata dia.

Setelah mengetahui hasil investigasi, WH juga akan menuntut pemilik gudang petasan tersebut. “Katanya pabrik petasan tidak ada alat pemadam kebakaran, pintu darurat juga tidak ada dan juga memproduksi bahan berbahaya yang mudah terbakar. Hal itu yang mengakibatkan fatal kaya gini. Sekarang polisi sedang menginvestigasi, hasil investigasi itu saya kira harus bisa kami tuntut,” paparnya.

Dia juga menuturkan bahwa, agar tidak terjadi peristiwa kebakaran hebat yang menewaskan 47 korban jiwa, dia akan memperketat perizinan para pengusaha. “Langkah selanjutnya saya akan memperketat izin, melakukan pengendalian dan kontrol terhadap perizinan dan kita juga minta tanggung jawab dari para pengusaha atas kejadian yang membahayakan ini,” imbuhnya.

Bantah Cuci Tangan

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang Jarnaji mengaku tidak tahu jumlah karyawan dan sistem bekerja di PT Panca Buana Cahaya Sukses, pabrik kembang api yang terbakar di Kosambi.” Itu bukan kewenangan kami, tapi Provinsi Banten,” ujarnya.

Jarnaji berkilah jika selama ini tidak melakukan pengawasan terhadap perusahaan dan tenaga kerja di pabrik kembang api dan petasan,  karena bukan kewenangan. Jarnaji mengatakan dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak menyalahkan pihak manapun. “Ini menjadi tanggung jawab bersama, meski kewenangan berbeda beda,” katanya.

Sampai saat ini, Jarnaji mengakui belum mendapatkan data soal latarbelakang perusahaan dan karyawan kembang api yang sudah beroperasi dua bulan itu.” Termasuk jumlah karyawan, cabangnya dimana saja dan soal adanya pekerja dibawah umur, itu kewenangan Provinsi,” kilahnya lagi. Saat ini, kata Jarnaji, kewenangan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang adalah memperjuangkan hak buruh sesuai dengan Undang-undang ketenagakerjaan.

“Kami akan mencari tahu apakah buruh disana tercover BPJS atau tidak, jika memang tercover kami akan bantu untuk mengurusnya”. Begitu juga dengan hak karyawan yang terluka dan meninggal, menurut Jarnaji, hak mereka mendapatkan layanan pengobatan, perawatan bahkan santunan, katanya.

Pabrik yang mempekerjakan 103 karyawan dan baru beroperasi dua bulan itu terbakar dan meledak. Sekitar 47 jiwa tewas dan 46 korban luka bakar serius di larikan ke RS Bun Kosambi, Mitra Keluarga, RSUD Kabupaten Tangerang dan RS Polri Kramat Jati, Jakarta.

RS Polri sendiri menampung 47 kantong jenazah korban. Polisi pun telah melakukan tes DNA seluruh korban, namun masih sulit melakukan identifikasi karena kurangnya data ante mortem (data fisik sebelum meninggal) dari keluarganya korban ledakan pabrik petasan itu. Pabrik petasan tersebut meledak pada Kamis pagi, (26/10/2017) sekitar pukul 8.30 WIB. Pabrik tersebut memiliki sekitar 103 karyawan dan baru beroperasi selama dua bulan. (DA)***


Sekilas Info

Hendak Beribadah ke Wihara, Wanita Dijambret dan Digorok

TANGERANG, (KB).- Seorang wanita gagal melaksanakan ibadah, karena lehernya mengalami luka goresan pisau dan barang berharga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *